Since the IPO in January, CSG has announced two huge new contracts with unnamed "Southeast Asian" customers: a $300 million armored vehicle deal and a $2.5 billion air defense package. Together they're worth about a fifth of CSG's reported backlog.
CSG won't say who the customer is. But local reporting, social media chatter, and CSG's own prior disclosures point to one main buyer: Indonesia.
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya.
Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
Ternyata masyarakat lebih mendukung MBG jika mereka percaya program ini memberikan manfaat ekonomi luas, seperti mendukung bisnis kecil/UMKM lokal dan meningkatkan ketahanan pangan, melampaui sekadar dampak nutrisi.
Sementara di sisi lain, ada wacana bahwa KMP (koperasi merah putih) akan direncanakan sebagai supply chain utama MBG. Apakah skema seperti ini akan mendukung dan menghidupkan UMKM ataukah malah mengancam bisnis masyarakat kecil? Bagaimana menurut teman2?
Silahkan baca lengkapnya di sini
https://t.co/zCIXQT63E2
Yg menarik justru di kalangan warga yg berpendapatan rendah kepuasan terhadap MBG malah negatif. Universalitas MBG malah memicu perasaan di kaum miskin bahwa MBG tak seharusnya dikasihkan buat semua, apalagi buat warga yg berkecukupan.
Di bidang astronomi, jarak yg sangat jauh diukur dgn satuan “tahun cahaya”
Di Indonesia ada satuan baru dlm perhitungan harga/biaya yg sangat mahal, yaitu “hari MBG”
* Anggaran beasiswa LPDP: 5 hari MBG
* Subsidi BPJS Kes: 40 hari MBG
* Biaya pembangunan Whoosh: 94 hari MBG
😁
Porsi ini ga layak untuk anak SD. Yuk sini saya kasih liat itung2annya kenapa saya bilang ga layak.
Anggaplah anak umur 7 tahun BB 25 kg, TB ideal untuk usianya, kebutuhan kalori sesuai RDA 70-80 kkal/kg.
Total kebutuhan kalori= 70 kkal x 25 kg =1.750 kkal, anggaplah ini anak cuma makan utama aja ga pake snack. Artinya 1750 kkal dibagi 3 = ~ 580 kkal
Jadi sekali makan dia musti dapet 580 kkal
Sementara, kebutuhan AKG protein untuk anak 7 tahun 40 gram/hari.
Sekarang mari kita analisis dari rincian makanan yg dikasih
Potato wedges 4 biji, 1 dimsum, 1 tempe ungkep dan susu indomilk. Asumsi susu indomilk yg kecil sesuai foto yg sering beredar maka perkiraan kalori yg didapat kira2 ~ 300 kkal dan protein ~ 10 gram
Kesimpulannya
Makanan yg disajikan jauh di bawah kebutuhan nutrisi anak. Bila diteruskan asupan nutrisi ini anak akan berisiko mengalami malnutrisi alias kurang gizi.
Jadi alih2 memperbaiki atau memenuhi gizi anak, makanan yg diberikan justru berisiko membuat anak gagal tumbuh
Jangan dikira disrupsi pasokan minyak bumi hanya berimbas pada kelangkaan dan kenaikan BBM. Tapi sebenarnya lebih luas dari itu. Disrupsi tsb berimbas pada hampir semua lini aspek kehidupan, mulai dari energi, manufaktur, makanan sampai obat
Minyak bumi (crude oil atau petroleum) adalah salah satu sumber daya alam paling penting di dunia. Setelah diolah melalui proses distilasi fraksional dan proses petrokimia lainnya, minyak bumi menghasilkan berbagai produk yang digunakan hampir di setiap aspek kehidupan modern. Penggunaannya bisa dibagi menjadi beberapa layer (lapisan/tingkatan) berdasarkan skala dan jenis pemanfaatan utama:
Layer 1: Penggunaan Energi (sekitar 80–85% dari total minyak bumi) berupa bensin, solar, avtur, lpd, dll
Layer 2: Petrokimia & Bahan Baku Non-Energi (sekitar 10–16%) berupa plastik, ban, pupuk (untuk produksi makanan), pelumas, pelarut kimia, dll
Layer 3: Produk Sehari-hari & Khusus (persentase kecil) berupa kosmetik, obat, cat, produk rumah tangga spt deterjen, kabel, dll
Contoh saja obat. Parasetamol 100% berbahan dasar petrokimia. Ibuprofen 100% berbahan dasar petrokimia. Metformin, obat diabetes yang paling banyak diresepkan di dunia, 80% hingga 90% berbahan dasar petrokimia. Antibiotik membutuhkan metanol, aseton, dan diklorometana sebagai pelarut untuk ekstraksi dan kristalisasi. Setiap kemasan obat butuh plastik yang terbuat dari minyak bumi
Jadi secara sederhana:
Minyak bumi bukan hanya bahan bakar mobil dan motor, melainkan fondasi hampir seluruh kehidupan modern — dari bensin yang menggerakkan kendaraan sampai plastik, makanan dan obat yang kita konsumsi sehari-hari
Jika disrupsi pada pasokan minyak terus terganggu, dampaknya akan terlihat. Paling cepat pada BBM, lalu selanjutnya pada plastik, meluas pada makanan dan obat. Harga akan naik. Inflasi tinggi. Kalau sudah begini, gimana ngga berdampak negatif pada pasar saham
Berikut adalah tabel pengaruh disrupsi pasokan minyak pada berbagai sektor industri (sumber Morgan Stanley). Ternyata buanyak sekali sektor industri yang terkena
Kalo di ilmu kesadaran, sebaik-baiknya bersyukur itu enggak lahir dari membandingkan, tapi dari sadar penuh hadir utuh di sini-kini. Be present.
Jadi bukan bersyukur karena: “untung hidupku lebih baik dari dia.”
Bukan bersyukur karena: “lebih baik dari orang lain.”
Karena itu masih ego yang membandingkan, diam-diam merasa lebih. Kesombongan.
Bersyukur itu sesederhana: menyadari apa yang ada, tanpa hanyut terseret drama dari pikiran masa lalu atau masa depan.
Menyadari napas, masih bernapas. Menyadari badan, masih hidup. Menyadari momen saat ini, di sini-kini, seapaadanya.
Jadi bersyukur karena hidup yang sedang kita alami. Nggak dari perbandingan, tapi karena kesadaran, presence.
Engga. Liat nih, buku bikinan ahli botani Yahudi, Aaron Aaronsohn, tahun 1910. Dia eksplorasi tanaman di daerah yang dia sebut sendiri Palestina. Tahun 1900-an.
"Agricultural and Botanical Explorations in Palestine" (1910).
3x Survei LPEM Berturut-Turut, Para Ekonom Tidak Melihat Peningkatan Kondisi Ekonomi RI Baca selengkapnya: https://t.co/6WFFeCKsCF
Responden survei ini bukan pengamat biasa. Mereka adalah para ahli dengan kualifikasi akademik yang ketat: minimal bergelar doktor bagi yang berafiliasi dengan universitas atau lembaga akademik, dan minimal magister bagi yang bekerja di sektor lain, seperti sektor swasta atau think tank.
Kamu setuju dengan hasil survei ini? Yuk diskusi di kolom komen!
#LPEMFEBUI #LembagaPenyelidikanEkonomiMasyarakat #EkonomiIndonesia #makroekonomi #SurveiEkonomi #Ekonomi2026
𝗔𝗣𝗕𝗡 𝗥𝗜 𝗽𝗲𝗿𝗹𝘂 𝘀𝗲𝗴𝗲𝗿𝗮 𝗱𝗶𝘀𝘂𝘀𝘂𝗻 𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴, 𝗶𝗺𝗯𝗮𝘀 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗮𝘀! 𝗧𝘂𝗻𝗱𝗮 𝗠𝗕𝗚, 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗟𝗧! LPEM baru saja merilis bagaimana dampak perang Iran-AS terhadap perekonomian Indonesia? https://t.co/UBDhWAGjO1
Kamu punya pandangan lain tentang hal ini? Yuk, diskusi di kolom komen! ;)
#LembagaPenyelidikanEkonomiMasyarakat
Indonesian farmers are having to grapple with a double whammy of a fertilizer crunch and surging pesticide prices as a result of the supply chain disruption from the war in Iran.
https://t.co/XCVsqGY89O
China has become a prime example of how to industrialize the sustainability narrative.
When we talk about sustainable energy, China changed the game.
They understood that industrialization requires abundant and affordable energy.
Their strategy was simple: reduce marginal cost by increasing cumulative production.
(This is an excerpt from my lecture in Stanford on Financing Sustainability Solutions)
Fakta sederhana tapi anti-vaksin gak suka
Here is the list:
1. Sejak 1974, vaksinasi telah mencegah 154 juta kematian global. Mayoritas (146 juta) adalah anak di bawah 5 tahun.
2. Setiap satu nyawa yang terselamatkan, rata-rata didapatkan 66 tahun masa hidup sehat, bayangin deh produktivitasnya bakal gimana, bayangin juga yang selamat itu anggota keluarga kalian
3. Vaksinasi berkontribusi terhadap 40% penurunan angka kematian bayi secara global. Di wilayah Afrika, angkanya bahkan mencapai 52%.
4. Vaksin campak menjadi kontributor terbesar dalam penyelamatan nyawa, mencakup hampir 60% dari total nyawa yang terselamatkan berkat imunisasi. Makanya emosi kan kalo campak jadi banyak lagi sekarang, apalagi ada yang jalan-jalan ke fasilitas umum, padahal kena campak.
Dear @Kemdikdasmen
Indonesia’s position on this chart is concerning because it sits near the bottom left quadrant, indicating weak performance in both mathematics and creative thinking relative to global peers. While lower income countries often lag in math scores due to resource constraints, Indonesia’s creative thinking score is also significantly below the OECD average of 33, suggesting the issue is not purely economic but structural within the education system.
What stands out is that several countries with comparable or even lower income levels, such as Jordan, Brazil, and Mexico, score meaningfully higher in creative thinking. This suggests that Indonesia’s challenge is not only funding, but the way education emphasizes memorization over problem solving, experimentation, and independent reasoning. Creative thinking is closely linked to future productivity growth, particularly in an economy transitioning toward higher value industries such as technology, advanced manufacturing, and services.
This has direct economic implications. Countries that perform well in both math and creative thinking, such as Singapore, Korea, and Estonia, tend to move up the value chain faster, attract higher quality foreign investment, and sustain stronger wage growth. By contrast, weak cognitive and creative skill formation limits the ability of the workforce to absorb advanced technologies, including AI, automation, and digital infrastructure.
In Indonesia’s case, this reinforces a broader structural pattern where capital intensive investments, such as mining and downstream processing, drive GDP growth without proportionate gains in labor productivity or wages. Without substantial improvements in education quality, particularly in analytical and creative skill development, the country risks remaining competitive primarily in resource extraction and low value added segments rather than becoming a high productivity, innovation driven economy.
In February, Indonesia’s inflation hit a three-year high, surpassing official targets as expiring utility subsidies and surging gold prices drove a significant spike in consumer costs. https://t.co/3inWmE9VBY
This looks like a must-read!
"The Economics of Tariffs" by Ralph Ossa and Stephen J. Redding.
"A central insight from neoclassical economics is that international trade operates like an improvement in production technology. It generates mutual aggregate welfare gains for countries as a whole, but creates winners and losers within countries. Tariffs are a tax on this trading technology and distort the prices faced by domestic consumers and producers. Large countries can use tariffs to improve their terms of trade on world markets. But if all countries try to do so, they can end up with lower welfare than if they cooperated to liberalize trade. ...Empirical findings from the recent waves of U.S. tariffs suggest that most of the incidence of these tariffs has been borne by U.S. importers, wholesalers, retailers and consumers rather than by foreign exporters. These tariffs have led to a large-scale reorganization of U.S. supply chains away from China to third countries. Although this reorganization has substantially reduced China’s share of U.S. imports, the U.S. remains indirectly exposed to China through the imports of these third countries."
https://t.co/J9vW8Rtwpn
simpan foto #hewan ini, kita mungkin tidak akan melihat wujud hidupnya lagi. 🥲
ini adalah badak terkecil di dunia, badak kalimantan.
saat ini mereka hanya tinggal 2 ekor dan keduanya betina, yg satu diberi nama "pahu", satu lagi namanya "pari".
tanpa ada pejantan, kini mereka bergantung pada intervensi teknologi untuk melanjutkan keturunan.
sayangnya, hingga sekarang percobaan inseminasi buatan masih belum menunjukkan hasil menggembirakan.
jika mereka berdua mati sebelum beranak, badak kalimantan akan menyusul harimau bali dan gajah jawa, lenyap dari dunia selamanya. 🥀
semoga ada mukjizat 🤲
𝗥𝗽𝟭𝟳,𝟴 𝗧𝗿𝗶𝗹𝗶𝘂𝗻 (𝗨𝗦𝗗𝟭,𝟬𝟲 𝗠𝗶𝗹𝗶𝗮𝗿) 𝗺𝗼𝗱𝗮𝗹 𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝟯𝟬 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿! 🚨
Tekanan dari MSCI & Moody’s diperparah sentimen negatif penunjukan Deputi Gubernur BI dari lingkaran keluarga Presiden. Independensi BI kini dipertaruhkan di mata investor global.
Selain itu, kabar penunjukan keponakan Presiden sebagai Deputi Gubernur BI yang baru, turut memperburuk tingkat kepercayaan investor. BI perlu semakin membuktikan independensinya.
Read more: https://t.co/QGubcuIIne
#LPEMFEBUI #LembagaPenyelidikanEkonomiMasyarakat #BankIndonesia #PasarSaham #PasarObligasi #PasarModal #BankIndonesia
S&P Global Ratings warned that rising fiscal pressures, particularly higher debt-servicing costs, are increasing downside risks for Indonesia’s sovereign credit profile https://t.co/QjRYcdx8Ni