Jadi, jangan disalahkan hobinya, tapi lebih pada bagaimana menyeimbangkan. Jangan sampai kebutuhan pribadi mengalahkan kebutuhan keluarga, dan sebaliknya.
Beberapa manusia yg sangat berbahaya. Mereka akan sangat baik pada sesamanya yg bergelimang harta. Mereka rela meninggalkan yg mereka anggap hanyalah seonggok daging tak berharga.
Harta tahta sungguh sangat menggiurkan. Manusia terpikat dengan cepat, tanpa memikirkan akibatnya.
Dua tahunan ini aku kerja di kampung sendiri, walaupun gaji tidak UMR paling tidak biaya hidup di kampung jauh lebih murah dibandingkan di kota 😁 jadi bisa narget tiap pingin ini itu, perlahan mulai nabung dan yg paling penting bisa liburan ke pantai gratis tiap hari 😅
Baru terlintas dalam pikiran.
Dulu, sebulan setelah lulus kuliah aku mulai kerja, mengadu nasip jadi anak rantau dengah gaji UMR. Tapi UMR diperantauan hampir engak cukup, habis buat makan dan kebutuhan sehari-hari 😅 enggak bisa nabung apalagi ngirimin orang rumah.
Si C menjadi ingat akan sesuatu.
Dulu sekali, si B adalah teman 1 sekolahnya. Saat itu ia pernah terlibat hal dg si B.
Pada saat itu si B menciptakan rumor palsu tentang si C. Dan sekarang kejadian serupa pun terjadi si B menyebarkan rumor tentang si A yg berdampak pada si C.
Berawal dari percekcokan antar si A dan si B.
Dimana si A adalah saudana si C.
Tapi pada saat kejadian perang mulut itu si C tidak ada di tempat dan tidak mengerti duduk perkarahnya.
Setelah kejadian itu. Si A dan si B tak lagi bertegursapa alias bermusuhan.
Si B juga melampiaskan kemarahannya pada si C. Si B tak lagi murah senyum seperti biasa.
Si C tidak mengerti kenapa si B bersikap acuh padanya, padahal ia tak merasa melakukan kesalaha.
Rupanya terdengar desas desus bahwa saat percekcokan itu terjadi si A menyuruh si B untuk tidak berhubungan dg si C. Karena hal itu si C bertanya pada si A, apakah benar begitu?
Si A pun tak pernah menyadari bahwa ia pernah berkata seperti itu.