Bahkan cara berpamitannya bisa mirip sekali denganku dulu. Sampai alasannya juga persis sama. Aku dejavu dengan aku yg dulu. Aku melihat diriku dalam dirinya. Dia seperti aku yg lainnya. Seperti inikah rasanya bercermin?
Setia...
Bukan perihal kau satu-satunya. Tapi...
Meskipun ia bersama wanita lain, hatinya selalu memikirkanmu.
Berkhianat...
Bukan perihal kau diduakan. Tapi...
Meskipun ia selalu bersamamu, tapi hatinya selalu memikirkan wanita lainnya.
Dengarkan apa yang ada dibalik marah tadi, pahami apa yang sebenarnya dibutuhkan saat itu
Apa yang tidak kita sadari, tidak bisa kita sembuhkan
Salam sadar
Masa lalu tiap orang beda, tak sama juga wataknya. Sedihnya, ada yg maksa pasangannya bertingkah sama dgn dirinya. Hingga bertengkar.
Belajar mengurangi memaksa sama. Klo punya pasangan yg wataknya sama, lbh membosankan.
Bayangkan kamu hidup dgn seseorang yaitu dirimu sendiri.
Ingat saja, yg terpenting bukan mendapatkan, tapi merawat apa yang sudah ada. Dan merawat itu, bukan perkara yang selalu mudah dilakukan. Terkadang kita pun harus mencabut duri.
Kalau udah terlatih nahan diri biar enggak banyak ngomong, kamu akan makin mampu mendengar. Terutama mendengar betapa berisiknya pikiranmu sendiri.
Berdamai. Bukan melarikan diri. Berlatih jadi pendengar yang baik. Tak perlu tergesa percaya. Tak perlu pula terburu memberi makna.
Makin pintar, baik pintar pengetahuan, akademis, bahkan spiritual, manusia makin mudah terpeleset dalam perasaan paling benar, dan yang beda selalu dianggap salah.
Kepintaran perlu dilatih agar tidak sibuk menyalahkan. Adakalanya batin perlu istirahat dari konflik dan kritik.