@LambeSahamjja Duit segitu harusnya udah bisa buat:
1. Sekolah gratis buat seluruh anak Indonesia
2. Memodali para pengangguran membuat UMKM
3. Kesehatan gratis buat rakyat kelas menengah kebawah
4. Subsidi perumahan buat rakyat kelas menengah kebawah
Ini malah habis buat bancakan penguasa.
Guys, Nadiem Makarim baru saja berbicara di depan media setelah mendengar tuntutan jaksa dan apa yang dia katakan menurut gue adalah salah satu momen paling menggetarkan yang pernah terjadi di depan kamera dalam sejarah hukum Indonesia belakangan ini.
Bukan karena dramanya.
Tapi karena pertanyaannya
yang tidak bisa dijawab dengan mudah.
Angka yang tidak masuk akal:
Jaksa menuntut Nadiem 18 tahun penjara
ditambah denda.
Kalau uang pengganti tidak dibayar
ditambah 9 tahun lagi.
Total efektif: 27 tahun.
Uang penggantinya? Rp809 miliar
ditambah Rp4,8 triliun.
Total sekitar Rp5,6 triliun.
Sementara total kekayaan Nadiem di akhir masa jabatan menteri menurut pengakuannya tidak sampai Rp500 miliar.
Dan Nadiem langsung mengajukan pertanyaan yang menurut gue tidak ada jawaban rasionalnya:
"Tuntutan saya lebih besar dari pembunuh.
Tuntutan saya lebih besar dari teroris.
lebih parah dari kasus ferdi sambo
lebih parah dari kasus pembunuhan
yang menghilangkan nyawa seseorang
Kenapa?"
Dari mana angka Rp4,8 triliun itu:
Ini yang paling mengejutkan.
Angka Rp4,8 triliun diambil dari SPT pajak Nadiem tahun 2022 di mana dia melaporkan nilai IPO Gojek sebagai kekayaan.
Bukan uang yang dia terima tunai.
Bukan transfer yang masuk ke rekeningnya.
Tapi nilai saham pada saat IPO yang sifatnya sementara dan tidak pernah dicairkan dalam jumlah itu.
"Itu bukan uang yang saya terima.
Itu cuma nilai IPO.
Dari situ dia ambil,
oke sekarang harus dibayar balik.
Apa logikanya?
Dan untuk Rp809 miliar menurut Nadiem itu adalah transfer antara dua perusahaan Gojek yang tidak ada hubungannya dengan dirinya,
tidak ada hubungannya dengan Google,
tidak ada hubungannya dengan pengadaan Chromebook.
Yang paling telak tidak ada aliran dana ke Nadiem:
Di sinilah argumen Nadiem paling kuat dan paling sulit dibantah.
PPATK tidak menemukan transfer ke Nadiem.
Tidak ada aliran dana dari vendor ke Nadiem.
Tidak ada aliran dari Google ke Nadiem.
Tidak ada dari PT Akap.
Tidak ada dari PTG.
Nol.
Dan Nadiem mengajukan satu analogi yang sederhana tapi sangat mengena: "
Di dalam sidang mobil yang dihadirkan itu biru, harganya 100.
Di dalam tuntutan tiba-tiba mobilnya merah dan harganya 50.
Sesuatu yang sudah dibuktikan dengan dokumentasi, dengan saksi di dalam tuntutan balik lagi ke dakwaan awal. Buat apa sidang?"
Yang paling menohok dari seluruh pernyataan Nadiem:
Dia tidak memilih untuk pergi.
Dia tidak menyesal masuk ke pemerintahan.
Bahkan setelah semua ini.
"Untuk mencari uang itu bisa seumur hidup.
Untuk membantu generasi penerus bangsa kita menjadi lebih baik itu hanya kesempatan sekali dalam hidup."
Dan kemudian dia bilang sesuatu yang membuat ruangan itu hening:
"Saya sakit hati.
Saya patah hati.
Tapi orang cuma patah hati kalau dia cinta.
Saya patah hati karena saya cinta negara ini."
Yang perlu dikawal masyarakat:
Malam setelah pernyataan ini Nadiem
menjalani operasi.
Dia bilang kondisinya akan semakin parah
kalau tidak segera ditangani.
Ini bukan drama.
Ini realitas dari seseorang
yang sedang menghadapi ancaman 27 tahun penjara sambil menjalani prosedur medis.
Dan pertanyaan yang harus terus diajukan adalah:
kalau memang tidak ada aliran dana yang bisa dibuktikan kalau PPATK pun tidak menemukan transfer ke terdakwa atas dasar apa tuntutan sebesar ini bisa dikeluarkan?
Sistem hukum yang baik tidak seharusnya membuat seorang mantan menteri yang membangun Gojek dan menyuarakan pendidikan digital harus bertanya kenapa tuntutannya lebih berat dari teroris.
Kalau faktanya sudah terang benderang di persidangan tapi tuntutannya mengabaikan fakta itu maka yang sedang kita saksikan bukan proses hukum. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Dan Nadiem benar soal satu hal:
kalau orang tanpa nama besar dan tanpa suara mengalami hal yang sama tidak akan ada yang tahu. Tidak ada yang meliput.
Tidak ada yang peduli.
Berapa banyak Nadiem-Nadiem tanpa nama yang sudah terjebak dalam sistem yang sama?
just for nadiem
yang telah membuka lapangan pekerjaan
yang mungkin lebih berjasa daripada pemerintah itu sendrii,aparat dan penegak hukum itu sendiri
Profesor Herawati Sudoyo, Pahlawan Bom Bali yang "dikalahkan" oleh tembok birokrasi negara sendiri. Lo bayangin, kepolisian dunia aja hormat sama beliau karena sukses bongkar identitas pelaku Bom Bali cuma dari serpihan DNA. Tapi pas di negaranya sendiri, nasib beliau dan timnya malah berakhir ngenes gara-gara urusan administratif.
Namanya Prof. Herawati Sudoyo, salah satu otak paling cerdas di Lembaga Eijkman. Pas kejadian Bom Bali 2002, beliau dan timnya kerja gila-gilaan buat identifikasi pelaku lewat sisa-sisa DNA di lokasi ledakan. Berkat beliau, kasus-kasus terorisme besar bisa terungkap secara ilmiah.
Di tangan beliau, Lembaga Eijkman jadi markas riset genetika paling bergengsi di dunia. Bukan kaleng-kaleng, ilmuwan luar negeri aja segan sama riset mereka. Tapi ya gitu, musuh terberat orang pinter di sini bukan virus, tapi birokrasi.
Plot twist paling pahitnya terjadi awal 2022. Lembaga bersejarah ini dibubarin dan dilebur secara paksa ke instansi riset baru. Alhasil? Ratusan ilmuwan dan peneliti elit dipecat massal dalam semalam cuma karena mereka bukan PNS.
Bayangin, orang-orang yang udah ngabdi puluhan tahun demi kemajuan sains Indonesia, disuruh angkat kaki cuma karena masalah dokumen status pegawai. Dr. Herawati dan timnya harus ninggalin laboratorium tempat mereka nyetak sejarah internasional.
Ini jadi bukti nyata kalau di sini, "surat sakti" birokrasi kadang lebih berkuasa daripada otak jenius yang diakuin dunia. Padahal kita butuh lebih banyak orang kayak mereka, bukan malah bikin mereka "patah hati" sama negaranya sendiri.
Respek buat Prof. Herawati dan para ilmuwan Eijkman. Mereka udah kasih yang terbaik buat Indonesia, meskipun akhirnya harus "menelan luka" gara-gara sistem yang kaku. Pahlawan sains yang sebenernya.๐ซกโจ
Sayalah kelas menengah ke bawah yang sudah prepare itu. Sebagai orang tua tunggal yang berada di kubangan kemiskinan struktural dan punya 2 anak dari 2 generasi (Gen Z dan Alpha), ini yang saya lakukan:
1. Anak pertama (perempuan, usia 23 tahun, semester 6 teknik elektro)
- Sudah punya paspor
- Bahasa Korea
- Bahasa Inggris, score TOEFL -nya lumayan
- Bahasa Jepang
- Ngoding
- Software (Ms. Office, Autocad, Photoshop, dll.)
- Menulis (fiksi dan nonfiksi)
Selain itu, saya mengerahkan semua networking yang saya miliki untuk memastikan dia mendapat beasiswa S2 dan S3 serta cabut dari Indonesia.
Oktober nanti dia akan ke Malaysia dalam rangka pertukaran mahasiswa.
2. Anak kedua (laki-laki, 11 tahun kelas 4 SD)
- Ngoding (Python, LUA)
- Software (Ms. Office dan berbagai aplikasi untuk editing foto dan video)
- Bahasa Inggris
- Literasi digital
- Menggambar dan melukis
----
Saya sendiri tahun ini masuk ke UT ambil prodi Sains Data dan sedang belajar bahasa Jepang. Kuliah agar selain mempersiapkan masa depan anak-anak, saya juga mempersiapkan masa pensiun agar tidak menjadi "beban finansial" bagi mereka.
Saya serius ketika mengatakan, "Demi anak-anak, aku siap bertarung melawan dunia." ๐ฅ
15 tahun disekap dalam kandang besi seukuran peti mati dan ditusuk jarum setiap hari! Reaksi beruang bulan ini saat pertama kali terjun bebas ke dalam kolam air bikin jutaan mata menangis haru.
Bayangin hidup 15 tahun dikurung di kandang sempit yang bahkan nggak bisa berdiri tegak atau membalik badan. Itulah yang dialami Tuffy, seekor beruang bulan di salah satu peternakan empedu ilegal di Asia.
Setiap hari dia disiksa. Peternak menusukkan kateter logam karatan ke perutnya buat nyedot cairan empedu hidup-hidup, bahan baku obat tradisional. Cakar dan giginya sudah hancur karena terus menggigit jeruji besi karena putus asa.
Tuffy nggak pernah tahu apa itu hutan, rumput, atau air yang bebas. Hanya kegelapan dan rasa sakit yang tiada henti.
Sampai suatu hari tim penyelamat datang. Mereka bebaskan Tuffy dari kandang nerakanya, operasi darurat buat angkat kateter yang sudah bertahun-tahun menyiksa tubuhnya.
Beberapa bulan kemudian, saat Tuffy sudah pulih dan dilepas ke area suaka yang luas, terjadi momen yang bikin semua orang yang nonton videonya langsung banjir air mata.
Begitu pintu terbuka dan kakinya menyentuh rumput, Tuffy langsung berlari kencang menuju kolam air. Dia melompat terjun kegirangan, ciprat-ciprat air ke mana-mana, gosok-gosok badannya dengan penuh kebahagiaan. Seperti anak kecil yang baru pertama kali nemu taman bermain.
Dia seolah sedang mencuci bersih semua penderitaan yang dibebankan manusia selama 15 tahun.
Kisah Tuffy ini jadi pengingat keras betapa kejamnya manusia, tapi juga betapa kuatnya keinginan untuk hidup bebas.
Gila ya? Hewan yang selama setengah hidupnya disiksa, begitu dikasih kebebasan, reaksinya langsung kayak dapat hadiah terbesar di dunia.
Semoga semakin banyak kasus seperti ini yang terungkap dan semakin sedikit yang masih berlangsung.
Lo pernah liat video penyelamatan hewan yang bikin lo nangis? Atau ini salah satu yang paling mengharukan menurut lo?