Grand Final SUCI 12 Extended Version udah rilis!
Durasi versi biasa (tanpa iklan) 1 jam 56 menit. Versi ini 3 jam 11 menit!
Khusus buat member Yt StandUpKompasTV ya.
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Google baru saja melepaskan bom di dunia AI.
Perang harga AI bisa jadi mulai berakhir.
Model-model terbaik kini semakin banyak yang tersedia secara gratis dan yang paling mengejutkan, bisa dijalankan langsung di komputer kamu sendiri.
Namanya Gemma 4, model dengan 26 miliar parameter yang mampu berjalan secara lokal di mesin pribadi.
Tapi yang benar-benar bikin keren dan masih jarang dibahas orang adalah kemampuan native function calling-nya.
Artinya, Gemma 4 tidak hanya bisa menjawab pertanyaan. Ia bisa menggunakan tools dengan sendirinya: browsing web, mengeksekusi kode, memanggil API, dan beroperasi sebagai agen AI yang otonom.
Semua berjalan offline, di hardware kamu sendiri, dan sepenuhnya gratis.
Stack AI agent lokal terbaik untuk 2026:
▫️Ollama + Gemma 4 sebagai otak utama (gratis & lokal)
▫️ MCP servers untuk menghubungkan berbagai tools (web, database, API)
▫️ Claude hanya untuk tugas-tugas berat yang membutuhkan reasoning tingkat tinggi
▫️ Gemma 4 untuk hampir semua pekerjaan sehari-hari
Dengan kombinasi ini, kamu bisa berhenti membayar ratusan dolar setiap bulan untuk langganan AI.
Riset mendalam, review kode, drafting dokumen, analisis data, semuanya bisa dijalankan secara lokal dengan Gemma 4.
Hanya pakai Claude saat benar-benar membutuhkan kemampuan maksimal.
Setup-nya pun sangat mudah, hanya butuh 2 menit:
1. Install Ollama: curl -fsSL https://t.co/uQGreFIjuu | sh
2. Pull model: ollama pull gemma4
Selesai. Kamu sudah memiliki AI kelas atas yang berjalan di laptop atau PC kamu sendiri tanpa biaya bulanan, tanpa bergantung internet, dan sepenuhnya privat.
Sebuah model open source 26B yang performanya mampu menyaingi model jauh lebih besar.
Mau mencobanya?
They tried again and they failed again. No, I’m not talking about the decades of repeatedly failed genocidal attempts to wipe out the Palestinians, but rather the ludicrous and pathetic attempts by FSV Mainz 05 to yet again appeal against their loss of my case in the German courts only to lose again.
Today, the German courts dismissed the latest appeal from FSV Mainz 05 which affirms the earlier judgment ensuring justice was served with my resounding victory.
Time for the deluded decision makers at FSV Mainz 05 to give it a rest and pay up the remainder of my contract. Worthy causes supporting the children of Gaza await. That should give some solace to the executive team at FSV Mainz 05.
Free Palestine
Izin saya menambahkan konteks biar diskusinya lebih tajam.
Kasus ini bukan cuma soal "jasa editing dihargai Rp 0." Itu memang bagian paling mencolok dan bikin emosi, tapi masalah strukturalnya lebih dalam. Amsal Christy Sitepu itu videografer yang bikin video profil untuk 20 desa di Kabupaten Karo, masing-masing Rp 30 juta. Videonya jadi, sudah tayang di YouTube, dan 20 kepala desa yang jadi saksi di persidangan bilang tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Satu pun tidak ada yang komplain.
Yang bikin masalah adalah, auditor Inspektorat Karo menetapkan harga wajar cuma Rp 24,1 juta per video. Selisih Rp 5,9 juta dikali 20 desa, jadilah "kerugian negara" Rp 202 juta. Dan di dalam perhitungan RAB versi auditor itu, lima komponen pekerjaan kreatif, yaitu penciptaan ide/konsep, cutting, editing, dubbing, dan penggunaan mic/clip-on, semuanya dipatok Rp 0. Nol. Alasannya? Tidak ada kwitansi fisik pembelian dari pihak ketiga. Karena proses editing itu terjadi di kepala dan di depan layar komputer, bukan beli semen yang ada notanya.
Nah, ini yang perlu kita lihat lebih jernih. Logika auditor itu memang cacat, tapi cacatnya bukan karena orangnya bodoh. Cacatnya karena Standar Harga Satuan di hampir semua pemda di Indonesia memang tidak punya acuan untuk menghargai kerja kognitif. Pemda fasih menghitung harga semen per sak, aspal per ton, konsumsi rapat per orang.
Tapi tarif per jam kerja editor video? Biaya amortisasi lisensi software editing? Tidak ada pedomannya. Jadi ketika auditor dihadapkan pada komponen yang tidak bisa dibuktikan dengan nota belanja fisik, mereka ambil jalan paling "aman" secara birokrasi, yaitu menolkannya, daripada dianggap subjektif oleh BPK di atasnya nanti.
Tapi bukan berarti itu bisa dibenarkan Yah.
Menolkan nilai editing sama saja bilang bahwa raw video bisa langsung jadi video koheren tanpa campur tangan manusia.
Menolkan ide kreatif sama saja bilang storyboard, konsep visual, dan narasi itu muncul dari udara kosong. Ini penyangkalan total terhadap kekayaan intelektual.
Dan ada masalah hukum yang mungkin luput dari perhatian publik. Amsal didakwa pakai Pasal 3 UU Tipikor, yang intinya soal "menyalahgunakan kewenangan karena jabatan." Masalahnya, Amsal itu vendor swasta. Dia tidak pegang jabatan di pemerintahan, tidak punya akses untuk mencairkan dana APBDes, tidak punya wewenang administratif apa pun.
Yang punya wewenang otorisasi pencairan dana itu justru kepala desa. Tapi 20 kepala desa itu cuma dijadikan saksi, bukan tersangka. Yang ditahan justru penyedia jasanya. Agak aneh kalau dipikir, ya.
Saya nggak bilang Amsal pasti benar seratus persen. Bisa saja ada selisih harga yang perlu dipertanyakan.
Tapi kalau memang ada kelebihan bayar, mekanisme koreksinya seharusnya lewat jalur administrasi atau perdata, bukan langsung dilompati jadi pidana korupsi. Apalagi dengan nominal yang kalau dipecah per desa cuma selisih kurang dari Rp 6 juta.
Besok, 30 Maret, Komisi III DPR akan gelar RDPU soal kasus ini. Dan vonis dijadwalkan 1 April. Semoga majelis hakim punya keberanian untuk melihat bahwa ada yang salah dengan cara kita menghargai kerja kreatif di negara ini.
Karena kalau preseden ini dibiarkan, siapa yang berani ambil proyek pemerintah lagi?
Ini perspektif saya yah, bisa jadi ada sudut yang belum saya lihat.
HP lo hilang. Lo buka Find My Device dari laptop.
“Last seen: 4 jam lalu. Lokasi: Stasiun Manggarai.”
Abis itu? Udah. Nggak gerak lagi. Offline.
Yang ngambil langsung matiin internet. Cara lama yang udah biasa.
Dulu sih ceritanya berhenti di situ.
Sekarang? Nggak lagi.
4 tahun lalu gua kerja pegang project grabfood. Ada Tukang Ketoprak deket rumah gua, liat gua balik kerja pake lanyard grab pas gua lg beli balik kerja. Dia tanya “Masnya kerja di grab” Gua jawab ajah “Iya Pak” dia minta tolong daftarin grabfood biar rame Ketopraknya.
Delete my entire childhood cause why did i just find out it’s “rambut digunting pala botak” and not “tikutikutik pala botak”?
this is actually sick and twisted
Fyi aja, populasi dunia ada 8,3 miliar manusia dengan perjuangan yg beda2. Banyak yg terlalu sibuk bertahan hidup sampe ga sempet ngikutin isu2 terkini. Kalo semisal ketemu org yg ga tahu apa2, cukup beri tahu aja, ga perlu ngehujat. Edukasi itu merangkul, bukan memukul.