Sementara kita punya Presiden yang setiap pidatonya lebih sering jadi meme daripada bahan diskusi,
beberapa hari terakhir justru muncul dua sosok yang bikin orang betah mendengarkan sampai habis.
Tenang.
Berbasis data.
Kritiknya tajam.
Dan yang paling penting tahu apa yang sedang dibicarakan.
Perkenalkan:
- Media Wahyudi Askar (MBG Watch).
- Fatimah Azzahra (Wakil BEM UI)
👏👏👏👏👏
Analogi di balas Analogi, fakta dibalas fakta, hanya orang yg memiliki dapur MBG yg mati-matian belain proyek ini.
Kalau mau traktir orang lain itu minimal sudah punya penghasilan, kalau mau ada proyek MBG, minimal BUMN profit, jangan pakai uang hasil utang apalagi dari pajak.
Yang belum tau, dia ini dosen Fisipol UGM sekaligus direktur di lembaga riset Celios. Namanya Mas Media. S2 dan S3 dari The University of Manchester.
Well spoken, data bagus lengkap, penjelasan meyakinkan, ngomongnya dengan penuh percaya diri tajam, kritis dan selalu based on data..
Kemelekatan (attachment) menyebabkan penderitaan.
Kemelekatan pada harta,
pada jabatan, kekuasaan, gelar,
pada pasangan,
pada pola pikir, citra diri.
Kenapa kita melekat (attach) pada berbagai hal itu?
No Na kembali menjadi sorotan setelah tampil membawakan lagu "Rollerblade" di kanal musik THE FIRST TAKE. Penampilan tersebut menarik perhatian karena lagu yang dibawakan masih tergolong baru.
#NoNa#Rollerblade#TheFirstTake
You know how brilliant their idea to choose Bundaran HI sebagai tempat "aksi" mereka adalah? It’s because they know Bundaran HI adalah pusat titik keramaian Jakarta.
Choosing Bundaran HI means maximum exposure. Akses ke semua lapisan masyarakat itu potensial banget buat attract publik. From the corporate slaves stepping out of their Sudirman offices, people commuting, to the general public—everyone is literally there. It is the ultimate hub to get eyes on your movement.
Plus di Bundaran HI, segala jenis transportasi umum ada. It’s the literal heart of Jakarta's transit. So obviously, the traffic will be disrupted. But honestly? In modern activism, that disruption is a feature, not a bug. When the traffic gets a bit chaotic, people are forced to look. It creates that instant "Wait, what’s happening over there?" effect.
As someone who used to organize actions and protests too, let’s be real for a second: pemilihan Bundaran HI ini bukan lagi buat "protes" langsung ke pihak yang diprotes.
Why? Karena ya udah pasti gak bakal didengar. Pointing fingers directly at the institutions just ends up making you tired, drained, and honestly, males banget. It’s a dead end.
Makanya mereka pilih Bundaran HI. It’s no longer about yelling at a brick wall; it’s about controling the narrative and winning the public's attention. If the authorities won't listen, you make the entire city talk about it instead. And there’s no better stage for that than Bundaran HI.
Setiap ada yang posting selfie di timeline, otak gw otomatis menilai seberapa lelah si empunya foto akan hidup ini. Kelihatan di mata, kantung mata, kernyitan dahi, guratan keriputnya.
My brain is weird.
Untuk temen2 yg hobi lari dan finansialnya mepet (menengah) saranku pikirkan ulang ikut event lari luar kota.
Karena budget akomodasinya bisa dialihkan ke yg lain.
Dalam situasi uncertainty gini, utamakan cut cost pengeluaran ga penting.
Kalo finansialmu aman, ya monggo2 aja
Ini yg dikemukakan ama beberapa ahli ekonomi tempo hari.
Kenaikan barang itu terjadinya perlahan, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, baru bahan jadi.
Kenaikan bensin itu baru langkah awal, yg akan memberikan efek domino ke naiknya harga2 yg lain.
Yg tercekik itu yg finansialnya dan gajinya terbatas.