Bener kan yg saya info sebelumnya. Presiden Prabowo menulis OpEd untuk menanggapi pemberitaan kritis The Economist. Ini link-nya
https://t.co/aIBbrOf2lD
The true teacher is someone who helps you discover your own light, awaken to your sovereignty and continually returns you home to yourself. Not someone who wants to be followed and worshipped.
Respon gue saat nonton video klarifikasi Seskab Teddy menjawab kritik Pak Dino Patti Djalal dengan seksama:
Gila! seorang Pak Dino, diplomat ulung, aja kritiknya kena gaslighting dibilang pernah jadi Wamenlu WALAU cuma 3 bulan. Pantesan kritik2 rakyat slm ini dianggap angin lalu
Kritik Dino Patti Jalal disini padahal substantif ya. Ada sarannya pula, sesuai dengan keinginan orang2 yg katanya (((jangan kritik doang, kasih saran dong!!)))
Saran yg kedua itu udah paling oke sih, Prabowo kan suka banget dateng forum2 gitu, sekalian aja lah ngobrolnya.
@piousdeenn Allah Almighty said: "My love is assured for those who love each other for My sake, who sit together for My sake, who visit each other for My sake, and who spend on each other for My sake."
Source: Al-Muwatṭa’ 1781
a dutch student once showed up in my office saying she wanted to do research on singapore. i told her to go to jakarta instead. she flew to jkt supposedly for one week only but ended up staying four months doing a great research. she loved the city so much.
Indonesia berduka karena tiga prajurit yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Libanon gugur. Beberapa prajurit juga mengalami luka berat, termasuk dalam insiden ketiga kemarin, di tempat penugasan mereka.
Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar. Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka.
Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi.
Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative). Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap langkah-langkah pemerintah kita, menyusul gugur dan luka-lukanya prajurit Indonesia tersebut, saya ingin menambahkan satu, dua hal.
Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan “peacemaking”. “Peacekeeper” tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi “to enforce the peace”, dalam arti melaksanakan tugas yang “lebih keras” untuk sebuah “peacemaking”. Mereka bertugas di “blue line” atau di wilayah “blue zone”, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau “war zone”.
Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di “Blue Line” yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Libanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung.
Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini.
Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. Saya masih ingat ketika sebagai Menkopolkam RI, harus menghadiri Sidang DK PBB tahun 2000 karena ada insiden di Atambua yang menewaskan 3 orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa yang terjadi di wilayah Atambua, NTT waktu itu. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda.
Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini. Mengapa?
Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Libanon.
Ini ada sejarahnya.
Pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Libanon. Korban berjatuhan utamanya di pihak Libanon. DK PBB belum melakukan langkah-langkah yang efektif untuk menghentikan peperangan tersebut. Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Islam) untuk menggelar “emergency meeting” guna mendesak PBB untuk segera bertindak.
Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Di samping Indonesia dan Malaysia, pemimpin lain yang hadir adalah Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan dan Perdana Menteri Libanon Siniora. Juga hadir beberapa kepala negara/kepala pemerintahan yang lain.
Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalyon diperkuat sebagai bagian dari “peacekeeping mission” di perbatasan Israel dan Libanon. Artinya, setelah terjadi “ceasefire” atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut.
Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Libanon. Alhamdulillah, Perancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta.
Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, tiga bulan kemudian (November 2006) sudah bisa berangkat ke Libanon. Untuk diketahui, 3 orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan.
Hingga tahun 2026 ini, sudah 19 kali kontingen kita bertugas di Libanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Mungkin, ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia.
Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air. *SBY*
Pak Umar ini diplomat karir di @Kemlu_RI. Jadi beliau berani untuk langsung menyebut, Indonesia gak butuh alasan Israel dalam menuntut investigasi atas kematian tiga prajurit TNI yang bertugas sebagai penjaga perdamaian di PBB
Beliau ini memiliki pengalaman dalam misi perdamaian UNIFIL, di masa pemerintahan ayahnya yakni Presiden SBY.
Meskipun putra presiden, namun sebagai prajurit beliau tidak pernah menolak untuk ditugaskan ke Libanon.
President @realDonaldTrump , do you realize that, other than Israel, NO country is rooting for the US in your present war against Iran - not your allies, not Gulf states, not countries in the Global South, not other permanent members of UN Security Council, not Indonesia, and most importantly, not the majority of the American people.
The Government of the Republic of Indonesia strongly condemns the Israeli Knesset's approval of legislation imposing the death penalty on Palestinian detainees. Such a policy is unacceptable and undermines the sense of justice as well as universal humanitarian values.
The law is a grave violation of international human rights and humanitarian law, particularly the Fourth Geneva Convention, as well as the International Covenant on Civil and Political Rights, which guarantees the right to life and the right to a fair trial.
The Government of Indonesia calls on Israel to immediately revoke the legislation and cease all actions that contravene international law, and to ensure the protection of the fundamental rights of the Palestinian people, including detainees.
Indonesia also calls on the international community, in particular the United Nations, to take firm measures to ensure accountability and protection for the Palestinian people. Indonesia reaffirms its full support for the struggle of the Palestinian people to achieve independence, with East Jerusalem as its capital.
Duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit terbaik TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan: Kapten Inf Zulmi Aditya, Sertu Ikhwan dan Praka Farizal Rhomadhon, yang gugur dalam dua insiden pada 29–30 Maret dalam agresi Israel ke Lebanon Selatan.
Sebagai bagian dari Kontingen Garuda di UNIFIL 2006, kami memahami risiko dan kehormatan misi ini. Gugurnya tiga prajurit TNI adalah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Mereka gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian dunia.
Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional & tidak dapat ditoleransi. Kami mendesak PBB & UNIFIL untuk segera melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan & akuntabel guna mengungkap sumber serangan secara jelas.
Doa kami untuk para prajurit & keluarga yang ditinggalkan. Pengorbanan para prajurit akan selalu terkenang, sebagai garda terdepan Indonesia menjaga perdamaian dunia.
Duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit terbaik TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan: Kapten Inf Zulmi Aditya, Sertu Ikhwan dan Praka Farizal Rhomadhon, yang gugur dalam dua insiden pada 29–30 Maret dalam agresi Israel ke Lebanon Selatan.
Sebagai bagian dari Kontingen Garuda di UNIFIL 2006, kami memahami risiko dan kehormatan misi ini. Gugurnya tiga prajurit TNI adalah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Mereka gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian dunia.
Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional & tidak dapat ditoleransi. Kami mendesak PBB & UNIFIL untuk segera melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan & akuntabel guna mengungkap sumber serangan secara jelas.
Doa kami untuk para prajurit & keluarga yang ditinggalkan. Pengorbanan para prajurit akan selalu terkenang, sebagai garda terdepan Indonesia menjaga perdamaian dunia.
J’apporte mon plein soutien au patriarche latin de Jérusalem et aux chrétiens de Terre Sainte, empêchés de célébrer la messe des Rameaux au Saint-Sépulcre.
Je condamne cette décision de la police israélienne, qui s’ajoute à la multiplication préoccupante des violations du statut des Lieux Saints de Jérusalem.
Le libre exercice du culte à Jérusalem doit être garanti pour toutes les religions.
Penggunaan kata "alliance" (sekutu) dlm perjanjian bilateral 🇮🇩 dgn 🇺🇸 sangat tidak lazim, bahkan tidak pernah digunakan dlm dokumen kita dgn negara manapun. Istilah yg lazim digunakan 🇮🇩 adalah "partnership". Apakah tidak difilter dulu oleh KBRI Washington DC atau @Kemlu_RI ? Bebas aktif berarti kita tidak ber"sekutu" dgn negara manapun.. proper usage of terms in state documents are terribly important
freud explicitly said “A man who has been the indisputable favorite of his mother keeps for life the feeling of a conqueror, that confidence of success that often induces real success.”