Tujuh anggota Brimob dinyatakan melanggar kode etik dalam insiden tew*snya driver ojol, Affan Kurniawan.
Tujuh polisi tersebut dihukum patsus (penempatan khusus) selama 20 hari.
Adapun tujuh nama anggota Brimob itu antara lain Aipda M. Rohyani, Briptu Danang, Bripda Mardin, Baraka Jana Edi, Baraka Yohanes David, Bripka Rohmat dan Kompol Cosmas Kaju.
Dalam sidang Divisi Propam Polri pada Jumat (29/8/2025), sopir mobil rantis mengungkap kronologi mobil tersebut melind*s Affan Kurniawan di tengah kerusuhan demo.
"Saya tidak mengerti posisi orang, karena saya tidak memperhatikan orang kanan kiri, Pak. Saya tidak memperhatikan atau siapa-siapa," ujar salah seorang anggota Brimob tersebut.
"Jalanan itu sudah banyak batu, Pak. Jadi, saya tidak mengerti apa-apa itu. Jadi, saya hantam saja. Karena kalau tidak selesai, Pak, sudah. Massa penuh, Pak," tambah dia.
Simak berita selengkapnya hanya di https://t.co/eol04vDanG
#HardNews_Tragedi #NewsOne #CariBeritaditvOne #AffanKurniawan #7AnggotaBrimob #MelanggarKodeEtik #NO02
✍️
Anies Sukses Bongkar,
Topeng Jokowi & Mega…"
Faizal Assegaf (kritikus)
Akhirnya terbongkar, Pramono mengaku Mulyono alias Jokowi berperan besar di Pilgub DKI Jakarta melalui rekomendasi PDIP dan Mega.
Harus diakui, Anies dan rakyat sangat cerdas, berhasil memainkan politik jujur dan bermartabat. Dan terbukti secara elegan: Satu per satu topeng kemunafikan Mega, PDIP dan Jokowi terbuka.
Bahkan para elite partai yang tergabung di kubu KIM, tidak lepas dari manuver jejaring Jokowi. Koalisi 12 partai tersebut diborong agar Anies tidak punya peluang maju di Pilgub.
PKS, Nasdem dan PKB yang sebelumnya mengklaim pendukung setia Anies dan aspirasi rakyat, terpaksa lempar handuk. Sangat licik permainan Jokowi dan Mega mengiring Prabowo ikut terjebak.
Tetapi menariknya gerakan mahasiswa dan protes keras dari elemen rakyat kian masif. Semua kejahatan Jokowi menjadi sorotan serius. Satu sikap: Menuntut adili Jokowi, Gibran dan Kaesang, dll.
Rakyat dan mahiswa sangat memahami bahwa dinasti Jokowi adalah sumber perusakan demokrasi dan negara. Watak dinasti super rakus tersebut tidak lepas dari sokongan PDIP dan Megawati.
Sandiwara Mega, PDIP dan Jokowi bersenyawa…!
**