Kenapa sih traits negatif kita di keadaan survival dan sulit selalu dibilang 'sifat asli'? How could our stress response supposed to define us as a whole person?
Sisters... before you give your heart to any man, go read Surah Luqman. That's the standard. That's the kind of man worth marrying.
If you don't know what I mean, read this.
Am I loving you right?
Am I making you feel safe with me? 🤍
Do you feel heard when you talk to me?
Is there anything I do that hurts you without knowing?
Am I giving you the attention you need?
Do you feel respected in this relationship?
What can I do to love you better?
Am I communicating clearly with you?
Do you feel secure about us? Are valid questions.
“Dunia ini cukup untuk kita semua”
Aku tiba-tiba ingat kata Psikologku (iya, Psikolog juga ke Psikolog), begini katanya:
“Nell, kita semua itu punya peran masing-masing. Tidak semua orang harus ‘bersinar’ dengan intensitas yang sama.
Ada Psikolog yang terkenal, kayak xx tapi ada juga yang nggak, kayak saya.
Tapi kalau orang yang biasa-biasa aja kayak saya gak ada terus yang ngelayanin kamu konsul siapa?
Dunia ini cukup untuk kita semua.”
Pas dengar itu, aku merasa…lega. Separuh rasa cemasku mereda di tengah-tengah perkuliahan yang bikin aku merasa gak percaya diri dengan kemampuanku.
Aku membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang menurutku hebat-hebat sekali. Ditambah standarku memang tinggi. Aku takut tidak jadi “apa-apa”, tidak dapat tempat.
Pelan-pelan aku mulai menata diriku lagi. Semuanya tidak harus sempurna. Aku hanya perlu tetap jalan.
Toh, secara objektif “biasa-biasa”nya aku sebenarnya buat orang lain itu bagus, tidak ada masalah.
Sampai sekarang, aku masih perlu mengingatkan diriku secara berkala,
“Setiap orang punya sinar yang berbeda, seperti bintang. Ada yang terlihat terang dan besar, ada juga yang kecil. Namun, keduanya sama-sama cantik dan penting.”
Hari ini pun aku mengingat kembali, aku mungkin tidak jadi musisi andal seperti Mozart tapi musikku cukup untuk anak-anak. Mungkin juga untuk sobat twitterku.
Dunia ini cukup untuk kita semua. Aku harap, kita yang lagi merasa tergesa-gesa bisa mengingat ini 💛
Please date sweet men. Please date men who respect you in anger. Please date men who are soft spoken. Please date men who are patient with you. Please date men who respect their own bodies. Please date men that are kind to your soul. Please date men who have self-control
pernah baca kalo hubungan ibu dan anak perempuan tuh emg complicated.
mereka saling ngerti sebagai perempuan, saling cinta sebagai anak ortu tapi entah bagaimana, juga saling menyakiti tanpa disadari.
kemarin denger sepupu yg lg ngobrol sama nyokap bilang “kita nih naluriahnya kalo cinta sama seseorg, pasti selalu ada rasa ingin memiliki. entah cinta ke pasangan maupun ke anak.
tapi yg banyak org gatau dan belum mampu, kalo rasa cinta itu ga cuma soal ingin memiliki, tapi tau kapan saatnya ‘melepaskan’
orang tua tuh mesti belajar ‘melepaskan’ anak dengan dunia mereka. kasih mereka kepercayaan. kasih mereka lepas.
betul, kita sebagai orang tua pasti ada rasa khawatir anak kita bakal kenapa napa. tapi coba biarin mereka belajar buat ngadepin masalahnya sendiri. apalagi kalo anaknya udah nikah”
disitu gue tertegun. iya ya. banyak org cinta yg tau rasanya ngejer utk ngedapetin hal tsb. tapi gatau kapan saatnya utk ‘ngelepas’ ketika waktunya dateng.
Tuhan, jika niatnya baik terhadapku, maka permudahkanlah segala urusannya. lancarkanlah jalannya menuju ke arahku, sesulit apapun jalannya aku mohon jangan biarkan dia gagal di pertengahan jalannya.
gue yakin banget akan jadi golongan manusia yg (kalopun) nikah “just to legalize it”
gue gamau nikah krn mau lanjutin keturunan, dibiayain hidup, dijodohin, atau alesan apapun selain pengen hidup bareng “my person” soulmate gue, my life partner. kayanya selain itu mending single
SUNGKEMM🙏🏻 BARU TAU SELAMA INI KALAU..
ternyata produk dari Jepang ga ada yg ga baguss, pake ini baru dua minggu tp bawah mata udah lumayan berkurang kerutannya 👀🫢
Keinget kalimat yang powerful banget pas nyoba nahan dari banyak godaan dosa :
"Barang siapa yang meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, dalam keadaan jiwanya sangat menginginkannya, niscaya Allah akan menggantikan baginya dengan keimanan di dalam hatinya, keluasan, kelapangan, barokah dalam rezekinya, dan juga kesehatan di dalam badannya, bersamaan dengan pahala Allah yang diberikan kepadanya, yang ia tak mampu untuk mendeskripsikannya. hanya Allah tempat meminta pertolongan."
Sudah tau belum batasan gula, garam, & lemak yg bisa kita konsumsi per hari?
#TIPS
1. Makan buah&sayur buat cemilan
2. Tabur garam pada masakan matang, bukan sebelum/saat masak
3. Banyakin makanan yg direbus, dikukus, atau dipanggang drpd digoreng
4. Cermati info nilai gizi makanan kemasan
I was trying to remember this earlier. 😆 So I tweaked it a little bit:
When your ambition is greater than your abilities, may your desire be greater than your fears.
😇
SEX DOESN'T MEAN MUCH TO HER, she can go forever without it. What she needs is an EMOTIONAL connection. She needs a man who doesn't just tell her how sexy she looks or how much he desires her. She needs a man who tells her what he admires most about her, makes her feel at home, and makes her feel MENTALLY safe. She needs a man who will correct her when she's wrong, give advice when she needs direction, cheer her on, and support her. She needs a man who can be both her BEST FRIEND and her LOVER.
I’m a woman, and here’s something we’re not ready to talk about:
Men are expected to give more.
Men are expected to fix more.
Men are expected to take more blame.
Women aren’t always expected to reciprocate.
When relationships fail, men are blamed—not because they’re always at fault, but because questioning women’s accountability is treated like “misogyny.”
Kadang2, pas pulang kerja, aku merasa bosan aja gitu; Biasa aku doomscrolling, YouTube shorts. Sekarang aku malah merasa bersalah... Buang2 waktu saja, gitu rasanya. Takut juga, nanti kemampuan fokus berkurang; Takut nonton propaganda. Aku mikir: Gimana kalau ke cafe? Ah bosan juga. Cafe mulu, pas duduk pun napain? Baca, scrolling... Sama aja akhirnya; Mau ke mall kah? Tapi mall pun isinya begitu2 je, cuma toko2; Penat rasanya keliling. Beli barangkah?
Gimana kalau cari barang di mana2 begitu? Tokopedia? Ah rasanya boros gitu; Konsumerisme. Masalah aku ngobatin bosan dengan belanja? Tak sehat... Dulu pun sudah sering begitu, masa sekarang mau begitu lagi? Alhasil cuma baring2 aja, mikir. Biasanya jalan kaki, tapi jalan kaki pun bosan. Kata orang: Berdamailah dengan bosan! Tapi aku, aku tak mau. Waktu rehat cuma sedikit, masa aku habiskan dengan bosan? Tak lama malam tiba, lalu besok tiba... Kerja lagi. Kalau waktu habis kerja cuma buat melamun, apalah artinya hidup? Cuma kerja lalu melamun kah?
Dulu temanku pernah tanya: Kalau kamu bisa ketemu dirimu di masa lalu, mau kasih nasihat hidup apa ke dia? Aku pikir bentar, lalu aku sadar: Mau dikasih nasihat apapun ke dia, dia tak akan paham. Paham itu bukan datang dari sekian kalimat omongan; Paham itu datang dari kumpulan pengalaman, datang dari kumpulan pengetahuan
Kalau diriku yang sekarang kasih tau ke diriku 10 tahun lalu: "Lakukan aja ini!", palingan dia cuma benar 1-2x saja, habis itu keputusannya ya tetap berdasarkan ilmunya di masa itu. Itupun kalau dia mau ikut nasihatnya kan ya? Berapa kali diriku dinasihati orang, tapi aku tetap bebal? Di otakku dulu nasihatnya yang terdengar tak masuk akal. Barulah setelah tau lebih banyak, terasa masuk akal; Barulah secara alamiah diikuti
Berapa kali orang tuaku ngomel "usia sudah segini, tapi belum mengerti?", tapi mau gimana? Orangnya tak ngerti; Ngerti itu bukan peristiwa ajaib yang muncul begitu saja di benak; Ia datang dari pengalaman, dari pengetahuan. Nyatanya aku berubah karena tau lebih banyak, bukan karena sekian2 "quotes" dan "nasihat" kecil saja; Bukan karena komplain 1-2x. Aku pikir orang lain juga umumnya begini; Kalau mau berubah, mau tak mau pengetahuan harus diperbanyak... Yang menumpuk2 itu ya lama2 membentuk keputusan di masa depan