"Percuma koar-koar di medsos kalo ga turun ke jalan"
Ga ada yg percuma. Coba liat si wowo tiap pidato kan selalu nyindir-nyindir pengkritik di internet. Dari situ udah keliatan betapa berpengaruhnya kritik di medsos untuk mengusik kenyamanan pejabat dzolim.
Maksud "yang tertakar tidak akan tertukar" itu adalah sadar akan segala sesuatu memang sudah direncanakan oleh Tuhan.
Yang jadi masalah, Mengapa kadang kita langsung memvonis kalau "itu" memang takdir kita?
Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk berhasil, tetapi berusaha.
ada quotes dr man's search for meaning yg aku suka:
"those who have a 'why' to live, can bear almost any 'how'."
klo hidupmu mulai punya "why" yg berasal dr diri sendiri, perhatianmu ke org lain akan mengecil. your love tank fills up when you become your own favorite company.
setiap aku ngerasa ketinggalan aku selalu sadar bahwa aku ini berangkatnya dari minus, mencapai titik nol udah jadi sebuah pencapaian besar dalam hidupku
kadang orang yg dikit2 takut/malu untuk nyoba bukan krn nggak capable, tapi krn terbiasa tumbuh dalam mode survival, jadi lebih baik cari aman ajaa gitu. definitely its not them to blame sih, blame the system and unequal access...
Semoga semua jawaban nembak utbk gua mayoritas benar terutama untuk pk pm astaga, bener - bener lagi takut bgt , pu juga aduh puk nembak lagi...pk gatau mau make metode apaan , pm day 1 sesi 1 msh mudah utk dijawab cmn tetep nembak...pk hampir 15 soal nembak :(
Tuhan izinkan aku untuk menikmati seporsi kemenangan kali ini, izinkan aku lolos dan bisa kuliah. Jika hasilnya lolos, ajari aku untuk tetap bersyukur, jika hasilnya gagal kuatkan aku utk tetap percaya bahwa rancangan-Mu lebih indah dari rancangan manusia
gak lolos smp favorit saya diam, gak lolos sma favorit saya juga diam, gak lolos snbp saya juga diam, TAPI KALI INI DI UTBK SAYA AKAN LAWAN. alias YA ALLAH PLS YA ALLAH LOLOSIN HAMBA KALI INI😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
@.:Bismillahirahmanirrahim Allahuma Yasir Wala Tuasir Allahumma sholli ala sayyidina muhammad, ya Allah ya Rahman ya Rahim ditanggal 25 Mei 2026 jam 15.00 WIB izinkanlah aku dapat kalimat "SELAMAT ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI SNBT 2026 PROGRAM STUDI PILIHAN 1" dan ada barcodenya
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.