@palequeenchild@tanyarlfes Oh begitu yah kk, mohon maaf kalau begitu saya gak tahu kalau kk itu pendukung orang ini dan pendapatnya gak boleh dibalikin atau disenggol.
@palequeenchild@tanyarlfes Soal 'anak hasil didikan ortu' itu juga terlalu sempit kk. Dalam psikologi perkembangan, anak udah punya temperamen bawaan dari gen ortu bahkan sebelum didikan atau lingkungan masuk jadi bukan cuma 'didikan yang bikin anak jadi begitu,' ada faktor bawaan yang independen pola asuh
@palequeenchild@tanyarlfes Maaf kk, tapi 'istilah gak penting' itu justru nama dari kesalahan logika yang kk lakuin sendiri: pake banyaknya org setuju buat validasi itu argumentum ad populum, label 'kolot' tanpa bantah argumen itu ad hominem. Itu bukan aku sok pinter, itu aku nunjukin letak kesalahannya.
@dilangitygbiyuu@tanyarlfes Premisnya salah dari awal kk, anak itu gak lahir 'kosong', udah ada temperamen dan sifat genetik bawaan dari lahir, itu udah lama dibuktiin di psikologi perkembangan, Terus kalau logikanya 'ortu 100% nentuin hasil anak' berarti ortu juga cuma 'hasil isian' dari kakek-nenek, dst?
@tanyarlfes Ngeliat balesan-balesan di sini, kayaknya emang banyak yang skip pelajaran 5W+1H pas SD deh. Padahal jelas-jelas yang dibahas itu konteksnya, bukan pendapat sendernya. Miris juga liat gimana orang susah banget nangkep argumen simpel kayak gini, genuinely worried, ngl.
@Dewb_nt@tanyarlfes Tentu aja kk kondisi lingkungan adalah yang pertama membentuk personalitynya sih anak, by the way ini konteksnya, biar gak salah paham, komentar aku sifatnya mirroring logic, ngebalikin logika sih anak yaitu 'existential victimhood' dan logika itu juga bisa digunakan parentnya
@s0renx_@tanyarlfes I'm... talking about the logic that unemployed, spoiled, 21-year-old men use. That's what I'm talking about. I'm saying his logic can also be used against him. BRUH, this feels like 'I like pancakes' and someone answers 'so you hate waffles?'
@vellichoraura@tanyarlfes Ngl, I genuinely can't believe someone actually thinks I was talking about the sender's opinion instead of the context. Any normal person would get that. Honestly bruh, are you okay? Like, is your brain okay? I'm asking sincerely, because this isn't even a hard read.
@vellichoraura@tanyarlfes No...like seriously how? My comment is obviously about the context, and you replied thinking I was commenting on the sender? Like, HOW? Any normal person would think I'm talking about the context. Ngl, I'm worried that if you're like this, someone's gonna take advantage of you.
@s0renx_@tanyarlfes Honestly, bruh? I think you and I are talking about different things. My comment is a reply to the context, THE CONTEXT. Here's the sender's comment, here's my comment, and here's the context.
@vellichoraura@tanyarlfes Ngl, I'm kinda impressed you managed to connect my comment to the sender's comment. What logic even got you there? Because a normal person would just... read the context. Wild.
@sabluelver@tanyarlfes Ini komentar sender 'tapi iyaa sie...bayangin kalo masih misqueen trs milih buru buru punya anak trs ntar si anaknya mikir kayak gini kalo udah gedenya 😱' sedangkan ini komentar yang gw, Nyambung gak? yah enggak BRUH, Itu karena komentar gw ngarah ke context. 5W+1H penting.
@sabluelver@tanyarlfes Sender kan cuma ngasih 'opini/skenario' buat konteksnya tapi kok fokusnya malah ke Sendernya. Ini kaya lagi presentasi tugas di depan kelas, udah jelasin 'MATERINYA' panjang lebar, eh yang diinget temen bukan materi malah logat lu pas bilang 'jadi kesimpulannya' doang. BRUH WHAT?