Ada maling burung merpati ketauan orang, bukannya minta maaf atau kabur, malah ngamuk mau mukul pemilik burung pake batu.
Ujung-ujungnya bapaknya sendiri yang gamparin anaknya berkali-kali.
Infonya si anak ini masih sekolah tapi udah kecanduan main selot (slot).
Hati-hati buat orang tua semua, pantau terus aktivitas anak-anak yang masih sekolah. Yang udah kerja aja gaji habis mulu gara-gara nyelot, apalagi yang masih bocah sekolah.
Semoga orang tuanya sabar dan bisa mendidik anak ini ke jalan yang benar.
Kasian juga sih, tapi salah ya tetap salah.
🎥: Arnol
Azril, Khariq, Yogi, Azhar hanya sedikit dari ribuan orang muda yang ditangkap paksa dan jadi korban kekerasan oleh aparat. Tapi di saat bersamaan bukannya reformasi TNI-Polisi yang warga dapatkan, justru mereka malah diberi hadiah berupa jabatan di pos-pos sipil 🙃
kutbah jumat ini menyinggung fenomena suic1de beruntun di malang. ada satu kutipan khatibnya membekas.
“kita sudah gagal sebagai sebuah masyarakat saat lebih peka terhadap issue sosmed,
alih-alih pada tetangga yang mulai merasa dinginnya, tingginya besi jembatan menenangkan.”
Kasus terbaru di kelas gw ada siswa tanya sama gw.
Pak emang ada yah cara bunuh diri yang gak sakit?
Langsung gw duduk sama2 dia gw tanya, kamu kenapa dirumah apa ada masalah?
Gw juga contact psikolog sekolah supaya ditanganin.
Kasus terakhir laki-laki bercerita malah dihujat, gajinya disamain kek duit pakan anjing seminggu. Dari sini gue mikir kalau saran publik "laki-laki bercerita" itu beneran scam, ibarat ngiris tangan di kolam ikan hiu.
Diam dan convert emosinya jadi tenaga buat lakuin hal baik.
kalian itu jangan sok-sokan
kawan kalian dibunuh israel, gak ada garang-garangnya kulihat.
sama rakyat sendiri, sipil pula, begini amat.
mending copot saja seragam kalian, balikin bedil kalian.
semua itu, kami, rakyat yang bayar.
Ada dokter internship yang meninggal karena kena campak, tapi tidak banyak yang memberitakan bahwa doktor trsbut sedang sakit tipes tapi tetap dipekerjakan oleh RS tersebut
Dapat kabar dari beberapa sumber anonim bahwa dokter magang tersebut bukan cuma satu2nya nakes yang dieksploitasi tenaganya, dipekerjakan full tapi upah hanya magang saja
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
We are outraged. An Indonesian peacekeeper is murdered. Another is fighting for his life. Israel bombed the base where they served.
This is clearly not an accident, nor a collateral damage. This is Netanyahu’s regime showing, once again, that they don’t care about international law, about UN personnel, and about the lives of those who dedicate themselves to peace.
Indonesia has gone above and beyond. We have sent over 1,200 of our troops to serve under the UN flag. The Indonesian government also joined the Board of Peace to push for a just and lasting resolution in the Middle East. We extended our hand in good faith. Yet the answer to that good faith is a bomb dropped on our soldiers’ base. They spat on every effort Indonesia has made for peace.
But let us be honest, this is not surprising. Netanyahu’s regime has shown time and again that they are indifferent to the world’s calls for restraint. They ignore UN resolutions. They strike UN facilities. They kill civilians, journalists, aid workers, and now peacekeepers. No one is off-limits. No one is safe. Sadly, it keeps going because the world keeps allowing it.
To the UN Secretary-General, we appreciate your condemnation and your condolences. But words are not enough anymore. The UN must move beyond statements. Concrete, enforceable, and urgent action is what this moment demands. The credibility of the UN is on the line. If the world body cannot protect its own peacekeepers, what exactly is it protecting?
To the nations of the world, now is the time to act together. Push for accountability. Refer those responsible to international courts. Enforce the rules that you all signed up to uphold. International law is only as strong as the willingness of nations to defend it. That willingness has been tested over and over again by Netanyahu’s regime. For countless of times, the world has failed the test.
Do not let this death be forgotten in a news cycle. Do not let this become just another statistic in a long list of violations. Demand justice. Demand accountability. Make clear that those who attack UN peacekeepers will face real consequences.
Kepada prajurit TNI yang gugur, selamat jalan, Pahlawan. Doa kami menyertai, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepada yang terluka, semoga lekas pulih. Indonesia berduka, tapi kita yakin, Indonesia tidak akan diam.
Orang dewasa punya standar tinggi kalau ketemu anak kecil.
Di mata orang dewasa, anak harus ceria, harus mau respon segala pertanyaan, harus mau salim, harus mengikuti norma sosial dengan perfect.
Anak kecil teriak dikit
"Gak diajarin ortunya ya?"
Anak kecil nangis
"Kok cengeng sih?"
Anak kecil slow to warm up
"Masih kecil udah introvert ya"
Anak kecil ikut ortu nongkrong, bosen, butuh input stimulus lain
"Rewel ya ternyata"
Kata gw mah elu yg rewel. Udah dewasa tapi judgemental banget ke anak-anak. Anak kecil tuh sedang belajar memahami dirinya sekaligus memahami dunia yang semua isinya tuh besar-besar. It gets too overwhelmed sometimes. It's a part of the growth process. Mari kita jadi orang dewasa yg wajar gitu lho.
🇸🇦🇦🇪🇮🇷 CNN mengklaim UEA dan Arab Saudi telah meminta Iran untuk menentukan sebuah lokasi di gurun Iran untuk dibom dan dinyatakan sebagai respons terhadap serangan Iran ke negara mereka.
IRAN MENOLAK, tulis CNN.
Ironisnya, membunuh figur yang masih bisa diajak bicara sering kali hanya memastikan kita berurusan dengan pihak yang sama sekali tidak mau bicara.
***
Trump mau regime change. Bahkan CIA-nya sendiri sudah bilang: membunuh Khamenei justru bisa bikin keadaan lebih buruk. Tapi tetap dilakukan.
Analisis itu dibuat dua minggu lalu. Kalau Khamenei mati, yang kemungkinan besar naik bukan kaum moderat, tapi komandan garis keras IRGC, orang-orang yang hidupnya cuma militer, bukan agama.
Mereka tidak punya minat pada diplomasi. Tidak punya legitimasi ulama yang harus dijaga. Dan tidak punya “katup pengaman” politik. Khamenei itu 85 tahun. Dia seorang ulama.
Dia berkuasa lewat otoritas agama, manuver politik, dan kehati-hatian yang dihitung.
IRGC berkuasa lewat senjata. Ini pelajaran dari Irak yang Amerika tidak pernah benar-benar pelajari. Saddam dibunuh, yang muncul ISIS. Kepala dipotong, tapi yang dilepas justru sesuatu yang lebih brutal dari bawah.
CIA bukan bilang “jangan lakukan”. Mereka bilang: jangan mengira membunuh satu orang akan mengakhiri rezim. Iran itu sebuah sistem, bukan negara yang berdiri di satu figur. Pemimpin Tertinggi itu wajahnya. IRGC itu tulangnya.
Trump bilang ke rakyat Iran malam ini untuk “ambil kesempatan dan bangkit”. Masalahnya:
kalau Khamenei sudah mati dan IRGC yang pegang kendali, rakyat yang bangkit itu tidak akan berhadapan dengan seorang ayatollah tua.
Mereka akan berhadapan dengan tentara bersenjata, yang tidak punya apa-apa lagi untuk dilenyapkan.
🚨🚨🚨 Gugurnya Ayatollah Ali Hosseini Khamenei sudah dikonfirmasi oleh banyak media Iran, yang sebelumnya hanyalah "klaim" dari sisi Amerika Serikat dan Israel.
Klaim ini diresmikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan jajarannya, termasuk Gedung Putih. Israel juga langsung "menyambut" dan "membenarkan" klaim ini, membuat mereka berdua mencapai kesepakatan dalam membawakan narasi Ali Khamenei meninggal dunia karena serangan udara dan rudal yang mereka lakukan beberapa jam lalu. Tersebar juga narasi yang menyebutkan bahwa jajaran pejabat senior Amerika Serikat, termasuk Trump, dan Israel, sudah mendapatkan konfirmasi visual dari jenazah Ali Khamenei yang diambil oleh operative mereka di darat, membuat mereka akhirnya "percaya diri" untuk mengumumkan ini ke publik.
Di sisi lain, sudah beberapa jam berjalan, Iran, lewat beberapa sumber kanal berita dan televisi mereka, gagal melaksanakan pengumuman yang seharusnya dibawakan langsung oleh Ayatollah Ali Hosseini Khamenei. Ini menyebabkan kebingungan yang cukup terasa, bahkan diantara kalangan masyarakat Iran sendiri. Jika kita menganggap bahwa Ayatollah Ali Hosseini Khamenei ternyata masih hidup, Iran dihadapkan oleh pilihan yang cukup sulit, menampakkan pemimpin mereka untuk bisa "memerangi" misinformasi yang sudah diberitakan oleh Israel dan Amerika Serikat, namun ini menjadi pedang bermata dua yang membuat keberadaan Ali Khamenei terekspos, rentan.
Dengan Iran kehilangan pemimpin mereka, sudah bisa dipastikan bahwa penggantinya sudah disiapkan untuk naik menggantikan. Pertanyaan besarnya adalah, seberapa besar "efek" yang dirasakan oleh kalangan politisi Iran sendiri? Apakah masih akan menjalankan kebijakan pemerintahan Iran, se-keras Ayatollah Ali Hosseini Khamenei? Pasti Israel dan Amerika Serikat sudah melakukan dorongan lainnya di dalam, namun apakah akan berhasil? Jelas masih diragukan karena tidak se-mudah itu.