A Writer's Odyssey is a breathtaking Chinese fantasy epic that delivers nonstop adrenaline through jawdropping CGI battles. A lone warriorโs fierce clash with a towering blue demon across mystical realms showcases stunning visuals and high stakes action that rival Hollywood blockbusters. Perfect from start to finish.
Ini rahasia sisi gelap marketing yang benar-benar tidak pernah gagal.
Sederhana tapi sangat efektif:
1. Jual ke cewek โ Kecantikan
2. Jual ke cowok โ Nafsu
3. Jual ke orang tua โ Ketenangan
4. Jual ke anak-anak โ Mimpi
5. Jual ke orang kaya โ Keamanan
6. Jual ke orang miskin โ Harapan
7. Jual ke orang lanjut usia โ Masa Muda
8. Jual ke anak muda โ Status
9. Jual ke yang kesepian โ Rasa Diterima
10. Jual ke yang sakit โ Keajaiban
11. Jual ke yang sehat โ Ketakutan
12. Jual ke yang pintar โ Jalan Pintas
13. Jual ke yang bodoh โ Validasi
14. Jual ke yang beriman โ Kepastian
15. Jual ke yang skeptis โ Pemberontakan
16. Jual ke semua orang โ Waktu
Ini cara paling mudah untuk dapat cuan. Pilih salah satu saja. Dijamin tidak akan salah.
Bentar lagi pildun
Ada ide bisnis baru wkwk
Sewa lapak parkiran depan ruko 500k/bulan
Beli akun Vidio + lisensi izin untuk nobar 3-5jt
Beli proyektor 700k
Listrik 300k
Pinjem meja kursi punya desa 1jt/bulan
Estimasi modal 6.5jt
Buka layar tancap, muat sekitar 50 orang
Jualan kopi, extra joss susu, kuku bima (biar melek) sama snack kayak gorengan/sosis goreng/keripik keripikan
1 orang estimasi belanja 15k
30 orang = 450k/malam
Piala dunia 1 bulan full gak tiap malam juga, anggap pas final bisa fullhouse 50 orang
Lumayan menyala
Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang.
Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri.
"Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?"
Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah.
Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya.
Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal.
Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah.
Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori.
Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi.
Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan.
Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan.
Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar.
Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan.
Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop.
Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel.
Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti.
Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu.
Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira.
Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa.
Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya.
Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja.
Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana.
Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf.
Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan.
Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti?
Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib.
Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.
Formula bisnis yang udah dipake berulang kali dan masih works:
1. Liat apa yang lagi rame di China
2. Bawa ke Jakarta
3. Kalau laku, bawa ke Jogja
4. Kalau laku, bawa ke Surabaya dan Bandung
5. Kalau masih laku, bawa ke kota-kota kecil di Jawa Tengah
6. Kalau masih laku, bawa ke luar Jawa
China itu basically test market terbesar di dunia. 1,4 miliar orang. Kalau sesuatu works di sana, kemungkinan besar works juga di Asia Tenggara.
Tinggal adjust harga dan selera lokal.๏ฟผ
Coba cek HP lo sekarang.
Lo mungkin bayar langganan yang lo GAK TAU.
Gue cek punya gue kemarin. Langsung kaget.
3 langganan aktif. Total Rp127rb/bulan. Rp1.5jt/tahun.
Yang gue inget cuma 1.
Apple dan Google sengaja bikin cancel susah. Biar lo lupa dan terus bayar.
Ini cara cek dan stop semuanya:
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
SIAPA YANG MENANGGUNG NAFKAH WANITA?
1. Sebelum menikah : ayahnya
2. Setelah menikah : suaminya
3. Jika bercerai atau suaminya wafat : anak laki-laki / cucu laki laki ( dari anak laki laki)
4. Jika tidak ada anak/ cucu laki laki : kembali ke ayah / atoknya
5. Jika ayah/ atoknya sudah wafat: saudara laki laki
6. Jika tidak ada : kerabat dari pihak ayah ( keponakan laki laki, paman, sepupu laki laki, meskipun ia punya penghasilan sendiri
Sementara itu wanita tidak dibebani kewajibkan menafkahkan siapapun, meskipun Ia punya penghasilan sendiri
Jika ada kesalahan silahkan koreksi๐
Guys kata Benix Mie Gacoan itu sebenernya pelajaran bisnis paling underrated yang ada di depan mata kita.
Buka 2016 di Malang.
Sekarang 280 gerai.
10.000 karyawan. Omzet nasional hampir 3 triliun per tahun. Dari mie Rp10.000 sepiring.
Dan ini yang bikin gw penasaran gimana bisnis yang jual mie Rp10.000 bisa sebesar ini?
Ternyata strateginya bukan bakar duit kayak startup. Justru sebaliknya.
Beli bahan baku langsung dalam jumlah ton dari produsen bukan kiloan.
Menu dibuat sesedikit mungkin supaya bahan bisa diputar cepat dan tidak ada yang terbuang. Produksi dijalankan kayak pabrik masak terus tidak nunggu pesanan. Dan yang paling jenius mienya sengaja dijual murah dengan margin kecil. Kenapa? Karena yang jadi sumber profit sebenarnya adalah minuman dan menu sampingan. Lo datang makan mie pedas Rp10.000 tapi lo pasti beli minum. Di situlah mereka ambil untungnya.
Tapi ada satu hal yang jarang dibahas dari kesuksesan Mie Gacoan.
Yang paling diuntungkan dari bisnis ini bukan orang Indonesia tapi petani Australia.
Karena bahan baku mie itu tepung terigu yang asalnya dari gandum. Dan Indonesia tidak bisa produksi gandum sendiri. Kita impor 3 juta ton per tahun dari Australia saja. Belum dari Kanada, Ukraina, Rusia, Amerika.
Khusus untuk Mie Gacoan kalkulasinya Benix mereka butuh sekitar 16.000 ton gandum impor per tahun hanya untuk 280 gerai itu.
Dan ini yang ironis. Semakin sukses Mie Gacoan semakin besar devisa kita mengalir keluar untuk beli gandum impor.
Padahal kita punya beras. Punya sorgum yang sudah mulai bisa ditanam di Indonesia dan bisa diolah jadi mie bebas gluten. Tapi selama belum ada yang berani pivot ke sana kita akan terus bayar mahal untuk sesuatu yang sebenarnya bisa kita produksi sendiri.
Pelajaran dari Mie Gacoan buat investor simpel bisnis yang kuat bukan yang produknya mewah atau viral sesaat. Tapi yang model bisnisnya sudah teruji, cash flow-nya putar cepat, dan bisa multiplikasi tanpa henti.
Tapi pelajaran yang lebih besar dari ini sukses bisnis lokal tidak otomatis berarti untung buat ekonomi lokal. Kalau bahan bakunya masih impor semua yang paling cuan tetap bukan kita.
Gue dulu bayar Google One Rp135rb/bulan buat dapet cloud storage 2TB.
Sekarang? Rp0.
Storage UNLIMITED. Akses dari mana aja. Data 100% milik gue.
Caranya: Ubah laptop/PC nganggur jadi cloud storage pribadi. Ga perlu bayar bulanan, cuma bayar listrik PLN aja
Gini tutorialnya:
Tagihan listrik PLN lo Rp700rb/bulan?
Lo mikirnya itu normal dan emang segitu. "Ya mahal sih, tapi mau gimana."
Gue juga dulu gitu.
Sampe gue itung manual. Ternyata pemakaian gue harusnya cuma Rp430rb.
Rp270rb/bulan ilang buat hal yang gue GAK TAU.
Ini yang gue temuin:
Tweet ini underrated banget. Padahal ini yang Bezos omongin tahun 2005.
Jauh sebelum orang sadar ini bakal jadi fondasi Amazon sampai valuasi > $1T dolar.
1) Inovasi itu ada dua arah, bukan satu.
Ada yang mulai dari masalah terus nyari solusi. Contohnya Liquid Paper, wiper mobil. Ada juga yang mulai dari teknologi baru, baru mikir โini bisa nyelesain masalah apa?โ.
Mayoritas perusahaan cuma main di satu jalur. Amazon? Dua duanya dijalanin barengan. Yang lain mikir sempit, mereka mikir lebar.
2) Pembunuh inovasi yang asli itu bukan kurang pintar, tapi learned helplessness.
Tisu toilet baru ada tahun 1857. Wiper mobil dulu dibilang โganggu konsentrasi nyetirโ. Orang jaman itu rela tiap satu kilo berhenti, turun, lap kaca pake kain, dan nganggep itu normal.
Inovator sejati itu orang yang keganggu sama hal hal goblok yang udah diterima semua orang sebagai โya emang gituโ.
3) Kecepatan inovasi ditentuin sama mahal atau murahnya eksperimen.
Ini cikal bakal AWS. Kalau eksperimen mahal, tiap ide harus izin CEO. CEO ga bisa ngurus ribuan eksperimen. Jadi Amazon bikin sistem biar tim kecil bisa ngetes ide tanpa drama koordinasi.
Mereka pernah A B test nambahin gambar di โcustomers also boughtโ. Kedengerannya pasti naik kan? Ternyata malah nurunin performa. Mereka tau karena biaya eksperimennya nyaris nol. Kalau mahal, insight kayak gini ga bakal pernah ketauan.
4) Ubah customer experience dari biaya variabel jadi biaya tetap.
Retail fisik ga bisa murah dan ramah sekaligus. Pelayanan nambah, biaya nambah. Linear.
Software Amazon beda.
Mau layani 1 juta atau 47 juta user, biayanya hampir sama. Inilah kenapa online retail bisa lebih murah tapi sekaligus lebih enak. Ini bukan gimmick marketing, ini keunggulan struktural.
5) Jangan fokus ke apa yang berubah. Fokus ke apa yang ga bakal berubah.
Semua orang nanya โ10 tahun lagi dunia berubah jadi apa?โ. Bezos malah nanya โapa yang ga bakal berubah?โ. Jawabannya simpel. Orang selalu mau harga murah, pilihan banyak, dan praktis.
Strategi 20 tahun bisa dibangun dari situ. Ga bisa dibangun dari gerak gerik kompetitor yang tiap kuartal berubah kayak cuaca.
Ini tahun 2005.
Amazon waktu itu free cash flow 950 juta dolar dengan investasi teknologi 650 juta.
Hari ini, framework yang sama jalan di skala 600 miliar dolar lebih.
DEBI
"Pak TU kampus"
"Gimana Debi?"
"Saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT"
"Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya"
"Baik Pak"
***
"Pak RT, saya mau minta surat keterangan tidak mampu"
"Kamu bukannya anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?"
"Iya Pak"
"Wah, tapi dari data penghasilan beliau, saya belum bisa keluarin SKTM."
"Waduh, terus gimana ini Pak?"
"Coba ke bank sama Mamah, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank, saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Bu, saya cek dulu"
"Bu Lala, setelah kita cek penghasilan, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Bu, resiko gagal bayarnya tinggi."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet SKTM Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Bapak saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya Mbak"
"Waduh, itu biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
***
"Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya"
"Kamu cuti dulu aja. Kerja part time gitu."
"Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?"
"Kamu bayar 50% UKT, jadi 6.25 juta."
"Hah?"
***
"Mas pinjol, kayanya saya terpaksa pinjem deh, gak ada jalan lain"
"Siap, ini saya transfer ya."
"Kalau gagal bayar gitu gimana?"
"Ada dendanya sama nanti kecatat di BI Checking."
***
"Bu Lala, ini utang anaknya gak dibayar?"
"Wah Pak Debt Collector, saya lagi tugas belajar, gaji tinggal gakok doang banyak pengeluaran, gimana?"
"Gak bisa bayar sekarang?"
"Iya, gimana?"
"Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk dari anak Bapak semester 3 sampai lulus"
***
"Ini CV kamu bagus banget, aktif di organisasi"
"Iya, makasih Bu rekruter."
"IPK kamu juga bagus, skill set kamu juga sesuai sama yang dibutuhin user kita."
"Terima kasih."
"Oke, kita finalisasi paperwork dulu ya sebelum offer."
***
"Halo, ini HRD perusahaan X, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
***
"Halo, ini HRD perusahaan Y, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
***
"Halo, ini HRD perusahaan Z, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
***
"Mbak, ini ada bantuan beras, dari pemerintah."
"Oh, saya masuk daftar? Alhamdulillah."
"Iya, sama Pak RT didaftarin, kan udah nganggur lama."
"Makasih ya mas."
"Gak apa, bulan depan ada lagi."
***
"Mbak, ini ada bantuan minyak goreng, dari pemerintah."
"Oh, saya masuk daftar? Alhamdulillah."
"Iya, sama Pak RT didaftarin, kan udah nganggur lama."
"Makasih ya mas."
"Gak apa, bulan depan ada lagi."
***
"Mbak, lagi nganggur gak? Ini ada kerjaan."
"Ngapain?"
"Jadi buzzer pemerintah Mbak. Bayarannya segini."
"Pemerintah yang ngasih beras kemarin? Wah, mayan, saya udah ke mana-mana gak dapet-dapet."
"Ya udah mbak, syaratnya gak susah kok."
"Apa syaratnya?"
"Tahan malu dikit."
"Oh, oke, dah ditagih-tagihin sama debt-collector ini."
***
"Ini laporan twit ngebuzzernya mana Mbak?"
"Oh ini, saya kemarin bikin ribut sama orang-orang yang demo."
"Oke, ngapain lagi?"
"Saya goblok-goblokin orang-orang di medsos."
"Mantab!"
"Iya Mas. Tahu gini saya gak usah kuliah, langsung nge-buzzer aja."
***
"Mbak, kan baru keluar TPS, boleh kita interview dikit, kita dari lembaga survey, buat exit poll."
"Oh boleh."
"Mbak pilih calon yang mana?"
"Petahana mbak."
"Kenapa kok milih petahana?"
"Saya kebantu banget, udah ngasih saya pekerjaan, sama ada bantuan sosial waktu saya nganggur."
"Kok bisa nganggur lama?"
"BI checking jelek mbak, kejerat pinjol buat bayar UKT."
"Kok gak pilih yang ngasih UKT gratis?"
"Saya sekarang lebih butuh yang kasih bantuan langsung sama kerjaan ke saya mbak."
***
***
***
"Mamah, saya mau kuliah ya di PTN. Baru keterima tesnya."
"Di tempat Mamah kuliah dulu? Wah mantab. UKT-nya berapa?"
"Segini."
"Waduh, kok mahal? Mamah gak kuat nak."
"Dulu Mamah gimana?"
"Coba kamu ke TU kampus, minta bantuan UKT."
***
"Pak TU kampus"
"Gimana?"
"Saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT"
"Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya"
"Baik Pak"
After months of planning, we're excited to announce 'The Polymarket' is coming to New York City.
New York's first free grocery store.
We signed the lease. And we donated $1 million to Food Bank For NYC โ an organization that changes how our city responds to hunger. ๐งต
Thousands have already picked up their free Kalshi groceries!
We are being told we've already inspired other companies to keep up the initiative!
2 more hours to get yours
Westside Market | 84 3rd Ave. NYC
BREAKING!
Film terbaru Joko Anwar, GHOST IN THE CELL terpilih di Berlin International Film Festival 2026 (Berlinale) dan bakal World Premiere dalam section 'Forum'.
Menyala! ๐ฅ