anaktengah adalah pelengkap yang tak pernah meminta sorotan, namun diam-diam menjadi penyeimbang. ia mengajarkan kita bahwa cinta tak harus selalu terlihat, dan pengorbanan tidak selalu diumumkan.
di setiap keluarga, ada satu anak yang berdiri di antara kakak dan adik. ia bukan yang pertama dicontohkan, bukan pula yang terakhir dimanja. ia tumbuh di ruang tengah, tempat ia belajar memahami, mendengar, dan mengalah lebih sering dari yang diceritakan.
aku telah kehilangan terlalu banyak musim untuk memaksa semesta berlaku adil. kini yang ku pinta hanya satu; semoga jika semua luka telah menunaikan tugasnya, aku berharap masih ada sepotong fajar yang bersedia memanggil namaku pulang.
aku hanya berharap semesta dapat berbelas kasih; membawaku pergi dari riuhnya nestapa, tanpa memaksaku menykakiti diri sendiri.
sebab barangkali duka bukan datang untuk menamatkan kisah, melainkan mengajarkan seseorang bagaimana cara berjalan meskipun langkahnya retak.
Seorang pria di atas pundaknya
Hidup jutaan tanggung jawab,
Di punggungnya tumbuh puluhan hektar luka dan air mata.
Dia memang bukan laki-laki yang baik, terlepas dari segala kekurangannya,
setiap kali kamu naik level, selalu ada yang hilang.
entah habitat, seseorang, atau versi dirimu yang lama.
sampai akhirnya kamu sadar, itu bukan kehilangan, melainkan kamu sedang dalam proses berkembang.
dan, itu baik.
ya Allah, titipkan kami pada pekerjaan yang baik. pekerjaan yang tidak menguras hati sejak pagi, ringan bebannya, kecil mudaratnya, besar rezekinya, dan luas keberkahannya. tempat kerja yang nyaman, tidak panas, membuat kami bisa duduk dengan tenang, punya tempat yang layak,
ya Allah, sejak kecil aku telah akrab dengan rasa kalah. jika hari ini belum juga giliranku, maka tunjukkan bagian mana dari diriku yang masih harus kubenahi. jangan izinkan aku berhenti ditengah jalan. genggam tanganku, bimbing setiap langkah yang kutapaki,
saya pernah bunuh tanaman karena nyiram air berlebihan. lucunya, dia mati bukan karena kekurangan. and that's how i learned that people can, too.
iya bener, kadang kita kehilangan bukan karena kita kekurangan, justru karena kita kelebihan.
belakangan ini aku mulai mengerti, ternyata terlalu dangkal apabila seluruh perjalanan bertumbuh ini hanya dimaknai sebagai persiapan untuk menjadi seseorang bagi orang lain di masa depan. sebab semakin banyak yang kulewati,
dan jika suatu hari semua yang kupelajari akhirnya memampukanku menjalani peran sebagai manusia yang mampu mengasihi tanpa kehilangan dirinya, mendidik tanpa merasa paling tahu, menemani tanpa merasa harus menyelamatkan, menguatkan tanpa lupa bahwa dirinya juga manusia,