Tadinya Aku ingin membahas cacat logika ini, tetapi sepertinya akan lebih menarik jika Aku bahas substansinya karena Aku kebetulan belajar ini.
Klaim bahwa "anti-hafalan" merusak kemampuan generasi ini dalam memproses pengetahuan dasar sebenarnya bukan klaim yang baru-baru ini muncul. Siklusnya terjadi sekitar 15-20 tahun sekali, bahkan dari 1950-an di USA dengan Sputnik Math-nya dulu.
Sulit dikatakan sebetulnya apakah Higher-Order Thinking Skills (HOTS) [i.e. C4-C6] memerlukan Lower-Order Thinking Skills (LOTS) [i.e. C1-C3] terlebih dahulu. Isunya bukan karena kita harus mengikuti Taxonomy Bloom, tetapi lebih karena beban kognitif/kapasitas otak kita.
Ada dua argumen yang ingin Aku sampaikan:
β Taxonomy Bloom tidak bisa kita anggap sebagai "tangga" yang bersifat hirarkikal (i.e. HOTS tidak bisa dipelajari sebelum LOTS dimiliki), karena Taxonomy Bloom lebih bersifat sebagai desain filosopi untuk tujuan pembelajaran. Baca lebih lanjut: https://t.co/vAktHzwGC3
β Yang lebih defensible adalah beban kognitif domain pembelajaran tertentu yang memiliki floor dan ceiling skills yang berbeda:
1. Dalam domain kemampuan yang memiliki building blocks yang ajeg (aritmatika, phonics, grammar, dll.), mengurangi beban kognitif dengan mengotomasi kemampuan dasar (i.e. LOTS) akan mempermudah kemampuan processing (i.e. HOTS), karena kita tidak terbebani "fakta" yang harus diingat. Bahasa mudahnya "sudah di luar kepala".
2. Dalam domain pengetahuan tanpa skill floor tapi dengan ceiling yang lebih tinggi (sejarah, sains, argumentasi, filosopi, dll.), tidak ada satuan "fakta apa saja yang perlu diingat" sebelum processing/reasoning bisa dimulai. Kita bisa membangun pengetahuan dan reasoning-nya secara bersamaan. Bahkan, men-delay reasoning (i.e. HOTS) tidak memiliki backing studi yang cukup untuk memberikan efek yang bagus.
Aku pernah mengutip ini dulu: https://t.co/ZWSmo21zxZ
Sederhananya, keduanya (i.e. LOTS & HOTS) tetap sangat penting untuk diajarkan, dan argumen apakah satu membutuhkan satu lainnya terlebih dahulu (i.e. Prior Knowledge) akan tergantung pada beban kognitif domain pembelajarannya.
Hey studiku terkait beban kognitif, jadi aku pernah belajar tentang ini!
Hal yang lucu soal ini adalah bahwa Plato (dalam bukunya Phaedrus) di zaman-nya pun pernah berkata:
β "If men learn this, it will implant forgetfulness in their souls; they will cease to exercise memory because they rely on that which is written, calling things to remembrance no longer from within themselves, but by means of external marks. What you have discovered is a recipe not for memory, but for reminder."
Konsep formalnya biasa disebut "Cognitive Offloading"*. Dimana kita mendelegasikan sebagian tugas kognitif kita ke elemen eksternal untuk mengurangi beban kognitif kita. Contohnya dari kalkulator, komputer, sampai sekarang AI.
Apakah "Cognitive Offloading" itu hal yang jelek? Secara jujur, Aku belum bisa menjawab itu. Argumen terkait penggunaan AI dalam menurunkan kemampuan kognitif generasi terbaru memang terlihat mudah untuk ditarik kesimpulannnya, tetapi datanya masih sedikit.
Tetapi meskipun data relevan-nya masih kurang, Aku pribadi percaya bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran itu tidak baik, dan Aku tidak mau menggunakan jasa Dokter yang lulus kuliah menggunakan AI. π€
*Risko, E. F., & Gilbert, S.Β J. (2016). Cognitive Offloading. Trends in Cognitive Sciences, 20(9), 676-688. https://t.co/p2P4OUqz2b
Tapi kadang ku juga mikir kak, apakah inovasi teknologi tuh memang membuat kemampuan orang secara fondasi semakin menurun ya?
I mean look at calculator. Pasti dulu perdebatan kaya gini ada nih. Orang jadi malas menghitung dll karena sudah ada mesin yg bisa melakukan hal tersebut dgn cepat.
Kayana kita perlu trace this historically juga. It will be interesting to see what did people do back then to survive the technology without losing their foundational skills.
Ini jujur Aku agak bingung, karena reaching logika -nya cukup jauh. Jadi aku akan breakdown bagian kedua-nya saja.
Cacat Logika Hari Ini: Slippery Slope π§
Logical Fallacy inii adalah muncul ketika seseorang mengklaim bahwa satu tindakan kecil pasti memicu rentetan akibat buruk yang jauh lebih besar, padahal tiap langkah dalam rantai sebab-akibat itu tidak pernah dibuktikan.
Contoh ini termasuk Slippery Slope Fallacy karena:
β Orang ini melihat seorang guru memakai lipstik dan bergestur "melambai", lalu langsung menyimpulkan itu "bahaya banget" untuk anak sekolah.
β Satu-satunya alasan yang dikasih: anak bisa meniru. Dari situ argumennya melompat jauh, dari "ditiru" ke skenario anak tumbuh dewasa dan berujung jadi pelaku pelecehan,
β Tidak ada satu pun hubungan sebab-akibat da;lam rantai "guru pakai lipstik β anak niru β anak jadi dewasa β jadi pelaku pelecehan" yang dijelaskan. Semuanya diasumsikan otomatis terjadi padahal jarak antara langkah pertama dan kesimpulan akhirnya sangat jauh.
Sudah tahu sekarang kan? Jangan sampai ikut melakukan kesalahan logika yang sama dengan orang ini ya. π
@meluwnaa@Nisanurulhs guru ngaji kenapa melecahkan? bisa saja dia korban dari pelecehan semassa kecil, seperti ini guru pake lipstik melambai, nanti dikutin anak muridnya klo udh gede anak muridnya bisa saja jadi guru ngaji dan melecehkan seseorang, lo tau kan pemikiran anak kecil selalu ngikutin?
Cacat Logika Hari Ini: Survivorship Biasπ§
Logical Fallacy ini muncul jika kesimpulan yang keambil cuma dari ngeliat contoh yang "berhasil", tanpa itung yang gagal juga ngalamin hal yang sama.
Contoh ini termasujk Survivorship Bias karena:
β Orang ini nyuruh baca biografi orang-orang sukses buat membuktikan klaim: gak nikmatin masa muda itu wajar, bahkan perlu, biar sukses.
β Tapi sampelnya cuma diambil dari orang yang udah "lolos" jadi sukses, dia gak ngitung berapa banyak orang yang juga capek dan gak sempet nikmatin 20-annya tapi tetep gak sukses, atau sebaliknya, orang yang santai di 20-an dan tetep sukses.
β Karena datanya udah kesaring duluan (cuma yang berhasil yang diliat), "capek di 20-an = jalan menuju sukses" jadi kesimpulan yang gak valid. Jadinya cuma korelasi dari sampel bias bukan hubungan sebab-akibat.
Sering sekali "survivorship bias" ini muncul, sampai menjadi meme untuk posting gambar tercantum (soal damage pattern sebuah pesawat hipotetikal) ini tanpa konteks.
Sudah tahu sekarang kanh? Jangan sampai ikut melakukan kesalahan logika yang sama dengan orang ini ya. π
Tadinya Aku ingin membahas cacat logika ini, tetapi sepertinya akan lebih menarik jika Aku bahas substansinya karena Aku kebetulan belajar ini.
Klaim bahwa "anti-hafalan" merusak kemampuan generasi ini dalam memproses pengetahuan dasar sebenarnya bukan klaim yang baru-baru ini muncul. Siklusnya terjadi sekitar 15-20 tahun sekali, bahkan dari 1950-an di USA dengan Sputnik Math-nya dulu.
Sulit dikatakan sebetulnya apakah Higher-Order Thinking Skills (HOTS) [i.e. C4-C6] memerlukan Lower-Order Thinking Skills (LOTS) [i.e. C1-C3] terlebih dahulu. Isunya bukan karena kita harus mengikuti Taxonomy Bloom, tetapi lebih karena beban kognitif/kapasitas otak kita.
Ada dua argumen yang ingin Aku sampaikan:
β Taxonomy Bloom tidak bisa kita anggap sebagai "tangga" yang bersifat hirarkikal (i.e. HOTS tidak bisa dipelajari sebelum LOTS dimiliki), karena Taxonomy Bloom lebih bersifat sebagai desain filosopi untuk tujuan pembelajaran. Baca lebih lanjut: https://t.co/vAktHzwGC3
β Yang lebih defensible adalah beban kognitif domain pembelajaran tertentu yang memiliki floor dan ceiling skills yang berbeda:
1. Dalam domain kemampuan yang memiliki building blocks yang ajeg (aritmatika, phonics, grammar, dll.), mengurangi beban kognitif dengan mengotomasi kemampuan dasar (i.e. LOTS) akan mempermudah kemampuan processing (i.e. HOTS), karena kita tidak terbebani "fakta" yang harus diingat. Bahasa mudahnya "sudah di luar kepala".
2. Dalam domain pengetahuan tanpa skill floor tapi dengan ceiling yang lebih tinggi (sejarah, sains, argumentasi, filosopi, dll.), tidak ada satuan "fakta apa saja yang perlu diingat" sebelum processing/reasoning bisa dimulai. Kita bisa membangun pengetahuan dan reasoning-nya secara bersamaan. Bahkan, men-delay reasoning (i.e. HOTS) tidak memiliki backing studi yang cukup untuk memberikan efek yang bagus.
Aku pernah mengutip ini dulu: https://t.co/ZWSmo21zxZ
Sederhananya, keduanya (i.e. LOTS & HOTS) tetap sangat penting untuk diajarkan, dan argumen apakah satu membutuhkan satu lainnya terlebih dahulu (i.e. Prior Knowledge) akan tergantung pada beban kognitif domain pembelajarannya.
Tadinya Aku ingin membahas cacat logika ini, tetapi sepertinya akan lebih menarik jika Aku bahas substansinya karena Aku kebetulan belajar ini.
Klaim bahwa "anti-hafalan" merusak kemampuan generasi ini dalam memproses pengetahuan dasar sebenarnya bukan klaim yang baru-baru ini muncul. Siklusnya terjadi sekitar 15-20 tahun sekali, bahkan dari 1950-an di USA dengan Sputnik Math-nya dulu.
Sulit dikatakan sebetulnya apakah Higher-Order Thinking Skills (HOTS) [i.e. C4-C6] memerlukan Lower-Order Thinking Skills (LOTS) [i.e. C1-C3] terlebih dahulu. Isunya bukan karena kita harus mengikuti Taxonomy Bloom, tetapi lebih karena beban kognitif/kapasitas otak kita.
Ada dua argumen yang ingin Aku sampaikan:
β Taxonomy Bloom tidak bisa kita anggap sebagai "tangga" yang bersifat hirarkikal (i.e. HOTS tidak bisa dipelajari sebelum LOTS dimiliki), karena Taxonomy Bloom lebih bersifat sebagai desain filosopi untuk tujuan pembelajaran. Baca lebih lanjut: https://t.co/vAktHzwGC3
β Yang lebih defensible adalah beban kognitif domain pembelajaran tertentu yang memiliki floor dan ceiling skills yang berbeda:
1. Dalam domain kemampuan yang memiliki building blocks yang ajeg (aritmatika, phonics, grammar, dll.), mengurangi beban kognitif dengan mengotomasi kemampuan dasar (i.e. LOTS) akan mempermudah kemampuan processing (i.e. HOTS), karena kita tidak terbebani "fakta" yang harus diingat. Bahasa mudahnya "sudah di luar kepala".
2. Dalam domain pengetahuan tanpa skill floor tapi dengan ceiling yang lebih tinggi (sejarah, sains, argumentasi, filosopi, dll.), tidak ada satuan "fakta apa saja yang perlu diingat" sebelum processing/reasoning bisa dimulai. Kita bisa membangun pengetahuan dan reasoning-nya secara bersamaan. Bahkan, men-delay reasoning (i.e. HOTS) tidak memiliki backing studi yang cukup untuk memberikan efek yang bagus.
Aku pernah mengutip ini dulu: https://t.co/ZWSmo21zxZ
Sederhananya, keduanya (i.e. LOTS & HOTS) tetap sangat penting untuk diajarkan, dan argumen apakah satu membutuhkan satu lainnya terlebih dahulu (i.e. Prior Knowledge) akan tergantung pada beban kognitif domain pembelajarannya.
Tadinya Aku ingin membahas cacat logika ini, tetapi sepertinya akan lebih menarik jika Aku bahas substansinya karena Aku kebetulan belajar ini.
Klaim bahwa "anti-hafalan" merusak kemampuan generasi ini dalam memproses pengetahuan dasar sebenarnya bukan klaim yang baru-baru ini muncul. Siklusnya terjadi sekitar 15-20 tahun sekali, bahkan dari 1950-an di USA dengan Sputnik Math-nya dulu.
Sulit dikatakan sebetulnya apakah Higher-Order Thinking Skills (HOTS) [i.e. C4-C6] memerlukan Lower-Order Thinking Skills (LOTS) [i.e. C1-C3] terlebih dahulu. Isunya bukan karena kita harus mengikuti Taxonomy Bloom, tetapi lebih karena beban kognitif/kapasitas otak kita.
Ada dua argumen yang ingin Aku sampaikan:
β Taxonomy Bloom tidak bisa kita anggap sebagai "tangga" yang bersifat hirarkikal (i.e. HOTS tidak bisa dipelajari sebelum LOTS dimiliki), karena Taxonomy Bloom lebih bersifat sebagai desain filosopi untuk tujuan pembelajaran. Baca lebih lanjut: https://t.co/vAktHzwGC3
β Yang lebih defensible adalah beban kognitif domain pembelajaran tertentu yang memiliki floor dan ceiling skills yang berbeda:
1. Dalam domain kemampuan yang memiliki building blocks yang ajeg (aritmatika, phonics, grammar, dll.), mengurangi beban kognitif dengan mengotomasi kemampuan dasar (i.e. LOTS) akan mempermudah kemampuan processing (i.e. HOTS), karena kita tidak terbebani "fakta" yang harus diingat. Bahasa mudahnya "sudah di luar kepala".
2. Dalam domain pengetahuan tanpa skill floor tapi dengan ceiling yang lebih tinggi (sejarah, sains, argumentasi, filosopi, dll.), tidak ada satuan "fakta apa saja yang perlu diingat" sebelum processing/reasoning bisa dimulai. Kita bisa membangun pengetahuan dan reasoning-nya secara bersamaan. Bahkan, men-delay reasoning (i.e. HOTS) tidak memiliki backing studi yang cukup untuk memberikan efek yang bagus.
Aku pernah mengutip ini dulu: https://t.co/ZWSmo21zxZ
Sederhananya, keduanya (i.e. LOTS & HOTS) tetap sangat penting untuk diajarkan, dan argumen apakah satu membutuhkan satu lainnya terlebih dahulu (i.e. Prior Knowledge) akan tergantung pada beban kognitif domain pembelajarannya.
Cacat Logika Hari Ini: Relative Privation π§
Fallacy ini muncul saat sebuah masalah dianggap gak penting hanya karena ada masalah lain yang "lebih besar" atau "lebih parah".
Contoh ini termasuk Relative Privation Fallacy karena:
β Orang ini membandingkan konsumsi air sistem AI global (~0,5 kmΒ³/tahun) dengan industri kacang almond, baja, daging sapi, dan tekstil yang angkanya jauh lebih tinggi.
β Dari perbandingan itu dia menggeser kesimpulannya: karena AI "cuma segitu" dibanding industri lain, kekhawatiran soal konsumsi airnya jadi dianggap berlebihan.
β Padahal besar-kecilnya angka industri lain gak menghapus laporan PBB yang jadi topik awal: konsumsi air AI diproyeksikan naik 129% dan setara kebutuhan 1,3 miliar orang di 2030. Dua fakta ini bisa sama-sama benar sekaligus sama-sama layak jadi perhatian, gak saling meniadakan.
Sudah tahu sekarang kan? Jangan sampai ikut melakukan kesalahan logika yang sama dengan orang ini ya. π
https://t.co/fH5Ib2f2nB
@footycinephile Sedikit gambaran saja
Tidak membela AI
Ada sumber nya kalau mau sumber saya ketikkan juga
AI tidak semata-mata menghabiskan air tapi semua data center sosmed juga pakai air untuk sistem pendinginan nya dan industriΒ² lain yang ada di dunia juga banyak membutuhkan air
Wah kalau kita hanya boleh mengkritik kaidah teologis dengan teologis, argumennya akan selalu berputar.. π
Karena premisnya hanya baru bisa diterima selama semua orang menyetujui bahwa premis itu absolut.
Berarti dalam diskusi ini "Special Pleading" masih tetap berlaku dong kalau tidak semua orang adalah orang muslim. π€
Sebelum menuntut konsistensi, pahami dulu bahwa menerima sesuatu yg halal sebagai halal (vise versa) itu wajib hukumnya sebagai muslim.
Maka gamau itu juga bagian dri ketidakmampuan kognitif ataupun mental.
Logikanya :
Jika ranahnya teologi, maka jgn pakai kacamata sekuler π
Apakah argumen @nurmannurakhmad Strawman Fallacy? Coba kita lihat ya..
Strawman fallacy terjadi kalau seseorang mendistorsi argumen supaya lebih gampang diserang. Caranya adalah argumen lawan "dilemahkan dulu" sebelum diserang. Di post ini, dia tidak sedang menyerang versi lemah/plesetan dari argumen kedua pihak.
Deskripsi @nurmannurakhmad justru menurutku cukup akurat: dua pihak saling melempar argumen "kitabku bilang kamu salah" sebagai bukti. Ini biasa disebut "Circular Reasoning", menyerempet kepada "Appeal to Authority". Dimana gampangnya adalah sebagai berikuta:
β Premis: "Kitab saya adalah otoritas kebenaran"
β Kesimpulan: "Agama lain keliru menurut kitab saya."
Tapi otoritas masing-masing kitab sebagai sumber kebenaran itu sendiri bersifat subjektif, yang sebetulnya sedang dipersengketakan antara dua pihak.
DAN INI BERLAKU UNTUK KEDUA BELAH PIHAK YAA.
Jadi argumennya menggunakan kesimpulan yang baru bisa diterima SELAMA premisnya sudah diterima duluan oleh kedua belah pihak. Itu ciri khas circular reasoning, bukan strawman.
Argumen bagus untuk kita breakdown. Kita coba pelajari perbedaan tiga hal ini yuk:
legalitas β kewajiban β keharusan personal
β "menyuarakan... agar diterima masyarakat umum" ini bukan sekadar "mengakui legalitas syar'i." Tetapi ini advokasi aktif untuk penerimaan sosial / legalitas yang lebih luas. Ada siratan keyakinan normatif: "ini baik/bermanfaat untuk diterima lebih luas."
β "gamau" ini kata preferensi. Beda halnya dengan "gak mampu" atau "gak ada kepentingan." "Gamau" secara epistemologis dibaca sebagai penolakan nilai/keinginan pribadi, bukan keterbatasan situasional.
Nah sekarang, kita breakdown versi steelman-nya:
β Kalau alasannhya murni "gak mampu" (misal: situasi finansial) β ya argumen itu netral, tidak mengandung nilai, dan konsisten dengan advokasi. Tidak ada fallacy. Ini benar prefensi pribadi.
β TETAPI kalau dia yakin poligami itu bermanfaat secara sosial (makanya dia advokasi), tapi bilang "gak berkepentingan" untuk praktik sendiri, itu namanya "Special Pleading"/hipokrisi. Kalau memang seyakin itu bermanfaat, kenapa dirinya jadi pengecualian tanpa alasan substantif (bukan sekadar "gamau")?
Jadi coba lihat kembali argumen di awal. Konsistensi mana legal, mana wajib, dan mana kemauan pribadi.
Argumen bagus untuk kita breakdown. Kita coba pelajari perbedaan tiga hal ini yuk:
legalitas β kewajiban β keharusan personal
β "menyuarakan... agar diterima masyarakat umum" ini bukan sekadar "mengakui legalitas syar'i." Tetapi ini advokasi aktif untuk penerimaan sosial / legalitas yang lebih luas. Ada siratan keyakinan normatif: "ini baik/bermanfaat untuk diterima lebih luas."
β "gamau" ini kata preferensi. Beda halnya dengan "gak mampu" atau "gak ada kepentingan." "Gamau" secara epistemologis dibaca sebagai penolakan nilai/keinginan pribadi, bukan keterbatasan situasional.
Nah sekarang, kita breakdown versi steelman-nya:
β Kalau alasannhya murni "gak mampu" (misal: situasi finansial) β ya argumen itu netral, tidak mengandung nilai, dan konsisten dengan advokasi. Tidak ada fallacy. Ini benar prefensi pribadi.
β TETAPI kalau dia yakin poligami itu bermanfaat secara sosial (makanya dia advokasi), tapi bilang "gak berkepentingan" untuk praktik sendiri, itu namanya "Special Pleading"/hipokrisi. Kalau memang seyakin itu bermanfaat, kenapa dirinya jadi pengecualian tanpa alasan substantif (bukan sekadar "gamau")?
Jadi coba lihat kembali argumen di awal. Konsistensi mana legal, mana wajib, dan mana kemauan pribadi.
@nurmannurakhmad Yah sepertinya ada salah tangkap π
Aku baru saja mau membalas balasan twitmu sebelumnya, izinkan aku jawab disini.
Argumen yang kumaksudkan adalah argumen Muslim dan Kristen, bukan argumenmu yang memiliki "circular reasoning".
Argumen bagus untuk kita breakdown. Kita coba pelajari perbedaan tiga hal ini yuk:
legalitas β kewajiban β keharusan personal
β "menyuarakan... agar diterima masyarakat umum" ini bukan sekadar "mengakui legalitas syar'i." Tetapi ini advokasi aktif untuk penerimaan sosial / legalitas yang lebih luas. Ada siratan keyakinan normatif: "ini baik/bermanfaat untuk diterima lebih luas."
β "gamau" ini kata preferensi. Beda halnya dengan "gak mampu" atau "gak ada kepentingan." "Gamau" secara epistemologis dibaca sebagai penolakan nilai/keinginan pribadi, bukan keterbatasan situasional.
Nah sekarang, kita breakdown versi steelman-nya:
β Kalau alasannhya murni "gak mampu" (misal: situasi finansial) β ya argumen itu netral, tidak mengandung nilai, dan konsisten dengan advokasi. Tidak ada fallacy. Ini benar prefensi pribadi.
β TETAPI kalau dia yakin poligami itu bermanfaat secara sosial (makanya dia advokasi), tapi bilang "gak berkepentingan" untuk praktik sendiri, itu namanya "Special Pleading"/hipokrisi. Kalau memang seyakin itu bermanfaat, kenapa dirinya jadi pengecualian tanpa alasan substantif (bukan sekadar "gamau")?
Jadi coba lihat kembali argumen di awal. Konsistensi mana legal, mana wajib, dan mana kemauan pribadi.