Ternyata,
bukan cuma selesai di Harus Nemu pasangan yang sama2 suka kerja keras..
tapi, harus berhasil juga nyari solusi ,harus gimana ketika dua duanya lagi sibuk sama kerjaan, tp ttp mau terkoneksi dgn intens..
harus juga ketemu pola nya, biar bisa ttp jd ‘obat’ ketika Salah satu atau malah dua duanya Burnout sama kerjaan..
Banyak hal yg harus sama2 di lewatin dgn ttp pegangan erat untuk pasangan yg sama2 lagi ngejar mimpi atau lagi sekedar survive dgn kesibukan masing2, di tambah ldr..
godaan yg bikin retak hubungan itu kebanyakan bukan dari luar tp dr dalam diri sendiri, Sensitif, ego, bahkan feels ‘kangen nya aja imbasnya bisa bikin semua salah ..
Sejauh ini semua hal sekecil apapun yg terjadi dlm hubungan aku pelajari untuk obati semua retak2 kemarin,
karna menurutku 2 orang dalam love relationship itu seperti lagi ngebentuk lego,
tdk ada part part yg sama yg bakal saling cocok untuk bikin satu bangunan yg solid dan terpola, justru part2 yg berbeda itu yg harus kita satukan untuk hasilin bangunan / pola sempurna saling membentuk ❤️
After getting married, there will always be someone prettier than your wife, someone richer than your husband, that's why you better marry your spouse for their soul. So you'll realize that no one on earth could ever be them. So you'll stop searching and stay beside them.
Saya pernah ada di posisi kalo belum jam 1 malem, belum ngantuk. Tidur paling cepet jam 2. Sebagai gantinya, bisa tidur pagi sampe siang.
Akhirnya siklusnya muter kayak gitu terus. Setelah refleksi, saya ngerasa kebiasaan2 buruk itu perlu diubah. Ditambah, saya harus punya kebiasaan yg baru.
Saya pun bertekad utk gak tidur pagi. Tercetus challenge #MenjagaPagi. Tujuannya simpel, biar pagi gak tidur. Ternyata dari situ, saya jadi kepikiran aktivitas yg sebelumnya gak terbayangkan.
Saya mulai memenej aktivitas, dari pagi sampe malem. Hidup saya bener2 ngerasa lebih tertata. Pagi ngerasa lebih produktif, malem ngerasa capek dan jadi ngantuk. Kuncinya? Memenangkan pagi hari.
Dari situ, saya nge-set maks tidur jam 12 malem. Dan bangun 30 menit sebelum subuh. Alhamdulillahnya, habbit itu bisa kejaga sampe sekarang. Saya percaya, kebiasaan baik akan menghidupkan kebiasaan baik lainnya.
Lo udah baca buku Atomic Habits? Atau minimal udah save rangkumannya di Instagram 3 kali?
Sekarang jawab jujur: kebiasaan lo berubah gak setelah itu?
Kebanyakan orang salah ngerti poin utama buku ini. James Clear sendiri ngejelasin di beberapa interview yang jauh lebih blak-blakan dari bukunya.
#NasihatPernikahan
Akhir2 ini, saya lagi nyari sebanyak-banyaknya ilmu tentang pernikahan. Nemu video ini, Bu Rani Anggraini Dewi, seorang konselor keluarga.
Berikut catatannya:
"Harusnya suami-istri itu adalah pilot dan co-pilot. Mereka duduknya berdampingan. Co-pilot gak duduk di belakang, tapi di samping pilot. Makanya perlu tau tujuannya juga, mau dibawa ke mana keluarga"
"Pernikahan yg sehat harus didasari oleh kesadaran dari dalam diri (kebutuhan biologis, emosional, dan spiritual), bukan sekadar tekanan lingkungan atau ekspektasi orang lain"
"Pernikahan seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh bersama. Pasangan harus saling support agar potensi diri tetap bisa berkembang setelah menikah"
Semoga yang baca ini, diberi jalan keluar, untuk masalah kecil maupun besar ruwet sulit. Yang sepertinya sudah mentok. Diberi secercah cahaya. Untuk bisa diselesaikan. Amin.
Semakin dewasa, kamu mulai sering ngobrol sama versi dirimu yang dulu.
“Kenapa dulu ambil keputusan itu?”
“Kenapa dulu bertahan selama itu?”
“Kenapa dulu sekeras itu sama diri sendiri?”
Dan pelan-pelan kamu sadar:kamu nggak sebodoh itu kamu cuma belum tahu lebih banyak.
Kamu nggak selemah itu kamu cuma lagi berusaha bertahan dengan cara yang kamu bisa.
Kamu nggak salah sepenuhnya kamu cuma mengambil pilihan dari versi dirimu di saat itu.
Ini bukan soal menyesal.
Ini soal memahami.
Karena semakin kamu mengerti dirimu yang dulu,semakin kamu bisa menerima dirimu yang sekarang.
Relate?
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
umur 21 gue disuruh tanggung utang ratusan juta, ngadepin debt collector sendirian, dipaksa ttd diatas materai buat jd penanggung jwb atas utang tsb dan cicil tiap bulan.
tiap telat bayar diancem bakal diviralin video pas gue ttd surat itu, dulu takut BANGET... padahal itu semua bukan ulah gue, gue cuma bagian disuruh tanggung jawab aja. rasanya tiap hari cuma mau mati, ga punya 'bapak', data gue dipake pinjol, bayar kuliah, bayar semua kebutuhan rumah. tapi... emang Allah maha besar, entah darimana itu semua bisa gue lewatin dan sekarang masih hidup.
Stress kerja itu normal. Yang ga normal itu ngebuat stress bertumpuk menjadi burnout dan ngaruh ke performance kerja.
Aku udah 6 tahun kerja jadi bakal aku share beberapa tips yang work diaku.
1. Find the root cause dulu. Coba tanya ke diri sendiri, "Aku stress karena kerjaan kebanyakan? Atau karena ekspektasi ga jelas? Atau karena environment-nya toxic?" Soalnya beda penyebabnya, beda pula solusi yang ditawarkan. Ini harus duluan sebelum ngapa-ngapain.
2. Brain dump setiap hari. Tulis semua yang ada di kepala ke notes. Kerjaan, meeting, deadline, bahkan uneg-uneg. Begitu keluar dari kepala, beban langsung berkurang. Anggap aja jurnaling versi berantakan.
3. Dokumentasi everything. Setiap dapet task, tulis: apa yang harus dikerjain, context-nya apa, deadline kapan, butuh apa, siapa yang minta.
Sering kita stress karena ga tau sebenernya lagi ngerjain apa. Begitu ketulis, jadi lebih jelas. Sebenarnya, ini sekaligus jadi proof saat ada yang tanya kamu lagi kerja atau nggak.
4. Set boundaries. Ke rekan kerja, bos, siapapun. Kalau kerjaan udah banyak dan ga bisa ambil lagi, ya bilang. Kasih proof kenapa kerjaan udah banyak. Kasih proof kenapa task ini ga bakal bisa dikerjain sekarang.
5. Ngobrol sama orang. Saranku ya ke psikolog. BPJS gratis, atau kalau ada budget bisa ke psikolog online. Kalau belum bisa? Ceritakan ke temen deket, keluarga, atau pacar. Stress itu makin berat kalau dipendem sendiri.
6. Kontrol yang bisa dikontrol. Fokus ke circle of control, bukan circle of concern. Kalau ga bisa kamu kontrol, ya udah biarin aja. Let go.
Cari kerja emang lagi sulit. Kalau lingkungan toxic, manage stress-nya dulu biar masih ada energi buat apply dan pindah. Tapi jangan keluar kerjaan kalau ga ada duit. Resiko gede. Lebih ga enak stress ga ada duit daripada stress karena kerjaan yang kita masih ada pemasukan.
Itu kenapa seseorang makin menarik kalo punya SKILL & VALUE ✨
Terkenal.
Pinter masak.
Jago nyanyi.
Bisa bahasa asing.
Public speaking oke.
Punya leadership.
Jago bikin kopi.
Wawasan luas.
Pendidikan bagus.
Pinter desain.
Jago fotografi.
Dan masih banyak lagi.
Punya 1-2 aja udah bikin kita lebih TERLIHAT ✨
Kalo enggak punya, yaa kita hanya abang abang kakak kakak yang lewat 1 detik di film 100 menit.
just in case no one tells you today…..you’re worth having around. you’re worth committing to. you’re worth appreciating. you’re worth loving… you're worth reassuring. you're worth risking it all for. you're worth everything...
They said it's getting dark and darker, then finally light comes after the darkest. But do we really know when the dark is already darkest? It can always go worse. And we indeed will never know.
Yes. Ga cuma pekerjaan saat ini, tapi orang2 yg bersama kita saat ini, tempat kita berada saat ini, semua terhubung begitu presisi sehingga kejadian demi kejadian bisa terjadi.
Begitulah pengejawantahan takdir.
Dan apa yg menghubungkan itu semua? Jawabannya adalah waktu.
punya pasangan yang tepat tuh kayak nemu ruang yang beda,dia open minded, obrolannya nggak cuma seru tapi juga meaningful, kamu belajar tanpa ngerasa di-judge,cara mikirnya luas, ngomongnya berbobot, tanpa sok ngajarin tapi somehow ngebimbing,dia emotionally aware, well mannered, cara bawa dirinya classy,dan yang bikin amazed,dia ngajak kamu buat grow bareng
🫶🏿🤍