#RepublikTwitter adalah segerombolan people retjeh yang kreatif dan banyak galaunya.
Lebih seru lagi kalau sudah memasuki hujat menghujat (eits no baper yaa).
Lo hapus chat WhatsApp, storage tetap penuh.
Bukan bug.
WhatsApp sengaja simpen semua foto/video di 4 folder tersembunyi.
Gue kira udah bersih,
ternyata masih nyangkut 14,7GB.
Ini cara bersihinnya:
TEMEN GUE DAPET WARISAN RUMAH 800JT.
Dia ke notaris tanya balik nama.
Notaris: "Siapin 15jt. Beres semua."
Dia: "Kok mahal?"
Notaris: "Ya jasa kami, pajak, ke BPN, ribet."
Dia bayar. Dan yang bikin sakit, semuanya legal.
2 bulan kemudian tetangganya cerita.
gue mau cerita tentang temen gue.
sebut aja dia R.
dulu gajinya 7 juta.
dan tiap kali kami ngobrol, dia selalu bilang satu kalimat yang sama:
"Val, nanti kalau gaji gw udah 15 juta, baru deh gw bisa nabung. Baru deh hidup gw beres."
gue dengerin. gue angguk-angguk. gue percaya.
tiga tahun kemudian, gajinya beneran naik.
bukan 15 juta.
17 juta.
gue seneng banget waktu dia kabar. gue pikir sekarang hidupnya udah oke. udah bisa nabung. udah beres kayak yang dia bilang dulu.
sampai kemarin dia chat gue.
"Val, lo bisa pinjemin 500 ribu nggak? Buat nutup tagihan."
gue bengong lama di depan layar HP gue.
kita ketemuan.
gue tanya pelan: "lah kok bisa?"
dia diem sebentar.
terus jawab satu kalimat yang sampai sekarang masih muter di kepala gue:
"Gaji gw naik. Tapi gaya hidup gw naik lebih kenceng."
gue kira dia bercanda.
dia buka notes HP-nya dan nunjukkin ke gue.
gaji: 17 juta.
pengeluaran:
kos: 4 juta. makan dan kopi: 3,2 juta. cicilan HP: 1,1 juta. paylater: 2,4 juta. transport: 1,8 juta. langganan aplikasi: 600 ribu. jajan random: 2 juta. transfer keluarga: 1,5 juta.
sisa?
kadang nol.
kadang minus.
gue tanya: "paylater 2,4 juta itu buat apa aja?"
dia diem bentar.
"ya... barang kecil-kecil doang."
kaos 89 ribu. sepatu diskon. skincare. makan promo. top up game. barang lucu dari live shopping. checkout karena takut stok habis.
satu-satu kelihatannya kecil.
tapi pas digabung, jadi satu monster yang nagih tiap bulan.
yang bikin gue serem bukan belanjanya.
tapi kalimat pembenarnya.
"lagi diskon."
"mumpung murah."
"cuma 30 ribu."
"gratis ongkir."
"bulan depan juga ketutup."
dan dia bilang satu hal yang nusuk banget:
"gw bahkan udah nggak bisa bedain lagi. Gw lagi hemat, atau lagi nyari alasan buat keluar duit."
terus dia ngomong sesuatu yang bikin gue diam lama banget:
"Gw nggak miskin karena nggak punya uang. Gw miskin karena uang gw udah punya tujuan sebelum masuk rekening."
tanggal 25 gajian.
tanggal 26 autodebet.
tanggal 27 bayar cicilan.
tanggal 28 bayar paylater.
tanggal 29 baru sadar:
yang kerja sebulan dia. yang menikmati duluan tagihan.
gue tanya: "jadi yang paling bikin nyesel apa?"
dia jawab:
"Gw pikir gw beli barang. Ternyata gw beli kewajiban."
HP baru = cicilan 12 bulan. barang diskon = tagihan bulan depan. makan enak tiap hari = saldo bocor pelan-pelan. kopi harian = lebih dari sejuta sebulan. paylater = gaji masa depan yang udah dipakai hari ini.
"Gw kerja buat bayar keputusan gw yang kemarin."
coba hitung kasar.
kopi 35 ribu x 22 hari kerja = 770 ribu. delivery food dengan selisih ongkir dan markup 25 ribu x 20 kali = 500 ribu. checkout random 75 ribu x 10 kali = 750 ribu. langganan aplikasi yang jarang dibuka = 300 ribu.
total: 2,3 juta.
itu bukan pengeluaran besar. itu bocor kecil yang pura-pura nggak kelihatan.
sekarang temen gue lagi coba bikin aturan sendiri.
kalau barangnya diskon tapi nggak ada di rencana, berarti tetap mahal. kalau beli karena capek, tunggu besok. kalau checkout cuma karena takut kehabisan, tutup aplikasi 10 menit dulu. kalau cicilan bikin gaji bulan depan terasa sempit, jangan ambil.
dan satu pertanyaan yang dia tempel di layar HP-nya sekarang sebelum checkout apapun:
"Gw butuh ini, atau gw cuma pengin ngerasa hidup gw naik kelas?"
dari cerita dia, gue jadi mikir.
mungkin masalah banyak orang bukan nggak bisa cari uang.
tapi nggak pernah diajarin cara mempertahankan uang.
dari kecil kita diajarin: belajar biar kerja, kerja biar punya uang, punya uang biar bisa beli ini itu.
tapi jarang diajarin: kalau uang udah masuk, jangan langsung dikasih jalan keluar semua.
ini bukan soal hidup pelit.
beli kopi boleh. checkout promo boleh. reward diri boleh.
tapi jangan sampai tiap reward kecil numpuk jadi hukuman besar di akhir bulan.
coba jujur ke diri sendiri:
pengeluaran kecil apa yang paling sering bikin saldo lo bocor?
kopi? makan online? paylater? top up? checkout live?
atau "cuma 50 ribu" yang kejadian 20 kali?
Guys, fakta baru soal kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur baru saja keluar dan ini jauh lebih mengejutkan dari yang gue bayangkan sebelumnya.
Sopir taksi Green SM yang mobilnya mogok di perlintasan rel malam itu baru kerja 3 hari.
Tiga hari.
Dan sebelum tiga hari itu dia hanya dilatih satu hari.
Apa yang terjadi dalam satu hari pelatihan itu:
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengungkap langsung isi pelatihan itu. Bukan pelatihan mengemudi yang komprehensif. Bukan simulasi darurat.
Bukan prosedur menghadapi situasi kritis.
Isinya: cara menyalakan dan mematikan mobil.
Cara pakai lampu sein.
Cara parkir.
Itu saja.
Satu hari.
Cara nyalain mobil.
Cara matiin mobil.
Cara parkir.
Lalu tiga hari kemudian dia mengemudikan taksi berbasis listrik asal Vietnam itu melewati perlintasan kereta aktif di salah satu titik tersibuk di Bekasi. Mobilnya mogok di atas rel. Dan 14 orang mati.
Kenapa ini bukan hanya soal satu sopir ini soal sistem yang gagal:
Green SM adalah perusahaan taksi online asal Vietnam yang beroperasi di Indonesia.
Armadanya menggunakan kendaraan listrik yang sistem kelistrikan dan fitur-fiturnya berbeda secara fundamental dari kendaraan konvensional.
Kendaraan listrik punya karakteristik yang perlu waktu untuk dipelajari termasuk bagaimana bereaksi di kondisi tertentu, bagaimana sistem keamanannya bekerja, dan apa yang harus dilakukan ketika kendaraan bermasalah di situasi darurat.
Satu hari pelatihan cara nyalain, cara matiin, cara parkir untuk mengemudikan kendaraan jenis baru di jalanan kota besar adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah diizinkan terjadi.
Dan ini bukan hanya soal Green SM.
Polisi sekarang sedang menyelidiki sistem perekrutan dan standar operasional perusahaan taksi online terkait secara keseluruhan.
Pertanyaannya: apakah ini kelalaian satu perusahaan atau ini cerminan dari lemahnya regulasi dan pengawasan terhadap industri ride-hailing secara nasional?
Pertanyaan yang harus dijawab dan ini yang paling mendesak:
Satu — apakah regulator transportasi Indonesia punya standar minimum pelatihan yang jelas dan terukur untuk pengemudi taksi online?
Bukan hanya syarat SIM tapi berapa jam pelatihan minimum, materi apa yang wajib dicakup, siapa yang mengaudit?
Dua — apakah ada mekanisme verifikasi bahwa standar itu benar-benar dijalankan oleh perusahaan? Atau ini hanya syarat di atas kertas yang tidak pernah dicek?
Tiga — Green SM adalah perusahaan asal Vietnam yang beroperasi di Indonesia.
Apakah ada proses verifikasi bahwa standar operasional mereka memenuhi regulasi Indonesia atau mereka bisa masuk dan beroperasi dengan membawa standar dari negara asal yang belum tentu sesuai?
Empat — kendaraan listrik dengan sistem dan teknologi yang berbeda dari kendaraan konvensional apakah ada regulasi khusus untuk pelatihan pengemudinya?
Atau regulasi kita masih menggunakan framework lama yang dibuat untuk kendaraan berbahan bakar konvensional?
Soal sopir dan ini yang perlu diperlakukan dengan adil:
Polisi menegaskan status sopir saat ini masih sebagai saksi bukan tersangka.
Penyidik masih mendalami berbagai keterangan dan alat bukti sebelum menentukan ada tidaknya unsur pidana.
Dan menurut gue ini penting untuk dijaga.
Sopir ini adalah korban dari sistem yang gagal sama seperti 14 orang yang meninggal malam itu adalah korban dari sistem yang gagal.
Dia diberi pelatihan satu hari untuk mengemudikan kendaraan yang tidak dia kenal sepenuhnya.
Dia dilempar ke jalanan kota besar tiga hari kemudian.
Ketika mobilnya bermasalah di situasi yang tidak pernah disimulasikan dalam pelatihannya tidak ada yang mengajarinya harus berbuat apa.
Tanggung jawab moral yang paling besar ada pada perusahaan yang merekrut tanpa standar yang memadai dan pada regulator yang membiarkan ini terjadi.
Konteks yang lebih besar dan ini yang tidak boleh dilupakan:
Kita sudah bahas sebelumnya tentang perlintasan sebidang yang tidak dijaga, sinyal yang gagal bekerja, infrastruktur kereta yang puluhan tahun tidak diperbaiki menyeluruh.
Rp4 triliun yang baru diumumkan Prabowo setelah 14 orang mati.
Dan sekarang kita tahu ada lapisan masalah lain: perusahaan transportasi yang beroperasi dengan standar pelatihan yang tidak memadai satu hari untuk menyalakan dan mematikan mobil yang kemudian melepas pengemudinya ke jalanan tanpa bekal yang cukup untuk menghadapi situasi darurat.
Ini bukan satu kegagalan.
Ini adalah rangkaian kegagalan sistemik yang bertemu di satu titik malam 27 April 2026 di Stasiun Bekasi Timur.
Perlintasan yang tidak aman.
Sinyal yang gagal.
Taksi yang mogok.
Pengemudi yang tidak siap.
Empat faktor yang masing-masing bisa dicegah dan keempatnya tidak dicegah.
Apa yang perlu terjadi sekarang:
Pertama — investigasi terhadap Green SM harus tuntas dan hasilnya dipublikasikan. Bukan hanya soal malam itu tapi soal seluruh standar operasional, rekrutmen, dan pelatihan mereka.
Kedua — Kemenhub harus segera audit standar pelatihan minimum seluruh perusahaan ride-hailing yang beroperasi di Indonesia. Kalau tidak ada standar minimum yang tegas dan terverifikasi ini akan terjadi lagi.
Ketiga — kendaraan listrik sebagai armada transportasi publik perlu regulasi pelatihan khusus yang berbeda dari kendaraan konvensional. Teknologinya berbeda. Pelatihannya harus berbeda.
Keempat — izin operasional perusahaan transportasi asing yang beroperasi di Indonesia harus disertai verifikasi ketat bahwa standar mereka sesuai regulasi Indonesia bukan sekadar syarat administrasi di atas kertas.
Satu hari pelatihan.
Tiga hari kerja.
Empat belas orang mati.
Sopir itu tidak lahir dengan niat membahayakan siapapun.
Dia adalah seseorang yang mencari nafkah yang kemudian dilempar ke situasi yang sistem tidak pernah mempersiapkannya untuk menghadapi.
Yang harus bertanggung jawab adalah mereka yang membangun sistem itu yang memutuskan bahwa satu hari pelatihan cukup, bahwa tiga hari sudah siap jalan, bahwa tidak perlu simulasi darurat, bahwa tidak perlu standar yang lebih ketat.
Dan pertanyaan yang harus dijawab regulator adalah: sudah berapa lama ini berlangsung di seluruh industri bukan hanya di Green SM?
Guys, Maia Estianty baru ngomong sesuatu
yang menurut gua adalah salah satu
jawaban paling jujur dan paling tidak basa-basi yang pernah keluar dari mulut selebritis Indonesia soal uang dan kerja.
Dia ditanya sudah kaya raya,
suami tajir
anak-anak sukses semua,
kenapa masih ngejer cuan
sampai live shopping tiap hari?
Jawabannya simpel banget tapi sangat dalam.
Dia bilang yang dia takutin
di dunia ini cuma satu hal.
Bukan tua.
Bukan sakit.
Bukan ditinggal orang.
Tapi tidak punya uang.
Itu satu-satunya hal yang genuinely bikin dia takut. Dan dari rasa takut itulah seluruh etos kerjanya lahir bukan karena butuh, tapi karena kecintaan terhadap proses menghasilkan sesuatu dari dirinya sendiri itu tidak bisa digantikan oleh uang dari siapapun termasuk dari suami yang sekaya apapun.
Dan ini yang paling menarik.
Maia bilang kalau Mas Irwan melarang dia kerja dia bilang dengan sangat santai mendingan gua cari yang lain daripada harus berhenti kerja.
Bukan gertakan.
Tapi pernyataan tentang identitas.
Kerja baginya bukan soal finansial.
Kerja adalah cara dia membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia capable. Bahwa pencapaiannya adalah miliknya bukan pemberian siapapun.
Ini yang bikin pola hidupnya sangat berbeda dari ekspektasi orang tentang istri orang kaya.
Perawatan ratusan juta per bulan?
Tidak ada.
Shopping tiap bulan?
Hampir tidak pernah.
Tas mewah?
Tidak tertarik.
Maia bilang kalau sepatu masih bisa dipakai dia tidak akan beli yang baru.
Kalau pakaian sudah ada dari suami dia tidak belanja.
Dan kesenangan terbesarnya setiap hari adalah jajan makanan via ojek online. Itu saja.
Tapi di sisi lain dia adalah orang yang kalau dapat uang langsung putar lagi ke usaha.
Filosofinya sangat jelas uang harus bekerja untuk mencari uang.
Bukan disimpan diam di deposito.
Bukan ditaruh di saham atau kripto yang pernah dia coba dan hasilnya rungkat semua.
Tapi diputar di bisnis yang dia pegang sendiri
dia kontrol sendiri
dia pahami dari dalam sampai luar.
Dan dia bilang satu kalimat tentang orang-orang sukses yang dia temui di atas usianya yang menurut gua adalah kalimat paling tepat untuk menggambarkan mentalitas orang yang benar-benar kaya bukan hanya secara finansial.
Dia bilang semua orang sukses yang dia kenal yang uangnya sudah cukup untuk tujuh turunan tetap datang ke kantor.
Tetap mau kerja.
Bukan karena butuh uangnya.
Tapi karena sudah tidak bisa tidak kerja.
Kerja sudah jadi bagian dari cara mereka bernafas.
Dan di umur 50 tahun Maia bilang dia tidak punya batas produktif.
Sampai menutup mata.
Karena baginya diam itu bukan istirahat diam itu stres.
Intinya guys orang yang benar-benar tidak takut miskin bukan yang sudah punya banyak dan santai-santai.
Justru yang paling tidak takut miskin adalah yang sudah terlalu terlatih untuk tidak bisa berhenti menghasilkan.
Dan itu bukan tentang keserakahan. Itu tentang identitas.
MBAKKK!!?!???😭😭😭SUAMI LO SAKITTT ANJENGGG!!!!!ini beneran atau gw salah baca si?? ko legowo bnget kalian anjirr😭 gw yang baca doang kerasa sakit hati, tapi kok bisa sesantai itu mereka
@sampahfhui MUHAMMAD VALENZA RABBANI PUTRA HARISMAN
IRFAN KHALIS
MUNIF TAUFIK
SIMON PATRICH BUNGARAN PANGARIBUAN
MOHAMMAD DEYCA PUTRATAMA
MUHAMMAD AHSAN RAIKEL PHARREL
DIPATYA SAKA WISESA
REYHAN FAYYAZ RIZAL
MUHAMMAD NASYWAN
MUHAMMAD KEVIN ARDIANSYAH
RAFI MUHAMMAD
PELAKU PELECEHAN
Jerome ketipu bandit franchise 38 Miliar
Jadi Jerome Polin pernah kerjasama dengan sesepuh bisnis fnb buat bikin brand Menantea, Jerome fokus di konten, si partner pegang operasional dan keuangan.
Si partner rutin kasih laporan keuangan dalam bentuk excel, dari data itu kondisi keuangan Menantea kelihatan profitable, Jerome ga pernah beneran cek mutasi bank, dia percaya sama data di excel.
Tahun 2023, tiba2 si partner bilang kalo kondisi keuangan menanti kurang bagus dan saldo di rekening habis, Jerome ngerasa janggal karena cabang Menantea udah banyak dan rame, selain itu laporan keuangan sebelum2nya juga kelihatan baik baik aja.
Ternyata uang dari pembeli hak franchise dan keuntungan Menantea dipake oknum itu buat kepentingan pribadi, total 38 miliar dana dari rekening Perusahaan dipindahkan ke rekening pribadi oknum sejak Menantea berdiri.
Jerome tadinya mau bawa ini ke meja hijau, tapi belum jadi karena biaya audit forensik ternyata mahal banget (sampai Rp500 juta), prosesnya juga lama dan ga jaminan uang kembali.
Jerome ga menyebut si oknum ini siapa, tapi dia orang yang sama yang nipu Alm. Babe Cabita. Si oknum juga rajin banget bikin franchise abal2 buat narik duit mitra di awal, padahal bisnisnya blm kebukti bagus.
Jir kalo nyerang gausah bahas bahas negara coookk, udah fisik aja yang dibahas..
kalo knetz nyerang balik bahas soa pemerintahan kita auto K.O kocaaakk 🥴
#SEAblings