At a family dinner, my uncle said women were "too weak" for physically demanding jobs. My grandma looked at him and said, "I gave birth without anesthesia. You called an ambulance because of kidney stones." The table went completely silent.
Giliran sama LGBT, kalian beringasnya minta ampun. Tapi begitu ada pemuka agama lecehin santri atau belasan laki-laki perkosa satu wanita, kalian mendadak bisu.
Komunitas wadam Jakarta saat akan bertemu dengan Gubernur Ali Sadikin tahun 1968.
Istilah wadam (wanita Adam) diperkenalkan di masa Gubernur Ali Sadikin untuk menggantikan istilah banci/bencong yang sudah populer di masyarakat.
Ali Sadikin memilih untuk menata, bukan melarang berbagai fenomena yang sudah ada di masyarakat seperti perjudian dan wadam. Ketimbang dilarang lalu bergerak di luar pantauan pemerintah, Bang Ali memilih melegalisasi, memajaki, dan mengatur batasan-batasannya.
Di bawah kepemimpinan Ali Sadikin berdiri organisasi HIWAD (Himpunan Wadam Djakarta), dan diselenggarakan berbagai kursus keterampilan untuk wadam seperti tata rias, menjahit, dan salon. Menurut Bang Ali, wadam harus memiliki keterampilan dan mandiri agar tidak menjadi masalah sosial.
Setelah Bang Ali lengser, desakan untuk mengganti istilah wadam menguat. Istilah tersebut dianggap tidak pantas karena menggunakan nama Nabi Adam untuk penyebutan wadam.
Pada 1978 akhirnya digunakan istilah lain, yaitu waria (wanita pria).