Catatan – Mengenai "أسكت" (askata) dan "سكّت" (sakkata):
Beberapa reply dari teman-teman yang mempelajari nahwu dan sharaf secara mendalam, yang memberikan klarifikasi tentang kurang pasnya penjelasan saya di twit awal, saya ucapkan terima kasih untuk masukannya—karena saya bisa mengulang kembali materi yang telah dipelajari.
Seperti yang saya paparkan di twit kedua (dan pada beberapa reply), bahwa pada dasarnya logo Sukatani ditulis demikian, ada kecenderungan bahwa ini merupakan wordplay, yang lebih mengincar substansi yang senada dengan musik yang mereka usung. Hal ini tentu perlu penjelasan langsung dari Sukatani jika ingin ditilik validitasnya, mengingat rangkaian twit ini hanya argumentasi berdasarkan kesesuaian dengan substansi makna kata berbahasa Arab pada logonya.
Masuk ke penjelasan struktur kata, kata "سَكَتَ" (sakata) secara original bersifat intransitif, dan jika ingin membentuknya menjadi transitif, maka perlu berstruktur menjadi "أسكت" (askata) atau "سكّت" (sakkata)—sehingga jika ingin mendapat pemaknaan "mereka (2 entitas) membungkamku", yang tepat adalah antara "أسكتني" (askatānī) atau "سكّتاني" (sakkatānī).
Secara maknawi, "أسكتني" (askatānī) bermakna "mereka membungkamku" tetapi terjadi secara langsung tanpa perlu usaha berkepanjangan, sementara "سكّتاني" (sakkatānī) juga "mereka membungkamku", tetapi dilakukan secara berulang/berproses dan sistematis.
Jadi, saran buat Sukatani kalau personelnya ada yang baca ini: logonya bisa ditambahin tasydid kecil di atas/dekat huruf kaf-nya, biar pesannya secara substansial semakin nyampe: represivitas aparat dan pemerintah yang berulang dan sistematis—membuatku bungkam.
Melihat logonya Sukatani, itu sebetulnya tulisan Arab dari nama band-nya sendiri. Tetapi, saya tergelitik dengan aspek kebahasaan dari "سكتاني", yang jadi logo band-nya.
Kata tersebut memang bisa dibaca sebagai "sukatānī" alias nama band-nya sendiri, tetapi kata itu juga bisa dibaca sebagai "sakatānī", yang artinya "they (2 people/entities) silenced me", atau "mereka (2 entitas) membungkam saya".
Kebetulan sekali memang yang membungkam demokrasi kita saat ini ada 2 entitas—polisi dan pemerintah.