Salah satu hal yang paling aku kagumi dari Imam Syafi'i adalah pemahaman beliau pada sifat manusia.
Dan itu tertuang di satu nasihatnya, "Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai, dan tidak ada jalan untuk bisa selamat dari mereka."
Lelahnya people pleasing.
Jujur bingung banget
Negara mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah menguat, pasar merespons positif, koruptor mulai ditangkap, reshuffle disiapkan. Tapi masih ada yang ngotot demo 12 Juni.
Jadi sebenarnya yang dicari solusi atau memang ingin bikin gaduh?
Nah ini contoh twit buzzer ya ges, biasanya harganya 1 twit begini 3000-5000 rupiah.
Kalau ditawarin begini, jangan mau ya. Masa bayarannya kalah sama pertamax 1 liter
Kalian yg minta kalo kritik itu harus baik, beretika dan memberikan solusi. Apa yang disampaikan Pak Dino itu sudah sangat baik, halus, sopan, beretika, dan terstruktur serta memberikan saran dan solusi sesuai yg kalian mau. Sekarang masih tetep dianggap ga beretika. Intinya memang kalian itu enggan menerima kritik.
Saya udh ga tau harus komen apa lagi sama pejabat2 di negara ini. Dikritik keras salah, dikritik baik salah. Maunya semua orang dukung.
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Road trip dgn 3 teman lintas umur, profesi, suku & agama. Salahsatu obrolan di mobil ya kasus Nadiem Makarim.
Kami ber-4 sepakat 2 hal:
1/ Kurikulum Belajar Mandiri itu memang tidak napak tanah & memfasilitasi kemalasan
2/ TAPI tindakan korupsi BEDA dgn kebijakan tdk membumi.
“Dunia terasa sempit hingga kita mengira akan mati karena putus asa, atau mati dalam tangisan; lalu tiba-tiba kelembutan Allah turun dengan deras, menumbuhkan kembali hati-hati yang kering.”
—Imam Syafi’i
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
hotel 200 juta per malam at the heart of paris while kemarin banyak anak-anak yang gagal daftar utbk karena “sekedar” 200 ribu aja mereka ga punya… oh i hope you suffer in hell
Tren parenting masa kini yg bikin gw gedeg sebagai orangtua. Grup WA orang tua!!
Ya walaupun anak gw masih SD, tapi anak itu musti belajar tanggung jawab sejak kecil. Jujur gw merasa aneh dan risih kalo pengumuman untuk kepentingan sekolah itu cuman di grup orang tua. Jadi yg dihimbau orangtuanya, bukan anaknya.
Kan bisa ya pas di sekolah anaknya dikasih tahu. Urusan dia lupa ga ngerjain , ya itu salah dia dan di situlah saatnya dia belajar yg namanya tanggung jawab dan konsekuensi.
Masa jadwal ulangan aja anak gw ga tau. Setiap ditanya, “kamu tau ga besok kamu ada ulangan ini?”
“Gak tau, belum dibilang sih”
😩😣☹️
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
We are outraged. An Indonesian peacekeeper is murdered. Another is fighting for his life. Israel bombed the base where they served.
This is clearly not an accident, nor a collateral damage. This is Netanyahu’s regime showing, once again, that they don’t care about international law, about UN personnel, and about the lives of those who dedicate themselves to peace.
Indonesia has gone above and beyond. We have sent over 1,200 of our troops to serve under the UN flag. The Indonesian government also joined the Board of Peace to push for a just and lasting resolution in the Middle East. We extended our hand in good faith. Yet the answer to that good faith is a bomb dropped on our soldiers’ base. They spat on every effort Indonesia has made for peace.
But let us be honest, this is not surprising. Netanyahu’s regime has shown time and again that they are indifferent to the world’s calls for restraint. They ignore UN resolutions. They strike UN facilities. They kill civilians, journalists, aid workers, and now peacekeepers. No one is off-limits. No one is safe. Sadly, it keeps going because the world keeps allowing it.
To the UN Secretary-General, we appreciate your condemnation and your condolences. But words are not enough anymore. The UN must move beyond statements. Concrete, enforceable, and urgent action is what this moment demands. The credibility of the UN is on the line. If the world body cannot protect its own peacekeepers, what exactly is it protecting?
To the nations of the world, now is the time to act together. Push for accountability. Refer those responsible to international courts. Enforce the rules that you all signed up to uphold. International law is only as strong as the willingness of nations to defend it. That willingness has been tested over and over again by Netanyahu’s regime. For countless of times, the world has failed the test.
Do not let this death be forgotten in a news cycle. Do not let this become just another statistic in a long list of violations. Demand justice. Demand accountability. Make clear that those who attack UN peacekeepers will face real consequences.
Kepada prajurit TNI yang gugur, selamat jalan, Pahlawan. Doa kami menyertai, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepada yang terluka, semoga lekas pulih. Indonesia berduka, tapi kita yakin, Indonesia tidak akan diam.
Pria tua Yahudi itu tiba-tiba menghampiri Muslimah dan dua anaknya, apa yang kemudian terjadi sungguh mengharukan....
Leena Al-Arian:
"Jadi begini kejadiannya hari ini di Barnes & Noble (toko buku 'Gramedianya' AS di New York -red): Saya pergi mengajak anak-anak bertemu dengan karakter Paw Patrol dan seorang pria baik hati menghampiri saya, mengatakan betapa cantiknya anak-anak itu, dan menyampaikan permintaan maaf yang tulus atas sentimen anti-Muslim yang umum di masyarakat kita saat ini.
Matanya berkaca-kaca dan dia mengatakan bahwa pasti sangat sulit untuk menonton berita, dia merasa sedih atas kefanatikan yang mungkin akan dialami anak-anak saya suatu hari nanti, dan bahwa sebagai seorang pria Yahudi yang orang tuanya tidak berbicara bahasa Inggris saat tumbuh dewasa, dia secara pribadi mengerti bagaimana rasanya ditolak dan didiskriminasi.
Dan dia ingin meyakinkan saya bahwa kebanyakan orang Amerika adalah orang baik, yang tidak membenci orang seperti saya atau mempercayai apa yang mereka dengar di berita.
Kemudian dia mengatakan bahwa dia akan berusia 90 tahun pada hari Jumat dan bersikeras untuk membelikan masing-masing anak hadiah sebagai hadiah untuk dirinya sendiri dan agar mereka memiliki sesuatu untuk mengenangnya.
Saya mengatakan kepadanya bahwa kita sebaiknya berfoto agar saya bisa menceritakan kisahnya kepada mereka. Tetapi dia tetap bersikeras membelikan mereka hadiah setelahnya."
via @MrPitbull07