Aku mengira penelitian ini hanya akan membahas pertumbuhan Anak Krakatau pasca-tsunami 2018. Ternyata isinya jauh lebih kompleks.
Para peneliti mencoba merekonstruksi sejarah pertumbuhan gunung ini dari tahun 1927 hingga 2023 dengan memadukan berbagai data mulai dari peta lama, survei topografi, citra satelit, drone, hingga data bawah laut.
Temuannya cukup mencengangkan Anak Krakatau tumbuh sangat masif setelah runtuh di 2018. Bayangkan, dalam 19 hari pertama saja, laju pertumbuhannya setara dengan sekitar 10 tahun pertumbuhan historis. Hingga tahun 2023, sekitar 90% volume bagian gunung yang sempat hilang sudah terbentuk kembali.
Ada satu poin krusial yang menurutku sangat penting: volume yang kembali tidak berarti bentuknya kembali seperti semula. Meski volumenya sudah besar, kondisi geometrisnya belum sama. Kemiringan sektor barat daya yang dulunya mencapai 27°, pada 2023 masih berada di angka 7°.
Hal yang lebih menarik lagi penelitian ini mengungkap bahwa sisi barat daya Anak Krakatau sebenarnya sudah bergerak perlahan ke arah laut selama beberapa tahun sebelum keruntuhan 2018 terjadi.
Ini menunjukkan bahwa bencana tersebut bukanlah kejadian yang tiba-tiba muncul tanpa proses, melainkan hasil dari perubahan tubuh gunung yang sudah berlangsung sebelumnya hanya saja saat itu kita belum menyadari sinyalnya.
Melalui berbagai skenario, peneliti memproyeksikan bahwa jika laju pertumbuhan periode 2019–2023 terus berlanjut, morfologi gunung ini secara model bisa menyerupai bentuk sebelum 2018 pada sekitar tahun 2036. Tapi perlu dicatat, ini bukan berarti Anak Krakatau akan runtuh di tahun 2036, angka itu hanyalah hasil proyeksi berdasarkan asumsi pertumbuhan tertentu.
Inti dari penelitian ini bukan tentang kapan bencana berikutnya akan datang tapi bagaimana sebuah gunung memberikan sinyal lewat perubahan perlahan sebelum akhirnya memicu bencana besar.