"capek-capek liputan demo eh dia nerima duit"
"nah ngomonga dah tuh mereka. foto-foto sama mas wapres"
"eh abis itu dia ngaku nerima duit"
kerasa bgt rasa kesal kakaknya dari suara voice overnya 😭
kerasa bgt rasa kesal kakaknya dari suara voice overnya 😭
list harga yang udah naik:
- Tuku
- Beras
- Air Galon 15L leminer
- Pertamax
- Minyak Sayur
- Gula (Naik dikit)
- Gas melon
- sembako fresh (ayam, telur, cabai, bawang, etc)
- Parkir (udah banyak yg ga nerima 2000😭)
apa lagi?
Karena banyak yg tanya, aku jelasin stepnya ya.. [thread]
1. Pertama kalian harus download dulu aplikasi namanya Digital Korlantas..
yang peru disiapin itu
- Foto SIM
- Foto KTP
- Pas Foto 3x4 (latar biru)
- Foto Tanda Tangan latar putih
2. Tes Kesehatan di e-rikkes/id ini ada di aplikasi korlantasnya tinggal ikuti stepnya, ini tes umum kaya riwayat sakit dan tes buta warna, ini gratis
3. Tes Psikologi di epPsi, ini ada didalam aplikasi korlantasnya, tinggal ikuti stepnya aja, ini lumayan banyak soalnya jadi harus sabar2, ini berbayar Rp 77.500
4. Kemudian pembayaran perpanjangannya
SIM = Rp 75.000
Biaya layanan = Rp 10.000
Biaya pengiriman = Rp 22.501 (kalau express 31.501
Total = Rp 107.501
pembayarannya hanya melalui virtual account bni
Jadi total aku bayar sekitar Rp 185.000
Dan pengiriman itu kurang lebih 3-5 hari tergantung lokasi, dan usahakan maksimal 2 minggu sebelum masa aktif SIM habis.
Selamat mencoba!
Gue umur 30 dengan gaji 30jt++ dan tabungan bbrp ratus juta. 2023 gaji gue 40jt++ bahkan sebelum pindah tempat kerja.
Tapi ini bukan konten flexing.
Gue sengaja naro flexing di depan dan pasang foto di bwh biar dapet hooknya, buat kalian yg minat baca dan punya reading comprehension yg bagus, gue mau kasitau hal2 yg bikin gue di posisi skrg, follow kalau suka konten2 gini, gue bahas banyak hal dari marketing psikologis, data, finansial, sampe hal2 random lainnya.
Ke bawah buat baca
1. Dont do what you love, do what you need
Gue lulusan sastra, gue hrs belajar extra dan banting tulang lebih keras biar bisa paham sama data analytics, mulai dr excel ke power bi, tableau, AWS, DOMO, dll
Gue gasuka belajar, tapi demand buat org2 yg menguasai tools2 yg gue sebut tadi itu gede dan gajinya pun jg gede ((btw promo dikit kalau kalian mau belajar tools2 data cek aja link di profile))
Jd semuanya gue telen trs gue just do it, tanpa mikir passion
2. Master what the market needs
Market tuh butuh apa sih? Di dunia yg serba cepat ini, techbros2 itu sangat dibutuhkan, tapi bisa teknis aja tu ga cukup.
Kita tu harus nguasain fundamental dr critical thinking, jangan telen mentah2. Selain teknis, kita jg hrs bisa kasih added value, apa sih yg buat org tuh mau bayar kalian mahal.
If you are good at something dont do it for free
Banyak orang2 indonesia punya skill teknis tp gapunya skill jualan, padhal kt hrs bisa jual diri.
3. Dont be cheap
Kalian tuh kan ada duit ya bisa lah sisihin uang rokok or ngopi or belanjanya buat bayar org ngajarin kalian. Gue tau di negara kita banyak yg aneh2, tapi yg legit jg banyak kok, makanya kritislah dan cek track record.
Jangan pelit2 sama diri sendiri, apalagi buat isi kepala, kalau hrs bayar buat belajar why not?
Sampe sini dulu soalnya mager mau lanjut, kalau kalian baca sampe sini congrats ya kalian da oke lah reading comprehensionnya, cheers!
Baru paham kenapa dulu Rizal Ramli dan Faisal Basri di serang habis-habisan. Dan saat ini ucapan Rizal Ramli dan Faisal Basri terbukti tentang Mulyono. Al Fatihah untuk keduanya🤲
Guys, ada sidak DPR ke gudang motor listrik MBG
sekitar beberapa hari yang lalu
dan yang mereka temukan menurut gue adalah salah satu bukti paling konkret dari bagaimana program ini dijalankan.
Yang ditemukan saat sidak:
DPR mendatangi kantor dan gudang tempat penyimpanan motor listrik program MBG di Jakarta.
Hasilnya:
masih terkunci.
Belum beroperasi.
Motor sudah dibeli.
Anggaran sudah keluar Rp1,2 triliun.
Tapi gudangnya terkunci.
Motor belum dipakai.
Dan program yang katanya butuh motor ini untuk operasional SPPG tetap berjalan tanpa motor itu.
Pertanyaan pertama yang langsung muncul:
Kalau program bisa berjalan tanpa motor untuk apa motor itu dibeli?
Dan kalau motor sudah dibeli tapi gudangnya masih terkunci motor itu sekarang ada di mana?
Siapa yang memegang?
Soal merek Emo Electric Mobility dan ini yang mencurigakan:
dalam video sidak itu menunjukkan papan bertuliskan merek Emo Electric Mobility sebagai pemasok motor listrik untuk kepala SPPG.
Tapi anggota DPR menemukan kejanggalan:
motor sudah beredar lebih dulu sebelum proses pengadaan resmi selesai.
Ini bukan detail kecil.
Dalam pengadaan pemerintah barang tidak boleh beredar sebelum kontrak ditandatangani dan proses administrasi selesai.
Kalau motor sudah beredar lebih dulu itu artinya ada proses yang tidak sesuai prosedur.
Siapa yang memesan duluan?
Siapa yang membiayai sebelum kontrak resmi?
Dari mana modalnya?
Pernyataan Charles Honoris yang paling tepat:
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mempertanyakan dua hal langsung dan keras:
Satu — dasar pemilihan merek Emo.
Kenapa merek ini yang dipilih?
Apakah ada tender terbuka?
Apakah ada perbandingan harga dengan merek lain?
Apakah ada kajian teknis yang dipertanggungjawabkan?
Dua — relevansi motor trail untuk kepala SPPG di perkotaan.
Motor trail adalah kendaraan off-road yang dirancang untuk medan berat.
Kepala SPPG tugasnya mengelola dapur dan distribusi makanan bukan melintasi hutan atau pegunungan. Di Jakarta yang macet motor trail justru lebih tidak efisien dari motor biasa.
Kebutuhan kendaraan listrik untuk kepala SPPG sangat tidak mendesak.
Ini bukan pendapat yang kontroversial.
Ini common sense.
Dan ini konteks yang membuat semuanya semakin berat:
Di saat yang sama:
BPOM tidak punya anggaran Rp2,9 miliar yang bisa digunakan untuk sampling makanan MBG untuk memastikan makanan yang dimakan anak-anak itu aman.
BGN punya anggaran Rp1,2 triliun untuk motor listrik yang gudangnya masih terkunci dan belum jelas kegunaannya.
Ini bukan soal salah prioritas kecil-kecilan.
Ini adalah cermin dari keseluruhan tata kelola program yang menurut gue sudah sangat bermasalah secara fundamental.
Pola yang sudah terlalu konsisten untuk disebut kebetulan:
Semir sepatu — harganya tiga kali lipat pasar. Dipecah 12 paket kontrak.
Kaos kaki — Rp100.000 per pasang.
Motor listrik — Rp1,2 triliun. Gudangnya terkunci. Motor beredar sebelum kontrak resmi.
Digitalisasi — Rp3,1 triliun.
Dan dari semua itu yang sampai ke piring anak-anak menurut survei hanya 6,5%.
Sementara Mahfud MD menyebut dari triliunan anggaran MBG yang untuk makan hanya Rp34 miliar.
Ini bukan kebocoran kecil di pinggir sistem.
Ini adalah sistem itu sendiri yang bermasalah.
Yang perlu dituntut sekarang bukan nanti:
Satu — audit forensik menyeluruh atas seluruh pengadaan BGN: motor listrik, semir sepatu, kaos kaki, digitalisasi. Berapa harga pasarnya, berapa yang dibayar, siapa vendornya, bagaimana prosesnya.
Dua — penjelasan transparan mengapa motor sudah beredar sebelum kontrak resmi dan siapa yang bertanggung jawab atas pelanggaran prosedur itu.
Tiga — realokasi anggaran segera dari pengadaan yang tidak esensial ke pengawasan kualitas makanan termasuk memberikan BPOM anggaran yang memadai untuk sampling.
Empat — penjelasan ke publik soal isi gudang yang masih terkunci: motornya ada di mana, kondisinya bagaimana, kapan akan digunakan.
Charles Honoris menegaskan satu hal yang menurut gue harus jadi prinsip dasar program ini:
"Program MBG bertujuan memperbaiki gizi anak-anak. Program ini tidak boleh menjadi ajang pembagian proyek."
Tapi fakta yang ditemukan saat sidak gudang terkunci, motor beredar sebelum kontrak, merek yang dipertanyakan dasar pemilihannya, anggaran triliunan yang sebagian besar tidak sampai ke makanan menunjukkan bahwa program ini sudah bergerak jauh dari tujuan awalnya.
Dan selama tidak ada pertanggungjawaban yang konkret dan terukur setiap rupiah yang keluar dari anggaran MBG adalah rupiah yang berpotensi tidak sampai ke tujuannya.
Yaitu perut anak-anak Indonesia yang lapar.
Guys, gue mau minta lu bayangkan satu skenario.
Bayangkan ada perusahaan yang merekrut 30.000 karyawan baru.
Sudah 220.000 orang mendaftar.
Proses seleksi sudah berjalan.
Tapi tidak ada satu pun pejabat yang tahu siapa yang akan membayar gaji mereka.
Kalau itu terjadi di perusahaan swasta biasa
itu namanya penipuan rekrutmen.
Tapi ini bukan perusahaan swasta biasa.
Ini program nasional yang melibatkan APBN, BUMN, TNI, dan lima kementerian sekaligus.
Mari kita lihat siapa yang bertanggung jawab dan apa jawaban mereka:
TNI: "Kami yang pegang rekrutmen."
Menteri Koperasi: "Skema gaji akan dibicarakan nanti."
Menkeu Purbaya: "Saya belum tahu skema gajinya. APBN hanya menanggung cicilan bukan gaji manajer."
Bos Agrinas Joao Angelo: Saya nggak tahu, nggak tahu saya. Belum diajak ngomong.
Empat institusi.
Empat jawaban.
Tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaan paling dasar dari sebuah program rekrutmen:
Siapa yang bayar gaji?
Dan ini yang paling mengerikan:
Rekrutmen sudah dibuka sejak 15 April 2026.
Per 19 April sudah 220.364 orang mendaftar.
Proses seleksi sudah berjalan.
TNI sudah dilibatkan.
Tapi sumber dana gaji untuk 30.000 manajer yang akan direkrut belum ada.
Masih dikaji.
Masih dibicarakan nanti.
Artinya ratusan ribu orang mendaftar meninggalkan pekerjaan mereka sekarang, mempersiapkan diri, menginvestasikan waktu dan energi untuk posisi yang gajinya tidak jelas dari mana asalnya.
Bos Agrinas bilang "autopilot menurut SOP" dan ini yang paling absurd:
Joao Angelo mengatakan Agrinas sudah punya SOP. Tinggal dijalankan.
Tapi dia juga mengakui bahwa SOP tersebut belum mengatur proses rekrutmen dalam program Kopdes Merah Putih.
Jadi SOP-nya ada tapi tidak mencakup hal yang paling krusial: siapa yang direkrut, bagaimana direkrut, siapa yang bayar mereka, dan bagaimana mekanisme pengelolaannya.
Autopilot tanpa sistem navigasi.
Dan konteks yang membuat ini semakin serius:
Program Kopdes Merah Putih menargetkan 80.000 unit koperasi di seluruh Indonesia.
Dengan anggaran pembangunan fisik Rp1,6 miliar per unit yang sudah terbukti ada indikasi 50% bocor ke kontraktor seperti yang dilaporkan ekonom Gede Sandra.
Motor listrik Rp1,2 triliun sudah diimpor padahal kita sudah bisa produksi pickup sendiri.
Dan sekarang 30.000 manajer direkrut tanpa kejelasan siapa yang bayar gajinya.
Yang paling kritis keterlibatan TNI dalam rekrutmen sipil:
TNI menyatakan mereka yang memegang proses seleksi 30.000 manajer koperasi desa.
Ini bukan rekrutmen tentara.
Ini rekrutmen manajer koperasi jabatan sipil yang seharusnya dikelola oleh institusi sipil.
Pertanyaan yang perlu dijawab:
apa dasar hukum TNI memegang rekrutmen manajer BUMN?
Apa kompetensi teknis TNI dalam menyeleksi manajer koperasi yang tugasnya mengelola simpan pinjam, distribusi pangan, dan operasional bisnis desa?
Dan kalau TNI yang rekrut siapa yang bertanggung jawab secara hukum kalau ada yang tidak beres?
Pola yang sudah terlalu sering terulang:
Ini adalah pola yang sudah gue catat berulang kali dalam program-program besar pemerintahan ini:
Program diumumkan dengan target besar dan timeline yang ambisius.
Rakyat antusias mendaftar.
Media meliput antusiasme itu.
Angka pendaftar ratusan ribu jadi headline.
Tapi di balik itu mekanisme dasar seperti sumber dana, struktur tanggung jawab, dan tata kelola belum ada atau masih dikaji.
Dan ketika ada yang bertanya semua pihak saling tunjuk.
Tidak ada yang berani bilang "saya yang bertanggung jawab penuh."
220.364 orang sudah mendaftar untuk menjadi manajer Kopdes Merah Putih.
Mereka mendaftar dengan harapan mendapat pekerjaan yang layak. Dengan kepercayaan bahwa program sebesar ini pasti sudah direncanakan dengan matang.
Kenyataannya:
Menkeu tidak tahu siapa yang bayar gaji.
Menteri Koperasi bilang nanti dibicarakan.
Bos Agrinas bilang tidak tahu dan belum diajak ngomong.
TNI yang pegang rekrutmen tapi tidak jelas dasar hukumnya.
Dan di tengah semua ketidakjelasan itu proses seleksi tetap berjalan.
Ratusan ribu orang tetap berharap.
Kalau ini adalah perusahaan swasta sudah ada yang dipenjara karena penipuan rekrutmen.
Tapi karena ini program pemerintah semua orang diam.
Semua saling tunjuk.
Dan yang menanggung ketidakpastian adalah rakyat yang sudah terlanjur mendaftar.
Wallahi we're finished kata salah satu komentar yang beredar. Dan menurut gue itu bukan lebay.
Itu reaksi yang sangat wajar dari orang yang melihat situasi ini secara jernih.
Jangan jahat2 lah jadi oranggg
Barusan lewat yang katanya bapaknya kerja di dealer itu dan kena dampaknya dan terancam 😭😭😭
Kenapa sih harus bikin konten yang merugikan kayak gini