Inih bakal jadi pidio of de year..
Jubir Korp Garda Revolusi Islam (IRGC) Ibrahim Zulfiqori posting pidionya sketbotan sambil minum jus delima dengan background rudal balistik yang sedang diluncurken ke Israel
Ckckckck ente lakik banget kek ane..
Pejuang Gaza merilis video perjalanan assyahid Suleiman Abu Khdier selama pertempuran di kamp Al-Shati.
Terlihat dalam video bagaimana sosok pemuda tersebut tidak hanya mahir dalam menggunakan berbagai jenis senjata, namun juga memiliki keteguhan hati yang tidak tergoyahkan oleh dentuman bom yang dijatuhkan oleh zionis secara bertubi-tubi.
Keterampilan bergerak dalam formasi kecil (3-4 personil) yang sangat mengagumkan, menunjukkan bahwa para pejuang Gaza menguasai skill level pasukan elit.
Tidak terbesit sedikitpun rasa takut di wajahnya, kendati deru tembakan musuh bergemuruh di sekitarnya. Tak heran jika pasukan zionis merasa cemas ketika ditugaskan di wilayah Gaza, karena mereka seolah sedang digiring untuk berhadapan dengan musuh dengan kemampuan diatas rata-rata.
Semoga kelak kita dipertemukan kembali dalam kehidupan akhirat di tempat yang sama dengan para mujahid Palestina.
🤲
Fun fact tentang Ya'juj dan Ma'juj.
Dalam manuskrip kitab Tuhfatul Ajāib wa Thurfatul Gharāib tulisan Ibnu Atsir Al Jazariy w. 640 H disebutkan:
Yajuj Ma'juj sekarang dikurung di sebuah gunung bernama Qarnaba. Gunung ini bukan gunung biasa. Bentuknya tegak lurus, mustahil didaki, diselimuti salju yang tidak pernah mencair, dan kabut yang tidak pernah hilang.
Seolah-olah… ini memang diciptakan untuk menjadi “penjara alami”.
Yang lebih aneh lagi, di gunung itu disebutkan ada ular-ular raksasa dan makhluk melata besar. Hampir tidak ada manusia yang bisa selamat kalau mencoba naik.
Dari seribu orang, mungkin hanya satu yang kembali dan itu pun membawa cerita aneh:
Katanya, di balik gunung itu… ada api yang sangat besar.
Lalu bagaimana dengan Ya’juj dan Ma’juj sendiri?
Disebutkan bahwa mereka awalnya adalah dua saudara, yang kemudian berkembang menjadi bangsa besar. Mereka dikenal sering menyerang, merusak negeri-negeri, dan membinasakan manusia di sekitarnya.
Sampai akhirnya datang seorang raja besar: Dzulqarnain.
Tapi ada satu detail menarik yang jarang dibahas... Ternyata tidak semua dari mereka jahat.
Ada kelompok yang menolak kerusakan itu. Mereka bahkan mengadu kepada Dzulqarnain, menyatakan bahwa mereka tidak sepaham dengan kaum perusak tersebut. Dan Dzulqarnain… membela mereka.
Kelompok yang baik ini dibiarkan hidup di luar. Sedangkan yang merusak dikurung di balik tembok.
Deskripsi fisik kaum perusak ini juga tidak biasa: tubuh mereka pendek, wajah sangat bulat, telinga panjang menjuntai sampai bahu, dan suara mereka seperti siulan. Seolah-olah… bukan manusia seperti yang kita kenal.
Ekspedisi Salman At Tarjuman
Lalu bagian paling mencengangkan dari kisah ini adalah ekspedisi seorang utusan khalifah Abbasiyah bernama Salam at-Tarjuman.
Ia dikirim untuk melihat tembok itu secara langsung.
Perjalanannya bukan main-main: dua tahun lebih. Melewati wilayah berbau busuk selama berhari-hari, melintasi daerah kosong tanpa kehidupan selama sebulan penuh.
Sampai akhirnya… ia melihat tembok itu.
Sebuah pintu raksasa dari besi, sangat tinggi, dilapisi tembaga cair, dengan gembok dan kunci yang ukurannya luar biasa besar. Ini bukan sekadar tembok. Ini seperti benteng super yang dibangun dengan teknologi luar biasa pada zamannya.
Dan ada satu ritual yang terus dilakukan…
Setiap hari Jumat, para penjaga datang membawa palu besi besar, lalu memukul pintu itu hingga bumi bergetar.
Tujuannya?
Agar Ya’juj dan Ma’juj tahu… bahwa mereka masih dijaga. Setelah itu, para penjaga akan diam dan mendengarkan. Dan dari balik tembok… terdengar suara gemuruh seperti petir.
Di sekitar lokasi itu juga ditemukan sisa-sisa pembangunan: alat-alat besi, bejana besar, bahkan seperti “bata besi” yang sudah berkarat.
Seolah-olah ini adalah proyek konstruksi raksasa di masa lalu yang belum bisa kita bayangkan sepenuhnya hari ini.
Nah... pertanyaannya sekarang…
Apakah ini fakta sejarah? Trus kalau memang bener² ada, dimana tempatnya?