Ada yg bilang pada saya kalau Indonesia nggak bisa pakai demokrasi tapi butuh pemimpin semi otoriter agar bisa maju, seperti Cina dan Singapura katanya. Tepat kah asumsi itu?
kerugiannya sekitar 3M dalam waktu 8 bulan, belum setahun loh tapi udah banyak banget ruginya🫠
dia main dukun juga buat pisahin manda sama kenny, kata gua TOBAT. ternyata dia kemarin ketemu sma kenny di polsek tapi pas ketemu cuman diem seperti ayam sayur😂
Dari awal gue baca sce***e yg paling gue notice kampung Sindangbarang. Yg dipikiran gue selalu Baranangsiang terminal Bogor 🤣
Dan satu lagi scene yg gue tunggu, waktu janda2 kampung itu nonjok montir 😭🤣
#KennyAustinModeKomedi#PasienTetapDokterBagas
Penjelasan singkat alur operasional PLN yg bikin mereka boncos :
> beli bahan bakar (batu bara, gas, BBM) pake Dollar
> harganya ngikut pasar global
> sekarang kurs rupiah melemah dan all time low
> biaya operasional langsung ikut naik dong
> tapi jual listrik ke warga tarifnya kekunci kebijakan pemerintah
> ga bisa diatur sama PLN sendiri
> yang paling gampang dikurangi ya biaya operasional
> makanya banyak mati lampu wkwkw
Nah, tapi selain operasional, yg bikin PLN ketekan pelemahan rupiah itu karena :
> PLN punya utang masif dalam valuta asing
> dapet dalam bentuk obligasi global (global bond)
> nah, utang ini bentuknya dalam denominasi USD
> Setiap akhir periode, utang ini di-restate ke kurs rupiah terkini
> kalo Rupiah melemah
> nilai utang USD-nya membengkak
> selisihnya dicatat sebagai rugi kurs di laporan laba rugi.
Jadi, kalo pada ngerasa banyak mati lampu akhir-akhir ini. Mungkin PLN lagi boncos itu duitnya wkwkw
Di tengah wabah campak, tetap ada 1 diagnosis penyakit yang nggak boleh terlupakan, dan semua orangtua harus tahu: apa ini namanya. Karena > 70% anak < 2 tahun mengalaminya. Namanya adalah...
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
Ikut urun rembug soal IGRS boleh ya… Dulu pernah terlibat langsung dalam rapat-rapat inisiasi awal bersama Menkominfo saat kami bertugas di Kemdikbud.
Ada dua pendekatan melindungi anak di konten digital. Pertama, membuat lingkungan “steril” lewat sensor dan pemblokiran. Kedua, membangun “imunitas” pada anak serta keluarga. Pendekatan kekebalan jauh lebih berdampak dan berkelanjutan.
Rating game seharusnya menjadi alat bantu bagi orangtua untuk membangun kekebalan anak dgn melatihnya jadi mandiri dan cakap melindungi diri sendiri, bukan jadi instrumen sensor bagi pemerintah.
Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya bekerja sama erat dengan komunitas game. Lebih baik lagi, biarkan komunitas itu sendiri yang menjalankan sepenuhnya dengan difasilitasi pemerintah. Tak perlu berpretensi serba tahu apa yang terbaik bagi setiap segmen masyarakat. Punya wewenang tidak otomatis punya pengetahuan.
IGRS selayaknya jadi alat pemberdayaan, bukan pembatasan. 🙏
——
Sosialisasi ESRB di 2016, saat belum ada IGRS: https://t.co/KE3lc9tkB0