Spread kindness to every stranger you meet right now. The post received an outpouring of affection and enthusiasm from her fans. Mia replied: “Auntie Mia is all set! I’m looking forward to snapping selfies with the little one.”
A new dawn breaks, clear and radiant, and my son rises early, brimming with eagerness to fish, his vigor renewed, his enthusiasm undimmed. I grin, prepared to embark on yet another day of exploration with my young angler. 🍦Devote yourself to pursuing your own aspirations.
Wardrobe Cleaning: The wardrobe is clean. Puppies accompany people through lonely nights, dispelling emptiness and fear. Their warm presence fills the darkness with a gentle sense of security.🥺
"Jurus Mabuk Purbaya"
Setelah dilantik, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sesumbar dengan mengatakan bahwa Indonesia kembali cerah 2 sampai 3 bulan ke depan.
Sekilas terkesan sombong. Tapi menurut saya, pejabat yang sesumbar seperti itu malah lebih baik. Setidaknya, itu menunjukkan bahwa dia sudah tahu apa yang harus dia kerjakan.
Coba kalau semua menteri berani seperti ini, kita rakyat malah tinggal menagih sesumbarnya saja nanti jika omongannya tak terbukti.
Kalau kita perhatikan, kebanyakan menteri itu tidak ada bedanya antara dia kerja atau tidak. Kebanyakan menteri itu sulit kita ketahui ukuran keberhasilan kinerjanya.
Coba Anda lihat kinerja Menteri HAM, Menteri ESDM, menteri BUMN, atau Menteri Ketenagakerjaan. Apa sih yang bisa kita banggakan dari kerja mereka selama mereka menjabat?
Menteri yang berani sesumbar seperti Purbaya, justru membuat kita gampang untuk menagih di waktu mendatang. Dia juga bisa langsung kita masukkan ke daftar menteri yang layak di-reshuffle jika memang tak terbukti mencapai hasil yang dia janjikan sendiri.
Dan kalau benar dia kena reshuffle dia nggak bisa marah ke Presiden -dan merapat ke oposisi-, kan memang dia nggak bisa kerja.
Menteri yang berani sesumbar seperti Purbaya ini harusnya bisa diperbanyak dan dibudayakan. Supaya kita tahu kapasitasnya di posisi itu.
Jika Sri Mulyani adalah "ahli kungfu resmi" dari perguruan shaolin, Purbaya ini ahli kungfu yang menguasai jurus mabuk. Jelas itu bukan ajaran kungfu shaolin, tapi dalam kondisi terdesak, jurus itu bisa mengalahkan banyak aliran kungfu yang hebat-hebat.
Saya rasa Presiden Prabowo tidak salah pilih menteri pengganti Sri Mulyani ini. Jurus mabuk Purbaya mungkin saja benar-benar bisa mencerahkan langit ekonomi kita. Semoga.
Mojokerto, 12 September 2025
Hasyim Muhammad
First Principles Thinking
Memecahkan Masalah Judol dan Pemblokiran Rekening Dorman
Elon Musk sering mengatakan bahwa "fisika adalah kerangka berpikir yang paling solid untuk memahami dunia." Jansen Huang CEO Nvidia juga mendorong generasi muda untuk belajar Fisika. Ini karena, salah satunya mereka sering menggunakan pendekatan berbasis first principles thinking. Memecah masalah ke komponen dasarnya, lalu membangun solusi dari sana. Pendekatan ini berasal dari fisika.
Ketika kebijakan pemblokiran rekening dorman oleh PPATK memicu kegaduhan nasional, pertanyaannya bukan sekadar “siapa yang salah,” tetapi, Apakah cara berpikir kita selama ini benar? Apakah kita sungguh memecahkan masalah, atau justru menciptakan krisis baru atas nama solusi?
Di sinilah pentingnya menerapkan first principles thinking, cara berpikir mendasar yang tidak sekadar meniru praktik lama atau menambal dengan asumsi, tapi membongkar persoalan hingga ke akar terdalamnya dan membangun ulang dari nol.
Apa Itu First Principles Thinking?
First principles thinking adalah metode berpikir yang mendorong kita untuk membongkar asumsi-asumsi yang biasa kita terima mentah-mentah, lalu membangun pemahaman baru dari dasar logika dan fakta yang paling fundamental.
Konsep ini berasal dari filsafat Aristoteles dan populer kembali dalam dunia teknologi dan inovasi berkat tokoh seperti Elon Musk, yang menggunakannya untuk menekan biaya produksi roket di SpaceX dengan tidak mengandalkan harga pasaran, tapi menganalisis harga komponen dasarnya.
Dalam kebijakan publik, pendekatan ini sangat relevan karena:
• Banyak kebijakan lahir dari kebiasaan lama, bukan dari telaah ulang terhadap tujuan utamanya.
• Seringkali kita menyelesaikan masalah dengan metode yang diwariskan, tanpa menguji apakah itu masih relevan hari ini.
• First principles mengajarkan kita untuk berhenti bertanya, “apa yang biasanya dilakukan?” dan mulai bertanya, “apa yang sebenarnya ingin kita capai dan mengapa cara lama belum tentu satu-satunya jalan?”
Contoh sederhana, alih-alih berkata,
“Kami blokir semua rekening dorman karena selama ini itu cara yang efektif.”
First principles akan memaksa kita bertanya:
• Apakah semua rekening dorman memang berbahaya?
• Apa bukti empiris bahwa durasi dormansi berkorelasi dengan kriminalitas?
• Apa tujuan utama dari kebijakan ini, dan adakah cara yang lebih akurat dan adil untuk mencapainya?
Dengan cara ini, kita tidak hanya menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran, tapi juga lebih berkeadilan dan berkelanjutan.
Apa Masalah Sebenarnya yang Ingin Diselesaikan?
Jangan salah. Kita semua sepakat bahwa judi online dan pencucian uang adalah ancaman serius. Kedua kejahatan ini merusak masyarakat, menyesatkan generasi muda, dan menyusup ke sistem perbankan lewat lubang-lubang kecil bernama "rekening tidak aktif".
Tapi ketika negara memilih memblokir jutaan rekening hanya karena pasif selama 3 bulan, tanpa notifikasi, tanpa verifikasi, tanpa empati, kita perlu bertanya. Apakah ini benar-benar solusi, atau hanya refleks ketakutan?
“Bila memang untuk mencegah digunakan dalam kejahatan, maka rekening yang terindikasilah yang perlu diblokir karena ada dasarnya.” -- Trioksa Siahaan, SVP LPPI
Fakta Tak Terbantahkan (First Principles)
Mari kita lepas dulu asumsi, lalu lihat fakta dasar:
• Ya, banyak rekening digunakan untuk kejahatan digital.
• Ya, negara punya hak dan kewajiban menindak aktivitas ilegal.
• Tapi juga ya, tidak semua rekening dorman mencurigakan.
• Banyak rekening pasif justru digunakan warga kecil untuk tabungan haji, pendidikan, atau dana darurat.
• Teknologi data dan AI hari ini mampu membedakan mana yang berisiko, mana yang hanya pasif.
Lantas, mengapa semua rekening dipukul rata? Di sinilah analogi usang harus kita ganti dengan pendekatan yang lebih presisi dan adil.
Lanjut...
Bejat!
Oknum Guru Ngaji yang juga Tokoh Agama di Jaksel diduga Cabuli 10 Anak Muridnya dengan modus mengajari pelajaran terkait hadas.
Dalam aksinya, pelaku memberikan sejumlah uang 10rb-20rb dan tak segan2 mengancam korban
Pelaku sudah Ditangkap Polisi (30/6/2025)
Pemilik CV Sentoso Seal, Jan Hwa Diana, menyembunyikan 108 ijazah milik mantan karyawannya di rumahnya di Surabaya, Jawa Timur.
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim akhirnya menetapkan Jan Hwa Diana sebagai tersangka kasus dugaan penggelapan ijazah pada Kamis (22/5/2025).
~J #Ijazah #JanHwaDiana #Surabaya #Kriminal ##Read
Noel bilang Kaesang hanya diajak teman untuk naik jet pribadi..
Dijawab oleh pak Ray Rangkuti itulah poinnya, apa tujuan mengajak Kaesang naik jet pribadi!
Belakangan kita banyak disuguhi keburukan bernegara. Saya yakin, keburukan tak pernah menyukai kebaikan. Putusan MK kemaren adalah kebaikan kecil bagi demokrasi dan jika kebaikan sekecil itu saja ada yang mau lawan, maka itu pasti barisan keburukan. Kita harus balik melawan!
Raja Airlangga sebelum lengser keprabon membagi kerajaan menjadi dua, yakni Jenggala yg berpusat di Kahuripan dan Panjalu dengan ibukotanya di Daha (Kediri).
Ini kisah sejarah tahun 1045.