Lha? Yang disalahin pemudanya. Siapa suruh jadi negara yang selalu mandang remeh iptek, kreativitas, karya cipta, dan perlindungan kekayaan intelektualnya? 🤣
Game tuh lahir dari kebebasan kreativitas dan jiwa seni yang didukung sama teknologi dan lingkungan yang melindungi kreativitas itu dan kekayaan intelektualnya.
Negara yang ga invest di SDM (bukan cuma perkara skill) dan sarana-prasarananya (termasuk hukum) penunjang lingkungannya ga akan bisa ngehasilin itu. Alhasil cuma bisa keluarin peraturan gajelas kaya harus terdaftar di PSE, bikin perwakilan di Indo, dll.
Bertahun-tahun merdeka, udah ada contoh negara yang jadi maju gegara teknologi, karya seni dan kekayaan intelektualnya (film, anime, manga, musik) sampai jadi identitas industri masing-masing. Tapi pengambil kebijakan dan pengusahanya sibuk jadi yang paling serakah sama kekayaan alam, jadi mafia. Trus masyarakatnya juga jauh/dijauhin dari sains dan kesenian --cuma dikasih makan nilai moral kosong yang ga tampak di kehidupan bermasyarakatnya.
Masyarakat yang jauh dari sains, (ngembangin) teknologi dan kesenian kemudian dah terbiasa malas berpikir, jadi pecinta klenik & keajaiban, serta ngertinya duit cepet.
Di kelompok tertentu, budaya dan kesenian bangsa sendiri dilarang sama mereka 🤣 Cerita sejarah, cerita rakyat, lagu & tarian adat/tradisional, desain arsitektur adat, ga dipelihara (malah dikikis dan disesuaiin sama budaya asing yang lebih miskin/gersang). Anak mudanya asing sama budaya dan sejarah dalam negeri sendiri. Padahal semua itu modal paling berharga.
Ga cuma itu, balik soal kreativitas. Kelompok yang larang-larang tadi sebenernya ngebatasin kreativitas dan keragaman karya. Lalu dengan mental premannya, bakal ganggu ekosistem industri. Liat aja itu industri film/sinetron atau program TV Indonesia. Miskin ragam. Ga bersaing, orang di level regional aja itungannya sampah (kecuali film (movie) kali, ya? Industri yang dah mayan).
Dengan situasi begitu, produk-produk yang dijual dan dikonsumsi akhirnya juga cuma produk-produk hasil iptek dan karya seni luar negeri (biasanya dilabel ulang atau mentok nyontek/jiplak teknologi di baliknya). Iya, masyarakatnya cuma jadi seller (itu pun nyontek), re-seller, broker, atau konsumen produk asing doang.
Mau bikin perpres atau aturan dan program buat gim yang kaya apa juga bakal percuma.
Mana litbang yang mumpuni? Mana pendidikan yang merata? Mana revolusi mental buat SDM-nya? Mana jaminan kebebasan berekspresi/berkarya?
Lalu heran kok ga ada produk-produk penelitian dan perkembangan iptek dan karya seni yang bisa dijual/unggul/bersaing? Kesal kok duit lari ke luar negeri (bahkan talents-nya)? Nyalahin anak mudanya? As a bunch of stupid mthrfckrs, that's very bold of you.