@bebydriver@mikelsaham@ajaib_investasi Jadi misal kita belom punya cash jg masih bisa pesen IPO nya bang. Nanti pas penawaran umum atau sehari sebelum penjatahan baru ada notif buat masukin cash sesuai pesanan. Jadi gak kelamaan duit nyangkutnya, bisa diputerin dulu
Baca selengkapnya: https://t.co/2kUajEy844
Dalam kunjungan ke NTT, Wapres Gibran Rakabuming Raka menilai program MBG akan lebih tepat sasaran jika difokuskan di daerah 3T.
~MS #Gibran#daerah3T#MBG
Pendaftaran Komunitas Beruang Masha Iraola telah dibuka dan akan segera diabsen. π»πͺπΈ
Bagi yang ingin mendaftarkan komunitas daerahnya harap ke meja panitia dan reply nama atau logo komunitas kalian: π
Mungkin terdengar hiperbolis, tapi saya harus bilang kalau ini adalah salah satu FILM INDONESIA TERBAIK yang dirilis sepanjang tahun 2026! (so far)
Nobody Loves Kay adalah debut film panjangnya Bernardus Raka, drama coming-of-age bertema esports yang terinspirasi dari kisah nyata pro-player ONIC bernama Kairi.
Terus terang, saya bukan pemain Mobile Legends (ML), tapi saya menaruh banyak empati terhadap konflik yang dihadapi Kay dalam film ini. Apalagi premis ceritanya adalah fenomena yang betul-betul terjadi dalam kehidupan remaja masa kiwari, terutama kalangan Gen-Z, bahwa ada masanya mereka dihadapkan pada pilihan untuk mengutamakan pendidikan atau menerobos status quo, walaupun opsi lainnya hanya dianggap sekadar gim hiburan. Lagi pula, kalau mau disubstitusi, obsesi terhadap ML dalam film ini tak jauh bedanya dengan anasir "puisi" dalam AADC atau "film dokumenter" dalam CASβsemuanya adalah simbol dari mimpi-mimpi masa muda.
Menariknya, film ini juga tak berusaha untuk mengglorifikasi apa pun tentang gim MOBA. Sama halnya dengan hobi lain, bukan hanya gim, kecanduan terhadap segala sesuatu memang punya risikonya masing-masing.
Beberapa adegan film ini pun sebetulnya berisi kritik subtil, terutama ingin menyindir gejala dari virus "berkata kasar" yang menginvasi budaya tongkrongan saat mabar ML. βKayak orang enggak berpendidikan,β kata Nenek Kay setiap ia mendengar cucunya mengumpat "njing", "ntot", dan sebangsanya. Selain itu, film ini juga menyoroti realitas lain yang terjadi di sekitar, seperti masalah persahabatan dan percintaan remaja, persoalan tentang kemiskinan struktural, dan juga bias pandangan umum mengenai apa itu definisi "sukses".
Sepanjang durasi, beberapa dialog sebetulnya sangat berpotensi untuk menjadi cringey, tapi karena disampaikan dengan gestur dan mimik yang meyakinkan oleh para aktornya, penonton pun dibuat percaya kalau itu adalah percakapan kasual dalam pergaulan sehari-hari masyarakat kampung. Kudos untuk Bima Azriel, Rey Bong, Joshia Frederico, Aurora Ribero, yang bermain sangat apik! Tapi kalau dipikir-pikir, semua cast dalam film ini memang bermain bagus, termasuk juga para figurannya. Saya akan sangat marah kalau tak ada satu pun dari mereka yang dinominasikan untuk meraih Piala Citra tahun depan. Terutama Bima Azriel, ia adalah Jungler dan masa depan untuk film Indonesia!
βEnggak semua orang harus jadi kayak Messi kan, Kay?β
Nobody Loves Kay, but I do.