Laki-Laki:
"BESOK CARI TAMBAHAN DI MANA YAA...
Laki-laki kerja (masih tak cukup)
Laki-laki istirahat (katanya pemalas)
Laki-laki mengeluh (dibilang lemah)
Laki-laki sakit (dibilang manja)
Laki-laki wafat (makanya jaga kesehatan)
_Laki-laki selalu salah
KADO IDUL FITRI TERINDAH UNTUK UMMAT MUSLIM INDONESIA.
Kumandang takbir masih menggema di Jakarta, 1 Syawal 1386 H bertepatan dengan tanggal 12 Januari 1967 Eks Brigjen Soepardjo berhasil diringkus oleh Tim Kalong di sebuah rumah yang terletak di Kompleks Lanud Halim Perdanakusumah.
Sebelum tertangkap, Soepardjo sempat menduduki puncak klasemen buronan paling dicari di Indonesia. Bukan tanpa alasan Soepardjo mendapatkan nominasi tersebut, tak lain karena pria bernama lengkap Mustafa Syarief Soepardjo ini merupakan gembong pemberontak G30S/PKI.
Sejarah mencatat bahwa lelaki kelahiran 23 Maret 1923 ini terkenal licin dan mahir dalam penyamaran, sehingga berulang kali mampu mengecoh tim pemburu dari TNI-AD. Kemampuannya dalam mendeteksi bahaya dan pergerakan lawan diperolehnya dari pengalaman berdinas di Divisi Siliwangi, bakat militernya yang alamiah terasah di berbagai palagan selama berkobarnya perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Berkat ketangguhannya di medan perang, membuat Soepardjo didapuk sebagai Panglima Komando Tempur IV yang bertugas di garis depan kala berlangsungnya konfrontasi melawan Malaysia.
Menyandang pangkat Brigadir Jenderal, Soepardjo membawahi pasukan Kostrad di Kalimantan untuk menghadapi serdadu SAS Inggris demi menggagalkan pembentukan negara persemakmuran Malaysia.
Ditengah hiruk pikuk Dwikora yang dikumandangkan oleh Presiden Soekarno, pada tanggal 28 September 1965 Soepardjo dengan sengaja meninggalkan posnya tanpa berkoordinasi dengan pimpinan Kostrad.
Kepergiannya tidak lain akibat bujukan Syam Kamaruzaman yang merupakan ketua Biro Chusus PKI dan orang kepercayaan Aidit. Dengan arahan Aidit, Soepardjo yang berpangkat Brigjen dipaksa untuk menjadi wakil Letkol Untung Syamsuri demi memuluskan skenario kudeta G30S/PKI.
Setibanya di Jakarta, Soepardjo diminta untuk mengikuti arahan dari Letkol Untung Syamsuri, dengan alasan bahwa strategi mereka telah diatur sedemikian rupa sehingga dengan penuh optimisme Aidit meyakinkan Soepardjo untuk tidak melakukan perubahan rencana apapun.
Dalam hati kecil Soepardjo tentu muncul penolakan, tetapi karena dalam doktrin Komunis telah digariskan bahwa kepemimpinan sipil mengontrol penuh militer, maka jenderal yang cerdas itupun mendadak bodoh setelah terpapar oleh Komunisme.
Bahkan ketika misi penculikan terhadap Pahlawan Revolusi berjalan, Soepardjo sempat mengutarakan kegundahan hatinya terkait tidak adanya 'planning B' dalam rencana kudeta tersebut. Naluri militer Soepardjo yang kuat terpaksa harus dikesampingkan lantaran Aidit memerintahkan agar tidak ada lagi gerakan tambahan diluar rencana.
Waktu bergulir begitu cepat, skenario Aidit macet tatkala Presiden Soekarno yang hendak ditawan di istana negara ternyata berada di Halim. Pasukan Bima Sakti yang mengepung istana kontan tak lagi berguna.
Mayjen Soeharto mengambil alih komando TNI-AD lalu melancarkan serangan balik, kurang dari 24 jam kawasan Medan Merdeka berhasil dibersihkan dari anasir G30S/PKI.
Yon 350 kembali ke Kostrad, sehingga kekuatan G30S/PKI tinggal Yon 454 dan Milisi Sukarelawan Pemuda Rakyat yang secara keseluruhan telah ditarik menuju basis pertahanan mereka di Lubang Buaya.
Mayjen Soeharto meminta agar Presiden Soekarno meninggalkan Halim , kemudian Lanud Halim diambil alih oleh RPKAD. Pengejaran sisa-sisa komplotan G30S/PKI di lancarkan, serangan terfokus pada wilayah Lubang Buaya. Pasukan Milisi Sukarelawan Pemuda Rakyat tunggang langgang, sementara Yon 454 membuat pertahanan di Lubang Buaya.
Untuk menghindari jatuhnya korban, maka Kol Sarwo Edhie Wibowo menghadap Presiden Soekarno di istana Bogor. Dengan nota perintah dari Presiden maka Yon 454 diperintahkan untuk menyerah.
Peristiwa tersebut menandakan berakhirnya kudeta militer di Jakarta, Untung Syamsuri memutuskan untuk membubarkan pasukan untuk bersembunyi dari pengejaran TNI-AD.
Soepardjo terkejut mendengar keputusan Untung, Aidit juga memilih melarikan diri ke Jogjakarta.
Tepat waktu bukan berarti terburu-buru. Kalau sudah jalannya, yang diinginkan akan datang. Kalau bukan jalannya, ada hal yang lebih baik sedang dipersiapkan