☀️Anzu First Giveaway☀️
🎁 Shiny Miraidon / Koraidon (1 each)🎁
How to enter:
1. RT
2. Follow @an_zuCH
3. Follow https://t.co/gfdFV1EaWd
4. Reply with twitch screenshot and your choice of pokemon
Ends: 15 Oct
Winners picked from eligible entry
#PokemonGiveaway
Hi! If this is your first time seeing my profile, nice to meet you! I mainly stream in EN or JP, so if you want to learn the language together, feel free to drop by my stream.
I have degree in STEM (splatoon, tetris, elden ring, and mario cart)
Tidak menggigit dan ngerti bahasa indo juga ww ya kali masa pake deepL ngetweet pake bahasa Indo
((Not that I’m saying my EN or JP is very good, but hey you’ll never getting better unless you practise it over and over again))
Vtuber "Jualan Cinta", Apakah Etis?
"Vtuber kan emang jual jasa, salah sendiri fans yang baper."
"Agensi sama vtuber-nya yang keterlaluan, udah tau fans gampang kebawa perasaan, kok terus dipancing?"
Beberapa agensi vtuber, emang ngarahin talent-nya buat bikin konten yang deket ke ranah personal, ASMR, paid call, sampai NSFW art. Ini strategi bisnis yang emang dirancang buat manfaatin rasa deket yang otomatis muncul pas kita nonton orang yang sama tiap hari. Istilah kerennya adalah parasocial relationship, tentunya kalian tahu aku udah beberapa kali bahas ini.
Paid call misalnya, secara konsep sebenarnya jelas dari awal. Kita bayar buat ditemenin ngobrol beberapa menit sama karakter yang udah dibranding punya kepribadian tertentu, sering dibikin flirty atau posesif biar kita ngerasa spesial. Istilahnya dia mainin role "buaya", karakter yang emang didesain genit ke banyak orang sekaligus.
Kalau kita cari padanannya di dunia nyata, ini mirip banget sama bisnis host club atau hostess club yang terkenal di Jepang, dan sebenarnya bukan hal baru di dunia hiburan. Di sana, pelanggan bayar buat ditemenin ngobrol dan dapet perlakuan spesial layaknya pasangan sungguhan, lengkap sama obrolan mesra dan perhatian personal, padahal itu murni transaksi jasa.
Ada juga jasa sewa pacar yang sekarang makin populer, termasuk di Indonesia. Kita beneran bayar orang buat nemenin jalan, kencan, atau sekadar ngobrol dari hati ke hati biar nggak ngerasa kesepian, tanpa perlu mikirin komitmen asmara beneran. Paid call vtuber itu sebenarnya versi digital dari model bisnis yang sama persis, cuma dibungkus karakter 2D dan suara yang unik.
Oke, semua orang emang sama-sama ngerti ini cuma fantasi berbayar, tapi gimana kalau ada pelanggan yang dateng bukan buat seneng-seneng doang?
Katakanlah, klien ini beneran kesepian, dan interaksi berbayar itu jadi satu-satunya momen dia ngerasa didengerin?
Aku enggak bisa nutup mata dan bilang semua ini aman-aman aja. Agensi dan vtuber-nya jelas punya tanggung jawab buat jaga transparansi.
Paid call itu jasa hiburan, bukan komitmen romantis, dan batasan itu perlu dikomunikasikan jelas sejak awal, bukan dibiarkan abu-abu.
Tapi di sisi lain, tanggung jawab jaga batas itu juga ada di fans sendiri. Kita yang bayar buat servis itu tau dari awal kalau kita cuma satu dari ratusan bahkan ribuan orang yang dapet perlakuan serupa.
Ngerasa "dikhianati" pas tau vtuber-nya punya pasangan di dunia nyata itu logikanya aneh, sama kayak ngerasa dikhianati sama aktor Hollywood favorit kita karena dia nikah sama orang lain, padahal kita cuma nonton film-filmnya doang.
Nah, ada satu pola yang menurutku lebih dalam dari sekadar drama cemburu ini, dan ini yang bikin aku pengen nulis artikel ini. Sebagian penonton yang udah nonton bertahun-tahun, pelan-pelan mulai nganggep vtuber favoritnya sebagai tempat curhat, bukan cuma buat hiburan ringan. Ada yang sampai cerita masalah pribadi paling berat yang mereka alami di dunia nyata, dan berharap vtubernya bisa ngasih respons yang pas.
Masalahnya, vtuber bukan psikolog. Mereka nggak dilatih buat nanganin cerita seberat itu, dan posisi mereka jadi serba salah, direspons formal kesannya dingin, direspons hangat malah makin nguatin ekspektasi kalau hubungan ini emang personal.
Kebutuhan buat didengerin itu manusiawi banget, wajar kalau kita pengen cerita ke seseorang. Cuma nge-drop cerita seberat itu ke orang yang cuma kenal kita lewat layar, terus berharap dia jadi solusinya, itu ngasih beban yang nggak adil buat dua belah pihak, bukan salah si penonton yang emang lagi butuh didengerin.
Aku sendiri nggak nge-branding persona vtuber aku, ke arah konten kayak gitu. Fokusku emang lebih ke bangun bisnis entertainment jangka panjang, bikin cerita, kolaborasi produksi, sampai berbagi template buat temen-teman vtuber lain. Tapi drama kayak gini keulang terus tiap beberapa bulan di kancah vtuber, dan bisa bikin viewers maupun sesama vtuber jadi jengah.
Jadi menurutku, biar keadaan bisa lebih tenang, ada beberapa hal yang perlu dipegang bareng-bareng.
Agensi dan vtuber yang emang jualan jasa dekat kayak paid call, sebaiknya jujur dari awal soal batasnya, jadi jelas kalau ini cuma hiburan, bukan komitmen beneran.
Masalah ga akan muncul selama semua pihak paham posisinya masing-masing. Batasan yang ditetapkan oleh agensi bisa jadi garis yang jelas antara etis atau tidaknya interaksi fans dan vtubernya.
Vtuber-nya juga perlu jaga boundaries. Stay in-character selama ngasih fan service, gak usah bawa-bawa IRL dan urusan pribadi. Jangan sampai viewernya malah jadi ngerasa pacaran sama pilotnya.
Fans juga perlu belajar mengontrol diri, jangan terlalu bawa perasaan, apalagi halu merasa kenal IRL sama vtubernya. Tolong pisahkan antara persona vtuber dengan pilotnya.
Buat yang lagi bener-bener butuh didengerin soal masalah berat, carilah orang atau layanan yang emang dirancang buat itu, teman deket, keluarga, atau psikolog beneran.
Bukan berarti vtuber nggak peduli, tapi itu emang bukan peran yang mereka ambil, dan nggak adil juga buat mereka dipaksa jadi itu. Terkecuali v-psychologist yang emang buka jasa konsultasi online tentunya.
Semoga ke depannya, kita semua, baik yang di depan maupun yang di belakang layar, bisa saling jaga batas dengan lebih sehat.
If you DM me with it instantly about trying to promote me to purchase your art, I’ll instantly block you.
If I need art, I will come to you. I do not need these unsolicited art advertisements.
I WILL NEVER BUY ART FROM SOMEONE WHO HAS TO ASK ME TO BUY THEIR ART PERSONALLY!
I will purchase an artwork that I see from public portfolios or if I made a post asking for portfolios from people. Stop mooching in my inbox!
@KalanaraDika Not to argue with you, but just want to add some point: true both parties should be resposible, but we shouldn’t expect what the other party will behave. That’s why as a talent we do have a bigger portion of responsibility in terms of setting boundaries
@KalanaraDika Agreed on most part but you cannot expect all fans not to catch a feeling, even if you’re paid to do so.
Watch the video again, if your oshi ask your LINE number, would you be able to hold yourself not to bend over? Maybe you can, but can everyone else do so?