@GeraldGeraldA1@MakiTheSalafi indonesia have been colonize by dutch and portuguese with their gold glory gospel thing bro. search it up, it is not that difficult. read fckin history book before ever speaks about another country u fckin dumb
Ini yang aku pertanyakan seumur hidup, orang² di sekelilingku kalo ditanya kenapa ini ga boleh, kenapa ini wajib, jawabannya rata² karena dilarang di kitab suci
The answer does not feed my curiosity, it makes me drift away instead
Saya yg sudah rela santun, penuh tata krama, & menjalankan unggah-ungguh khas keluarga borjuis orde bau pun, akhirnya cuma dighosting & dirasani dengan sangat classist & ableist di Thread 🥲
Apa yg sering sa bilang makin terbukti: duit korupsi (sejarah) tak pernah ingkar janji.
Kebiasaan nulis buku romance orag kaya. Sampe lupa ada orang puluhan tahun hidupnya susah gegara film propaganda G30S/PKI.
Napak tanah sekali-kali jangan liat dari menara SCBD mulu.
@inididii@monyetwtf Pak, kalo kasusnya diubah gimana? Misal 'jangan jadi apa aja asal muslim' dengan konteks mayoritas gasuka muslim apakah bakal ngomong konsekuensi publik? Contohnya? banyak tuh di Amerika ngehina islam sebagai agama teroris 😂
@pens22@wordfangs kebebasan berekspresi lu pasti bias kalo berhubungan sama yang lu bela. Ada orang yang bikin lolucon soal agama lu, lu pasti bakal bilang (agama+phobic). Contoh: islamophobic gapapa atas nama kebebasan berekspresi di amrik pake logika elu 😂
Di penghujung 2023, viral momen Prabowo menyindir obrolan soal etika dari rival politiknya (Anies Baswedan) dengan lontaran kasar "Ndasmu etik!" di sebuah forum internal partai.
Parahnya, pihak jubir justru mengklaim kalau ucapan itu cuma lelucon biasa.
Ini fatal banget. Etika itu fondasi dasar bernegara. Ketika seorang pemimpin tertinggi terang-terangan merendahkan konsep etika dan menjadikannya bahan tertawaan, itu udah tanda-tanda sih seolah:
"Ngapain mikirin etika dan moralitas kalau lo punya kekuasaan?"
Dan mengingat gaya komunikasi Prabowo yang meledak-ledak dan kadang ambigu, elit di sekitarnya seperti Wamen Fahri Hamzah sampai harus pasang badan dengan meminta publik, "Jangan diambil personal".
https://t.co/gearUVQLKG
Pakar hukum tata negara Feri Amsari langsung nge-ulti balik narasi ini, "Aneh jadinya kalau kita diminta mengerti Presiden, bukan Presiden yang mengerti kita".
https://t.co/psD4y0f6YG
@lembahbulan serasa baca 2 novel, dantes (awal sampe dantes dapet harta karun after kabur dari penjara) sama count of cristo monte setelahnya sampe tamat. best buku bantal yang pernah aku baca
Kalau orang ngerjain tugas kuliah harus sampai bawa printer ke cafe, artinya ada sesuatu yg salah di sini.
Saya punya beberapa pertanyaan:
- Kampus jaman sekarang UKT nya selangit, tapi kenapa tidak ada infrastruktur & layanan bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas di dalam kampus? Kenapa musti ke cafe? Kalau saya punya cafe, saya akan tanya kenapa kamu sampai kayak gitu? Terus kalau cafe nya tutup jam 10 malam, terus mereka pada ke mana? ke McDonald's 24 jam?
- Perguruan tinggi apalagi yg masuk rangking ini itu harusnya punya layanan untuk mahasiswa begadang mengerjakan tugas, serta laboratorium komputer utk mahasiswa bisa mengerjakan tugas spesifik keilmuan. Agak aneh kalau mahasiswa teknik musti punya laptop gaming pakai GPU dan beratnya ampun-ampunan hanya utk jalankan software teknik yg harusnya bisa disharing di lab komputer. Ada teknologi namanya remote desktop & remote GPU. Kenapa fasilitas kritikal begini nggak pernah jadi iklan sebuah kampus?
- Proses pengerjaan tugas itu kan dibikin di komputer dulu, ya kalau belum final ngapain diprint? Kan sekarang kampus pada langganan Microsoft 365, ya mestinya koreksi dokumen & komentar kan bisa dilakukan secara online? Diketik di Word, disimpan di OneDrive, dosen & mahasiswa nya punya akun, kan itu bisa dipakai kolaborasi? atau nggak ngerti caranya gimana?
Coba saya ingin lihat komentar anda melihat hal yang aneh ini. Atau bawa printer ke cafe itu sekarang dianggap tidak aneh?
Yg jahat dr pulang ini menurutku karakter2 eksilnya dibuat "enggak PKI tp kebawa arus komunis sampe jd eksil jauh dr rumah," seakan2 mereka korban ideologi yg sukses merenggut mereka dr akarnya, menihilkan kemampuan karakter untuk berpikir kritis jg.
Dalam esai Henri Chambert-Loir yang berjudul 'PKI Stroganoff Novel Pulang Leila Chudori'. Ada beberapa poin yang menarik untuk disimak;
Sebuah utas
- Sejumlah eksil di luar sana memiliki komitmen yg besar terhadap pandangan politik mereka, bahkan di film Eksil ada yang bangga menjadi komunis dan pengikut Sukarno. Di novel Pulang tidak ada seorang pun komunis hanya satu tokoh saja yang dikaitkan dengan komunisme, Hananto. Dalam novel Pulang eksil lainnya bahkan memiliki pandangan politik yang abu-abu.