Artificial intelligences do not undergo experiences, do not possess a body, do not feel joy or pain, do not mature through relationships, and do not know from within what love, work, friendship or responsibility mean. Nor do they have a moral conscience, since they do not judge good and evil, grasp the ultimate meaning of situations, or bear responsibility for consequences. They may imitate or even simulate, but they do not understand what they produce, for they lack the affective, relational, and spiritual perspective through which human beings grow in wisdom. #MagnificaHumanitas
Hey White House, please remove the Tropic Thunder clip. We never gave you permission and have no interest in being a part of your propaganda machine. War is not a movie.
Dih... pada numpang senang ada minoritas (yang kebetulan Muslim) menang pemilu di negara orang, tapi ga bakalan rela ada minoritas jadi pemimpin di negara sendiri.
Ga usah ikut-ikutan, Pak. Zohran pro-LGBT berat. Situ senewen nanti...
Rakyat nggak boleh khilaf, karena nanti dibilangnya kelompok anarki.
Nah, tapi tapi polisi boleh khilaf nih. Naik pangkat pula kalau khilaf.
Udah kebalik-balik Pak Pres pola pikirnya.
Pemerintah berencana mengalokasikan anggaran pendidikan 'terbesar dalam sejarah', Rp757,8 triliun dalam Rancangan APBN 2026.
Tapi anggaran pendidikan ini belum mengarah pada kesejahteraan guru, menurut Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). https://t.co/NlKrO7coc4
1) Dalam kurun waktu 5 tahun sejak diluluskan, ternyata ijazahnya tidak laku di dunia kerja—dan saya terbelit hutang—boleh tidak saya menuntut penyedia jasa pendidikannya? — atau memang tujuan pendidikan itu hanya ilmunya, dan oleh karenanya ijazah itu pun sebenarnya tidak diperlukan?
2) Apakah student loan itu dikemudian hari dijamin oleh pemerintah, dan olehnya akan tercipta insentif bagi penyelenggara jasa pendidikan untuk menaikkan harga akibat adanya jaminan pemasukan.
Memang akses pendidikan itu hal yang pelik dan penting, dan saya sungguh menghargai wakil rakyat yang mencoba mencari solusi. Namun perlu kita pertanyakan kembali, bagi seorang yang Pancasilais, pendidikan itu hak atau komoditas?
Gila gak tuh, 32 tahun orang tua kita ditindas oleh rezim Suharto dan sekarang kita akan langsung mengalaminya seperti ini?
Kita belajar dari Sejarah gak, sih?