BOHONGAN! γ €γ € Ia yang ditunggu; manifestasi gembira nan sederhana, wara-wiri sampaikan sukacita seraya berseru dengan lantang, βπππππππ, ππΌπππππ!β
@gelakmanis "Sama-sama." Jawaban singkat yang Akmal lontarkan dengan senyuman manis khasnya ikut tampak pada rupa.
Tangannya melingkar pada pinggang ramping sang gadis, memeluknya lebih erat sembari melumat ranum @gelakmanis lembut.
Akmal meluncur kembali ke indekosnya setelah tiga box martabak bermacam jenis sudah di tangan. Satu martabak asin, satu martabak manis dan satu lagi martabak kekinian yang bentuknya seperti bukan martabak pada umumnya.
@gelakmanis "ASTAGA!" Akmal tentu saja ikut memekik setelah bagian tubuh yang selalu ia jaga dengan sepenuh hati dicubit oleh Sarah. Lumayan sakit, loh.
"Ih, tete kamu kalau aku balik cubit pasti aku digampar." Ujar Akmal yang sedikit tidak terima.
@gelakmanis Akmal tahu apa yang Sarah inginkan tapi Akmal tetaplah Akmal. Akmal tidak jahil? Jelas itu bukan Akmal.
Bukannya memakaikan cincin pada jari manis sang gadis, ia justru menggigitβdengan pelan tentunyaβjari telunjuk @gelakmanis.
"Aku serius loh!"
Akmal menegaskan nada bicaranya, ia lepaskan lagi cincin yang sebeluknya ia pakai.
"Mau nikah sama aku gak?" Diulangnya pertanyaan tersebut pada @gelakmanis.
@gelakmanis Untung saja setelah Sarah memukul dadanya tidak ada bunyi intro Netflix seperti lawakan yang sering Akmal dengar.
"Ah," sang tuan mengaduh seraya mengusap dadanya sendiri. Sebab kalau mengusap dada Sarah jelas akan kena pukul olehnya, jadi lebih baik ia cari aman.
@gelakmanis "Bohongan bro," Akmal menjawab dengan santai dan memakai cincin itu di jari manisnya sendiri, walaupun tak muat.
"Kamu cuman diprank, dadah-dadah dulu ke kamera di sana." Ujarnya seraya menunjuk pojok langit-langit kamar @gelakmanis.
Disodorkannya sebuah cincin ke hadapan wajah Sarah. Benar, persis di hadapan wajah @gelakmanis.
"Mau gak nikah sama aku terus pindah ke apartemen bareng?"
@gelakmanis Akmal terkekeh pelan. Ia berusaha untuk mengambil sehelai tisu basah di nakas terdekat tanpa memindahkan posisi badannya. Ia bersihkan dengan telaten jemarinya yang kotor karena martabak.
"Kita," jawab Akmal seraya meronggoh kantong celana sedengkul yang tengah ia gunakan.
Tangannya yang lain sudah terlihat melingkar pada pundak @gelakmanis, membawa tubuh sang gadis agar lebih mendekat padanya dan sesekali mengusap-usap lengan kekasihnya.
@gelakmanis Akmal menganggukkan kepalanya perlahan, membenarkan ucapan Sarah.
"Nanti kalau udah pindah ke apartemen udah jadi anak apartemen kok, bukan anak kosan lagi." Jawab Akmal yang berniat untuk melucu sembari terus mengunyah sisa martabak di tangannya.
@gelakmanis Akmal mengernyit menatap Sarah. Yang benar saja? Martabak sebanyak ini Akmal sendiri yang habiskan?
"Enggak lah! Berdua," jawabnya seraya mengambil satu martabak manis, "Yang asin kalau gak habis bisa buat lauk makan besok." Jawab Akmal seraya mencondongkan tubuhnya pada Sarah.
@gelakmanis Akmal melepas kedua sandal dan masuk ke dalam kamar yang wanginya khas milik sang empu. Harum sekali.
Setelah memastikan pintu tertutup rapat, Akmal mendekati @gelakmanis untuk memberikan pesanan sang kekasih.
"Martabaknya, mbak."
Tok, tok, tok!
"Assalamualaikum, sayang!"
Biasanya Akmal langsung membuka pintu kamar @gelakmanis, namun saat ini sayangnya ia lupa membawa kunci kamar sang gadis.
Helm yang semula digunakan kini sudah bertengger manis pada salah satu kaca spion. Ditaruh dengan asalβ asalkan tidak jatuh pula.
Langkahnya segera menuju kamar Sarah yang pintunya masih tertutup rapat. Dengan lembut Akmal memberikan salam sembari mengetuk pintu.