Konflik Ambon, Poso, Aceh, Afghanistan, perang Vietnam, perang Malvinas, perang Irak • Iran, perang Israel • Palestina, perang Rusia • Ukraina dll, kudeta berdarah, pun kudeta yang tak berdarah ( 1965 ), hingga Perang Dunia, pemenangnya bukan Admiral atau Jenderal, melainkan :
"𝗘𝗞𝗢𝗡𝗢𝗠, 𝗣��𝗗𝗔𝗚𝗔𝗡𝗚 & 𝗣𝗘𝗠𝗢𝗗𝗔𝗟".
Benar bahwa ada yg memang "terlatih", "melatih", "dilatih" merawat konflik, untuk dan atas nama "perintah" atasan, untuk dan atas nama negara, & apapun itu, bahkan ada yang sekedar utk bertahan hidup.
Tapi jangan lupa ;
Selalu ada yg tampil mengibarkan bendera "Perdamaian" & publik kerap berdecak kagum, sembari memberi label kemuliaan kepada sang pengibar bendera itu.
Padahal konflik itu diciptakan olehnya, agar ia bisa tampil bagai "Dewa Perdamaian" yg tanpa cela.
.
.
.
😁☕️🚬
"Rampaslah Uang Rakyat Secara Kreatif"
Jika pemerintah ingin mengambil (baca: merampas) uang rakyat, harusnya berpikir kreatif. Jangan seperti TAPERA yang super duper nggak kreatif.
Memahalkan cukai rokok itu termasuk cara yang kreatif. Sayangnya itu nggak diimbangi dengan ketatnya razia rokok non-cukai. Hasilnya jumlah perokok tetap tinggi, namun pendapatan negara menurun.
Kalau tidak bisa memastikan bahwa rokok non-cukai tidak bisa beredar, ya mending cukai rokok tetap murah, jadi rokok resmi akan murah dan orang akan memilih rokok bercukai. Perokok tetap akan memilih merek rokok yang terkenal jika harga jualnya tidak selisih banyak. Pendapatan negara pun akan lebih tinggi.
Kenapa memahalkan cukai termasuk cara kreatif untuk mengambil uang rakyat? Karena uang itu diambil dari orang yang "menyakiti" diri sendiri.
Negara itu ingin rakyatnya sehat. Ingin rakyatnya tidak merokok. Tapi, negara memberi "jalan" kepada yang ingin tetap merokok dengan bayar cukai ke pemerintah. Makin mahal makin baik.
Dengan cara berpikir seperti itu, hasilnya hanya ada 2 kemungkinan, yaitu: pendapatan negara sangat tinggi, atau rakyat Indonesia makin sehat karena jumlah perokok menurun.
Kedua kemungkinan hasilnya itu akan menguntungkan negara. Negara jadi banyaknuang atau warganya sehat. Sekali lagi, dengan catatan harus ada penegakan hukum tentang rokok ilegal.
Cara apa lagi yang kreatif selain cukai rokok? Ya kita cari hal-hal lain yang rakyat suka "menyakiti" diri sendiri.
Yang saat ini sudah legal sih, baru minuman beralkohol. Namun kita bisa melegalkan beberapa hal yang sebelumnya itu ilegal. Misalnya: legalisasi perjudian, legalisasi prostitusi, legalisasi pornografi, hingga legalisasi ganja.
Prinsipnya: legalkan dan mahalkan!
Mahalkan cukai atau pajaknya hingga masyarakat yang memakai (mengonsumsi) tidak masif, namun negara mendapatkan pemasukan yang besar dari situ.
Perjudian menurut saya yang paling punya potensi mendapatkan penghasilan paling besar. Penjudi kelas teri selama ini uangnya habis ke judi online. Penjudi kelas kakap uangnya terbuang ke Singapura, Malaysia bahkan sampai AS.
Selama ini, kita masih disuguh berita orang yang bangkrut karena judi online. Bayangkan jika itu uangnya masuk ke negara.
Judi model lotre (togel) seperti SDSB atau Porkas juga layak dipertimbangkan lagi. Negara bisa dapat uang dari orang yang suka judi seperti ini. Tak usah dipungkiri, togel ilegal masih ada di tengah masyarakat sekarang ini.
Orang bangkrut karena judi, itu hidupnya hancur kan memang "keinginannya" sendiri. Setidaknya dia sudah tahu risikonya.
Dengan melegalkan judi, pemasukan negara pasti tinggi.
Oh ya, masih ada 1 lagi yang selama ini legal, dan bisa membuat orang sakit, namun tidak ditarik cukai. Apa itu? Gula!
Gula itu jelas membuat orang sakit. Orang juga tak mati jika tak mengonsumsi gula pasir. Anehnya, kita malah memasukkan gula dalam daftar Sembilan Bahan Pokok (Sembako).
Harusnya gula itu diberi pajak sehingga jauh lebih mahal. Supaya orang mengurangi konsumsi gula. Ini tidak diterapkan ke produk gula rendah kalori sehingga orang akan lebih banyak memakai gula rendah kalori.
Konsumsi gula berlebihan termasuk dalam kategori: menyakiti diri sendiri. Harusnya dikenai cukai juga.
Jadi, intinya jika negara ingin merampas uang dari rakyat, ambillah uang dari orang-orang yang rela menyakiti diri mereka. Jangan malah minta 3% ke gaji karyawan berupa Tapera!
Masih banyak orang yang memang ingin menyakiti diri sendiri. Ambillah uang dari mereka. Jangan menyakiti orang yang sudah hidup baik-baik.
Orang baik:
- Tidak kriminal
- Tidak merokok
- Tidak mabuk-mabukan
- Tidak selingkuh
- Anaknya sekolah dengan baik
- Kerja keras jadi karyawan
- Gaji pas-pasan
Orang baik seperti itu yang mungkin hidupnya membosankan, kok ya tega masih dipotong gajinya?
Wahai pemerintah, tolong lebih kreatif sedikit-lah saat ingin merampas uang rakyat.
Dulu ada fatwa haram mengucap "Assalamualaikum" kepada pemeluk agama lain. Lalu ada yg mengucap salam sesuai khas agama orang lain — juga diharamkan. "Membuntungi aqidah", katanya.
Kalau saya ndak mau patuh kepada fatwa yang model begini memangnya kenapa? Bakal kafir, gitu?
Kecil dimarahin ibu, Sekolah kena marah Guru, besar kena marah Bapak, kerja kena marah atasan, nikah kena marah istri
Bahkan udah matipun masih dimarahi Malaikat
Laki-laki memang ditakdirkan untuk dimarahi
"Bukan Mengubah Islam, Tapi Meng-update Penafsiran"
Islam saat diturunkan di zaman Nabi Muhammad itu ajarannya itu ringan dan tidak rumit karena disesuaikan dengan budaya yang ada pada saat itu.
Lalu sekitar 1 abad kemudian muncul para Imam Mazhab yang menjadikan ajaran agama lebih tertata dan bersistem.
Dalam ajaran Imam Mazhab, aturan agama diperjelas supaya agama dijalankan lebih seragam. Ada aturannya. Beliau para Imam membuat aturan detail yang tidak diajarkan Nabi. Tentunya bukan tanpa tujuan. Islam dibuat menjadi lebih tertata dan "jelas".
Mulai era Imam Mazhab ini, agama Islam menjadi "pelajaran" alias bidang studi yang bisa dipelajari. Serba dibukukan dan diajarkan melalui sistem pendidikan. Ada guru, ada santri, ada garis sanad, dll.
Ajaran fiqih para Imam Mazhab itu "menciptakan" aturan untuk segala hal dalam keseharian manusia sesuai zaman itu.
Ada suci dan najis. Ada pembagian gerakan wajib dan sunnah dalam salat. Ada syarat sah dalam pernikahan dan juga jual beli. Ada pelajaran waris. Dan banyak aturan lain. Semua ada aturannya. Siapa yang membuat? Para Imam Mazhab.
Apakah aturan yang dibuat itu mutlak kebenarannya? Faktanya: 4 Imam Mazhab saling berbeda. Itu membuktikan pada dasarnya aturan para Imam Mazhab itu tidaklah mutlak.
Kenapa mereka bisa saling berbeda? Karena Nabi tidak menjelaskan secara detail atas semua itu. Pelajaran yang disampaikan para Imam Mazhab itu adalah hasil "penafsiran".
Lalu, apa dasar mereka dalam membuat aturan-aturan itu? Logika. Akal. Semua disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan logika manusia saat itu.
Setelah zaman era Imam Mazhab itu, imam-imam besar berikutnya memilih untuk menyatakan bahwa mazhab yang diakui hanya 4 imam itu.
Bisa dikatakan, sampai sekarang. Pendapat 4 Imam Mazhab akhirnya dijadikan sumber dalil.
Lalu, benarkah kita tak boleh berbeda dengan hasil penafsiran 4 Imam Mazhab itu?
Semua aturan yang dibuat Imam Mazhab itu didasari dengan logika dan akal yang disesuaikan dengan zaman saat itu.
Menurut saya, akan sangat aneh jika kita yang hidup di abad 21 ini harus mengikuti penalaran atau penafsiran agama dengan logika 11-12 abad lalu.
Dalam sebuah pengajian, Quraish Shihab pernah mengatakan bahwa ada hadis-hadis yang saat ini tidak lagi relevan.
Pendapat seperti itu, bagi banyak muslim bisa diartikan menghina hadis. Padahal, tidak bisa dipungkiri bahwa menafsirkan hadis tak harus tekstual. Kita harus bisa menggali kenapa di kondisi saat itu, Nabi Muhammad bersabda seperti itu.
Kalau hadis saja seharusnya kita tafsirkan ulang, apalagi pendapat para Imam Mazhab.
Saya bukan tak menghargai hasil penafsiran 4 Imam Mazhab itu. Mereka luar biasa hebat dan sangat berjasa pada Islam.
Hasil penafsiran mereka sungguh bermanfaat karena secara fakta berhasil mengantarkan Islam hingga abad 21 saat ini.
Namun sudah saatnya ada penafsiran ulang tentang Islam yang mungkin tidak selalu sama dengan pendapat 4 mazhab.
#islammasdepan bukan berarti mengubah agama. Juga bukan berarti melawan dalil: "Islam sudah sempurna". Konsep Islam masa depan justru menunjukkan kesempurnaan Islam yang bisa mengikuti perkembangan zaman.
Bukan Islamnya yang berubah, tapi penafsirannya yang seharusnya di-update. Dan kunci menafsirkan ulang adalah tidak terpaku pada dalil secara tekstual, melainkan berusaha memahami secara kontekstual.