Setelah puisi-puisi
menempuh kehilangan;
perpisahan berkali diaksarakan
tiap-tiap bait ialah keterasingan
kebisuan-kebisuan paling jauh
sedalam diam doa-doa yang rapuh
segalanya—barangkali tentang jatuh
tetapi, harapan masih dekat bersimpuh
#CelahAwan
Ahh kau bisa apa selain menyulam cuaca dan menyematkan pada burung gereja, agar terbang membenamkan musim-musim pada juni-juni dalam kepala. Lantas aku bisa apa?
@PemetikAksara *Raindu* tak akan pernah menjebak mu, ia turun dengan tabah lalu menghujam mu dengan berkah, seperti isyarat itu; "seperti mayat dan wabah, tak pernah bisa kita sembunyikan".
#puisiambyar
@nulisbuku "Hujan oh hujan,
Cepat lah reda!"
Teriak seorang pawang kepada awan,
Anak piatu nya memeluk tubuh nya sendiri di kolong jembatan, sambil menunggu sebungkus bulan untuk mengisi perut nya.
#puisimalam
@LenteraSajak Sajak ku berhenti; puan, malam ini akan larut di dalam kabut keheningan, sejak sukma mu padam dalam ingatan, sejak terang kembali ke peraduan.
#sajakmalam
@PemetikAksara Ku lihat senja layu di matamu, mati dipunggung mu, ketika kau perlihatkan harum matahari gugur di taman dengan sajak-sajak murahan.
#mainkata
@LenteraSajak Ku berulang kali mengeja sajak yang lepas dari matamu, ku berulang kali menerka "aku" Yang luput dari ingatanmu.
Dan setelah setiap senja usai, tak ada yang benar-benar selesai.
#LombaSajak