diaspora bugis-makassar emang gak ada obat:
merantau ke malaya jadi raja
merantau ke aceh jadi raja
merantau ke riau jadi raja
di Malaysia jadi PM
di Indonesia jadi presiden dan wakil presiden
The most underrated ethnicity Bugis-Makassar
Dear kampus-kampus,
Kalo emang close recruitment, ato emang udah ada calon dosen rekomendasi internal, mending gausah buka rekrutmen buat umum, deh.
Kita-kita yang apply ini juga keluar modal buat menuhin kebutuhan aplikasi. Ya surat sehat, ya surat keterangan, ya meterai. Terus akhirnya tetep gagal dengan hasil penilaian yang mengejutkan di ujung proses rekrutmen.
Janganlah buat kita-kita yang memang butuh kerjaan dengan dana terbatas ini jadi tumbal buat menuhin syarat administrasi kalian doang. Pengecut namanya.
Kalian sering bgt denger yg namanya penyakit"ASAM URAT" kan?
Sendi dan otot2 sakit dibilang asam urat. Ga bole makan ini atau itu
Padahal kebanyakan salah kaprah dan BUKAN BENERAN SAKIT ASAM URAT
Trus sakit apa?trus sakit asam urat yg beneran tu gmna? - UTAS mythbuster
Kita tuh seenggaknya kudu menguasai pertolongan pertama kasus2 ini:
1. Luka bakar
2. Perdarahan besar
3. Luka tusuk
4. Terkilir
5. Henti jantung
6. Serangan jantung
7. Demam
8. Memar
9. Perawatan luka
10. Fraktur (patah tulang)
11. Tersedak
Kalian sdh menguasai yg mana aja?๐
#Gempa Mag:3.6, 25-Mar-2024 20:21:39WIB, Lok:4.70LS, 120.36BT (32 km TimurLaut BONE-SULSEL), Kedlmn:10 Km #BMKG
Disclaimer:Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data
75% dari plafon BPJS untuk penyakit tersebut.
Misal
Untuk operasi patah tulang paha plafon BPJS = 10 jt rupiah.
Klo naik kelas ke VIP, trus biaya perawatan + operasi semua abisnya 50 jt rupiah, ttp yang dibayar tambahannya maksimal 75% dari 10 jt(plafon) = 7.5 jt rupiah SAJA
Emang boleh semegah ini Makassar punya stadion? Boleh dong.
Hari ini bertemu teman2 supporter bola di Makassar dan tanda tangan komitmen: Makassar akan punya Mattoangin International Stadium!
#AMINAjaDulu
Selamat jalan, dr. Mueen al Shurafa.
Kami memiliki beberapa kenangan manis bersama beliau dan keluarga. Saat beliau masih kuliah PPDS di Solo, beberapa kali kami melewatkan waktu bersama. Saling mengunjungi, saling silaturahmi.
Awal bertemu, beliau belum terlalu lancar berbahasa Indonesia. Saat kami ajak makan siang di sebuah restoran di Solo, beliau salah memilih menu: es kelapa muda, menjadi es kepala muda. Anak-anak saya tertawa saat itu.
Anak-anak kami saling mengenal.
"Kami tunggu kalian di Gaza," kata beliau.
Tapi, kalaupun suatu saat kami berkunjung ke Gaza, tentu sudah tak bisa bertemu. Beliau syahid kemarin, karena bom Israel membunuhnya.
Sebulan penuh, sebagai dokter anestesi, beliau sibuk di rumah sakit, menangani pasien yang membeludak. Masih ingat bagaimana suara beliau bergetar saat mengirim pesan suara beberapa hari yang lalu ke kami, "it's very bad, banyak mayat tanpa kepala, tubuh tanpa ekstremitas..."
Keluarga beliau, alhamdulillah selamat, saat ini mengungsi di Rafah. Sebulan mereka tak bertemu, dan tiba-tiba mendapat info: sang ayah telah tiada.
Wahai, Israel, wahai Amerika, wahai UK, Uni Eropa, Perancis... mau berapa lagi nyawa harus melayang?
#CeasefireNOW #StopGenocideInGaza