Kepada Sdr Wapres @gibran_tweet, berkunjung ke lokasi problem spt dalam video ini sama sekali tak membantu. Ini gaya politiknya Bapakmu. Anda khan milenial. Masak gini? Kuajarkan caranya: Panggil Menteri @KementerianESDM, Kapolri, Menteri @KemenkeuRI dan K/L terkait. Tanyakan, Kenapa masalah ini berulang, apa jalan keluarnya, dimana hambatannya, siapa bertanggungjawab apa, mana skala prioritas, dll. Lalu, buat skenario jangka pendek sambil merancang skenario menengah panjang. Lalu laporkan ke Presiden. Kawal skenario dgn ketat. Jika berhasil, jadikan skenario baku jika peristiwanya berulang. Jika gagal, cari cara baru. Reaksi yg cepat harus diutamakan sebab warga makin tersiksa. Catatan: jadikan kejadian ini bahan utk mengukur kinerja menteri. Usulkan ke Presiden utk ganti menteri gombal. Begini cara Wapres yg bisa membantu. Berkunjung tanpa agenda penyelesaian spt ini hanya menyenangkan kelompok pendukung Anda yang tak sabar menunggu 2029.
prabowo spill ada buruh bawang:
- namanya ibu susana
- buruh harian kupas bawang
- upah dia 700.000/kilogram
- sekali lagi 700 rb per kilo
- kalo bisa 10 kilo sehari dapat 7 jt
- sebulan berarti 210 juta rupiah
Kita selalu saja larut dlm kasus demi kasus yg tdk habis2nya. Pdahal kunci utama prbaikan adalah penataan sistemnya secara terpadu. Smua pejabat-politisi brpikirnya cendrung cuma untung-rugi & menang-kalah transaksional. Sulit brharap akan ada prbaikan kalo tdk dimulai oleh RI-1
Begitulah, pelanduk tetap mati di tengah2. Ini bukan infotainment, di mana kita bisa nonton dan tepuk tangan. Bukan. Ini politik culas dan kita cuma dikasih hiburan sesaat padahal kita makin jauh terpuruk karena yang hancur adalah bangunan negara hukum.
Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah 🇮🇩 tidak memenuhi undangan Iran utk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yg terbunuh dlm serangan militer ilegal.
Yg saya dengar, berbagai upaya gigih Iran utk mengundang Pemerintah 🇮🇩 tidak mendapat tanggapan. (Mereka kan juga punya harga diri - tidak mungkin mengemis-emis kehadiran kita.) Akhirnya, yg hadir hanya Dubes RI di Teheran - yg dianggap oleh Teheran sbg sikap menyepelekan undangan ini, bahkan dianggap sbg tamparan. Sementara Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Kazakhtan, Mesir, Pakistan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh dll (lihat daftar dibawah) sama sekali tidak ragu mengirim delegasi resmi pada tingkat Menteri, bahkan Pakistan pada tingkat Presiden. 🇮🇩 sbg negara berpenduduk muslim terbesar di dunia satu-satunya yg ABSEN mengirim delegasi. Bahkan Malaysia nampak lebih bebas aktif dari Indonesia.
Apakah ini berarti polugri "bebas aktif" kita mulai LUNTUR krn 🇮🇩 takut/sungkan thdp Amerika ? Has “FEAR” become a factor in Indonesian foreign policy ? Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan MANAJEMEN sistem politik luar negeri yang penuh masalah - sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan. Paling tidak 🇮🇩 bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta - tapi beliau justru keliling Asia Tengah utk kunjungan yg sifatnya rutin.
Kita seakan melupakan bhw Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dgn hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara. Kehadiran delegasi resmi 🇮🇩 dlm acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei (yg sayangnya tidak terjadi) seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bhw adalah aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yg melanggar hukum dan norma internasional.
Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dlm situasi yg sensitif, kita bersembunyi.
Please remember : bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan
Boleh dikutip.
Keliru, Pak Menteri. Desa mana itu, hrs spesifik. Orng desa yg miskin kan jauh lbh sedikit daripada yg cukup. Kalau ikut BPS jml org miskin hny 8,7%. Masa, disamaratakan? https://t.co/Yj07gcKjvP lewat @YouTube
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Bantu Viralkan guys...!!! 🚨🚨
Kejadian kurang menyenangkan menimpa seorang pemuda asal Malang, pasalnya ia diserang oleh orang tak dikenal saat sedang ngopi bersama temannya di cafe.
Kejadian tersebut terjadi pada Kamis malam (19/03). Saat ini, pihak cafe telah melakukan pendampingan terhadap korban.
اگر ایران کے اسرائیل پر حملے اسی طرح جاری رہے تو ایک مہینے میں اسرائیل ختم جائے گا۔
ایلن اسرائیلی صحافی اور رائٹر 🚨
آپکا ایک لائک اور ایک ری پوسٹ امریکہ و اسرائیل اور انکے حمایت یافتہ لوگوں کی چیخیں نکلواتا ہیں اس کو فضول نہ سمجھیں
لہذا اس پوسٹ کو لائک اور ری پوسٹ کریں
یہ غزہ نہیں اسرائیل کے شہری ہے
یہ منظر دیکھنے کے لئے آنکھیں ترس گئی تھی
آپکا ایک لائک اور ایک ری پوسٹ امریکہ و اسرائیل اور انکے حمایت یافتہ لوگوں کی چیخیں نکلتا ہیں
لہذا اس پوسٹ کو لائک اور ری پوسٹ کریں
Kiai Afifuddin Muhajir: Ketegasan Ilmu dan Kejernihan Batin
Sebagai Wakil Rais ‘Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir dikenal luas sebagai ulama besar uṣūl al-fiqh dan fiqh. Keilmuannya mendalam, metodologinya rapi, dan pertimbangannya selalu berpijak pada kaidah-kaidah ushul yang kokoh. Di pesantren maupun di ruang-ruang diskusi akademik, beliau menjadi rujukan ketika persoalan hukum membutuhkan kejernihan analisis dan ketelitian nalar.
Integritas Kiai Afif tidak pernah diragukan. Beliau tidak bermain politik praktis, tidak menumpangkan kepentingan, dan tidak pula menjadikan otoritas ulama sebagai alat tekanan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi.
Pandangannya jernih karena bersih dari motif selain kemaslahatan jam’iyyah. Lebih dari itu, beliau sangat terbuka terhadap perbedaan pandangan. Beliau mau mendengar, mau mempertimbangkan argumen baru, bahkan kerap bertanya tentang sains, isu-isu digital, dan berita-berita kontemporer kepada saya. Dari sini terlihat: beliau bukan kiai yang manut pada informasi, tetapi ulama yang terus belajar dan memverifikasi.
Dalam konflik internal PBNU yang melibatkan Ketua Umum, sikap beliau menunjukkan ketegasan seorang ulama ushul. Setelah menimbang secara teliti berdasarkan prinsip-prinsip fiqh dan etika organisasi, beliau menyatakan bahwa Ketua Umum telah melakukan pelanggaran besar yang mencederai martabat jam’iyyah dan karena itu harus diberhentikan. Ketegasan ini lahir bukan dari sisi politik, tetapi dari amanat keilmuan.
Pada titik ini saya teringat sikap para ulama ketika membaca Perang Shiffin. Mereka memahami bahwa di mana pun ‘Ammār bin Yāsir berdiri, di situlah pihak yang lebih dekat kepada kebenaran, karena Nabi telah menubuatkan nasib Ammar.
Bagi saya, demikian pula: di mana Kiai Afif berdiri dan mengambil sikap dalam konflik internal PBNU, di situlah posisi yang paling dekat kepada kebenaran. Sikap beliau berpijak pada integritas, ilmu ushul, dan fiqh yang lurus, bukan pada politik atau kepentingan konsesi tambang.
Sebagai santri pecinta ushul al-fiqh dan fiqh, saya ittiba’, manut dengan sikap beliau.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Tiga Serangkai yang Menggerogoti Kita
Kerakusan
Kerusakan
Kerasukan
Kerakusan membuat manusia lupa batas. Ia membutakan hati, mengikis nurani, dan perlahan mengubah kebutuhan menjadi ketamakan. Dari sana lahir kerusakan, bukan hanya pada alam atau sistem, tapi pada jiwa. Ketika seseorang mulai percaya bahwa dia punya kekuasaan meraih semuanya demi keinginannya, maka yang rusak pertama bukanlah dunia, melainkan dirinya sendiri.
Dan akhirnya tibalah kerasukan: keadaan ketika seseorang tak lagi dikendalikan oleh akal sehat atau nilai yang dulu ia yakini. Ia berjalan, tapi bukan dirinya yang memegang kemudi; hasrat dan muslihat yang sudah menjelma tuan rumah. Ini lebih parah dari sekadar kerasukan syetan.
Kerakusan melahirkan kerusakan. Kerusakan membuka pintu kerasukan. Tiga serangkai yang selalu datang berurutan, dan sering kali tanpa kita sadari, mereka mengetuk dari dalam diri kita sendiri.
Negeri Rawan Bencana
Bencana banjir seperti di Sumatera itu tidak lagi bisa kita sebut musibah semata. Alam memang punya siklusnya, tapi korban ratusan hanya terjadi ketika manusia ikut merusak keseimbangan. Kalau kita ingin ini tidak terulang, solusinya sebenarnya sederhana. Yang sulit hanya konsistensinya.
Pertama, tata ruang harus jadi semacam “kitab suci”, bukan sekadar dokumen formalitas. Rumah tidak boleh dibangun di bantaran sungai, lereng curam, atau dataran banjir. Kalau sudah terlanjur, relokasi harus dilakukan dengan adil. Lebih sakit memindahkan orang sekarang daripada memakamkan mereka nanti.
Kedua, hutan tidak boleh lagi ditebang semaunya. Selama daerah tangkapan air rusak, banjir bandang hanya soal waktu. Reboisasi harus massif dan pengawasan harus tegas. Tidak bisa lagi ada “izin istimewa” yang menggadaikan nyawa rakyat.
Ketiga, peringatan dini dan infrastruktur sungai harus dibangun dengan benar, bukan proyek asal jadi. Sensor curah hujan, check dam, kolam retensi, dan jalur evakuasi bukan barang mewah; itu kebutuhan dasar di negeri rawan bencana.
Keempat, literasi bencana harus masuk dalam pelajaran di sekolah. Orang harus tahu tanda bahaya dan bagaimana menyelamatkan diri. Jepang selamat bukan karena negaranya sakti, tapi karena warganya terlatih.
Dan terakhir, pemerintahan yang bersih adalah fondasi segalanya. Kalau AMDAL bisa dibeli, kalau tebang hutan bisa dinegosiasikan, kalau proyek mitigasi bisa di-mark up, maka setiap musim hujan kita hanya menunggu bencana berikutnya. Dan ingat bencana alam bukan cuma banjir, tapi juga gempa bumi, gunung meletus, kebakaran hutan dan lainnya.
Jangan ada yang berlindung di balik kata takdir dan seolah ini azab dari Allah. Kalau ini dianggap hukuman, apa kita tega menyalahkan para korban seolah mereka terkena azab? Kalau ini azab, maka seolah tak perlu ada antisipasi dan mitigasi serta edukasi untuk meminimalisir korban dan dampak bencana. Semakin hancur, semakin berhasil “azab” tsb kan? 😰
Saya percaya alam memberi isyarat akan kelalaian dan kepongahan manusia, tapi saya juga percaya Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih-Nya lebih besar dari murka-Nya.
Matinya Roda Jam’iyyah Kami
Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am. Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum).
Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen.
Ini bukan lagi soal organisasi yang macet. Ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati.
Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah. Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah jadi dokumen mati.
Tagline ingin “menghidupkan kembali Gus Dur”, nyatanya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin “governing NU”, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres. Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.
Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini….
Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy’ari dan para muassis NU lainnya 🙏🏻😰
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Mengapa harus mbah Yai Mus yang ngendiko. Mana anak-anak muda kita (kelompok tradisionalis terpinggirkan dulu) di ormas di partai di LSM di pusat ?. Empatinya sudah menguap dan sudah lupa pengalaman pahit ? Atau sudah dapat kue ? Hanya sedikit kader kita yang bersuara.