Dijual buku preloved.
Kondisi:
Buku asli original, buku terawat, good quality.
✈ Karawang
WA 0881-1929-208
Sejarah Tuhan 98rb
Tuhan Maha Asyik 47rb
1984 52rb
Hujan Bulan Juni 68rb
#jualbuku#bukuasli#preloved#books
buat yang bingung atau penasaran gimana sih sebenernya rasanya jadi WNI, liat aja cuplikan video lomba cerdas cermat kemaren
juri adalah gambaran nyata kebanyakan pejabat kita, MC sebagai buzzer pemerintah, siswa SMAN 1 Sambas sebagai rakyat yang nggiatheli memanfaatkan kesusahan sesama rakyat demi keuntungan pribadi, siswa SMAN 1 Sanggau sebagai WNI yang cari aman dan adek² peserta lomba terutama dari SMAN 1 Pontianak adalah rakyat dengan status WNI yang terdzolimi
Disitu terlihat jelas kalo pejabat kita yang salah namun secara terang²an nyalahin org lain karena mereka ngerasa dirinya berkuasa, dan mereka semakin besar kepala karena bisa berkelit didukung oleh para buzzer yang mau gimanapun salahnya si pejabat ini mereka tetep dukung karena udah dibayar sama si pejabat
terus rakyatnya gimana? Yaa cuman bisa nerima dengan terpaksa karena ketika mereka protes pun malah di gaslighting & diserang sama buzzer peliharaan pemerintah ini
sementara sesama rakyat lain pun sebagian ada yg diam takut dijadiin sasaran, namun juga ada yang bukannya bantu sesama rakyat malah manfaatin moment demi keuntungan pribadi, hahahaha
miris...
Guys, Prof. Ferry Latuhihin baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling berani dan paling mengerikan yang pernah diucapkan seorang ekonom senior Indonesia secara publik dalam waktu belakangan ini.
Bukan soal angka.
Bukan soal rupiah.
Tapi soal arah sosial politik Indonesia yang menurut dia sedang bergerak ke titik yang sangat berbahaya.
"Masyarakat semakin hari semakin ditantang untuk memberontak."
Itu kalimatnya.
Verbatim.
Dan dia tidak ngomong itu sembarangan.
Ferry melihat akumulasi tekanan yang menurut dia sudah mencapai titik kritis: daya beli masyarakat turun, kelas menengah menyusut dari 57 juta menjadi 36 juta orang,
harga-harga naik, lapangan kerja informal mulai dibunuh oleh kebijakan yang tidak terukur, dan program-program pemerintah yang seharusnya membantu justru banyak yang memakan pasar yang sudah ada.
Di atas semua itu ada satu hal yang paling dia khawatirkan:
Presiden tidak mendapat gambaran yang jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi.
ABS
Asal Bapak Senang sebagai ancaman terbesar:
Ferry menyebut ini secara eksplisit.
Orang-orang di sekeliling Presiden Prabowo menurut dia sedang melakukan ABS memberikan angka yang menyenangkan,
membangun narasi yang membuat presiden merasa semuanya berjalan baik, sambil di dalam diam-diam memproteksi posisi mereka sendiri.
"Mereka mengarang semua cerita untuk memproteksi kedudukan mereka. Pak Presiden tidak dapat apa-apa dari situ."
Dan kemudian Ferry menyebut nama yang sangat historis: Brutus.
Julius Caesar dibunuh bukan oleh musuh dari luar. Dia dibunuh oleh orang-orang paling dekatnya.
Orang yang dipercayanya.
Orang yang dia beri posisi dan kekuasaan.
Ferry memperingatkan bahwa skenario yang sama sangat mungkin terjadi bukan dalam arti fisik, tapi dalam arti politik.
Ketika situasi memburuk dan rakyat marah orang-orang yang selama ini paling dekat dengan presiden dan paling banyak mengambil keuntungan akan menjadi yang paling cepat lompat kapal.
Dan yang jadi sasaran amarah publik tetap presidennya.
Kenapa ini bisa lebih cepat dari 1998:
Ferry membandingkan situasi sekarang dengan Soeharto jatuh di 1998.
Dan perbandingannya mengerikan.
Dulu, untuk memobilisasi massa butuh waktu.
Tidak ada handphone.
Tidak ada medsos.
TVRI cuma satu. Informasi menyebar lambat.
Api perlu waktu menjalar.
Sekarang?
Api yang dulu butuh 10 menit untuk menjalar sekarang hitungan detik.
Medsos mengubah segalanya.
Presiden sudah dibully.
Presiden sudah diolok-olok secara masif di platform digital.
Dan Ferry melihat ini bukan sekadar fenomena netizen ini indikator akumulasi ketidakpuasan yang sudah sangat dalam.
"Kita lihat bagaimana masyarakat semakin hari semakin ditantang untuk memberontak."
Pemaksaan MBG ke kampus dan momen 'waduh' yang viral:
Ferry menyebut satu kejadian yang menurutnya sangat simbolis. Pada Hari Buruh, seorang buruh ditanya di depan kamera: apakah setuju dengan MBG?
Jawabannya: tidak.
Dan responsnya viral dengan satu kata: "Waduh."
Ferry bilang itu bukan sekadar momen lucu.
Itu indikator.
Ketika program unggulan presiden ditolak oleh kelompok yang seharusnya paling diuntungkan dan responsnya ditertawakan oleh publik ada masalah yang sangat serius dengan cara program itu dikomunikasikan dan dijalankan.
Dan masalahnya diperparah oleh fakta bahwa MBG sekarang dipaksakan masuk ke kampus-kampus.
Ferry mempertanyakan: ini program apa sebenarnya? Dan jangan sampai Presiden Prabowo dibohongi soal ini.
Kebijakan ojol 7 juta orang terancam tanpa presiden tahu:
Kebijakan commission fee ojol dipotong dari 20% ke maksimal 8% menurut Ferry ini salah satu contoh paling nyata dari kebijakan yang muncul tanpa kalkulasi yang benar.
Grab dan Gojek tidak bisa beroperasi dengan margin 8%. Bahkan dengan margin 20% pun Gojek baru mulai untung Rp100 miliar setelah ratusan triliun bleeding bertahun-tahun. Dengan 8%, pilihan mereka cuma satu: tutup.
Kalau tutup 7 juta pengemudi ojol kehilangan penghasilan. Tujuh juta kepala keluarga. Kalikan 3-4 orang per keluarga puluhan juta orang terdampak.
Dan ini terjadi di saat yang paling salah: ketika gelombang PHK dari sektor manufaktur sedang mulai datang,
dan sektor informal adalah satu-satunya bantalan yang tersisa untuk menampung mereka yang tidak dapat tempat di sektor formal.
"Pada saat kita membutuhkan informal sektor untuk menampung gelombang PHK yang akan datang informal sektornya dibunuh."
Yang paling mengkhawatirkan Ferry:
Akumulasi dari semua ini harga minyak tinggi, fiskal reot, daya beli turun, kelas menengah menyusut, kebijakan yang membunuh sektor informal,
program yang tidak transparan, dan presiden yang dikelilingi ABS menciptakan kondisi di mana tekanan sosial bisa meledak tanpa sinyal yang jelas.
Di 1998 ada trigger yang jelas: baht Thailand jatuh, krisis Asia menyebar, Soeharto sudah 32 tahun berkuasa, akumulasi kebencian sudah sangat panjang.
Sekarang triggernya bisa jauh lebih kecil. Karena semuanya sudah digital. Karena informasi menyebar dalam hitungan detik. Karena kemarahan tidak butuh waktu lama untuk terorganisir.
"Ini bukan saya yang menganjurkan mereka rusuh. Saya juga tidak mau. Tapi inilah impactnya kalau tidak segera dibenahi."
Pesan terakhir Ferry untuk Presiden:
Sadari bahwa orang-orang yang bisa mengakses presiden paling mudah adalah orang-orang yang paling berbahaya bukan karena mereka musuh dari luar,
tapi karena mereka punya kepentingan sendiri yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan presiden dan rakyat.
Yang dibutuhkan bukan orang yang dianggap loyal karena selalu bilang bagus.
Yang dibutuhkan adalah orang yang berani bilang yang sebenarnya bahkan kalau itu tidak menyenangkan untuk didengar.
Karena satu-satunya cara presiden bisa mengambil keputusan yang tepat adalah kalau dia mendapat gambaran yang jujur tentang kondisi yang sebenarnya.
Bukan gambaran yang sudah difilter, dipoles, dan dirancang untuk membuat dia senang.
LKY itu di masa mudanya pernah menjadi sosialis. Udah itu jadi aktivis anti kolonialis
Latar belakangnya adalah pengacara beneran yang dididik di Inggris dan lulusan Cambridge.
Dia benar benar dididik dengan nilai2 dan etika Barat + Tionghoa dari keluarganya.
PAP sendiri juga aslinya partai kelas menengah terdidik di Singapura yang anti sama budaya korupsi/patron klien.
Makanya, meski Lee Kuan Yew berkuasa absolut dan tangan besi, dia tetap punya visi misi bagus, berpikiran teknokratis dan anti korupsi.
Makanya, Singapura bisa tetap maju salah satunya karena didukung dari faktor leadership LKY.
Walau yaa selalu ingat bahwa kemajuan Singapura ga 100% karena LKY (ada faktor lain juga seperti geografis dsb).
Dan Indonesia jangan latah meniru LKY. Belum tentu Indonesia bisa maju.
Bisa jadi yang ditiru kekuasaan absolutnya doang, tapi pengelolaannya hancur total dan koruptif.
Source Gambar: History Today
tbh...
kelas karyawan di PTS yang saya ajar, mahasiswanya makin ramai. hasil dari adik-adik kita yang gap year. lalu memutuskan kerja,
kemudian lanjut kuliah di kelas karyawan. kabar dari UT Bengkulu pun demikian. Mahasiswa mereka cenderung stabil, bahkan naik.
ekonomi lagi susah,
tapi semua org tetap pengen kuliah. karna sadar pendidikan benar2 sepenting itu.
karna itu, saya suka sekali ketika forum rektor PTS kemarin bersuara ke DPR RI, agar PTN dibatasi mahasiswanya.
ini.. agar PTS dapat mahasiswa banyak, lalu bs menekan biaya UKT-nya. akhirnya semua bisa kuliah di PTS, dg biaya terjangkau.
syukur2 dapat subsidi.