Jadi meninggalnya korban commuter line itu akibat dari serentetan random tai babi situation
Ada perlintasan gak resmi, tapi pas mau ditutup sama pemda, ada ormas tai babj yg nolak, lalu pemdanya juga tai babi gak mampu ngatasin tekanan ormas tai babi
Lalu ada sopir tai babi dari armada tai babi melintas di lintasan tai babi, lalu ditabrak oleh kereta, kemudian sangking tai babinya, taxi ini menolak diderek oleh KAI karena kebijakan manajemen armada taksi tai babi bilang kalo gak diderek oleh derek dari perusahaan tai babi, itu duit derek keluar dari sopir tai babi itu.
Dan sialnya sinyal kereta api pagi tai babi sehingga KA antar kota menabrak Commuter line yg terpaksa menunggu akibat tai babi tai babi di atas.
Gue kalo jadi keluarga korban sih akan ngamuk pol
@radjathaher karna kasirnya lelet, kenapa kasirnya lelet?karna komputer kasirnya busuk (zy*ex)
lazim bgt lu liat di indomaret gede org ngantri panjang pegawai di kasir tp sibuk sendiri ngitung duit lah apa lah yg dibuka kasirnya cm 1.
Kemajuan teknologi harusnya dinikmati dalam bentuk rasa syukur, konteksnya adalah “Rahmatan lil ‘Alamiin”, bukan superioritas satu kelompok atas kelompok lain.
Gagasan mengenai kalender Islam tunggal berbasis teknologi satelit adalah sebuah visi besar yg berpotensi menyatukan umat.
Namun, agar visi ini tidak menjadi pemicu perpecahan baru, kita perlu melihatnya melalui kacamata yg lebih jernih dan bijaksana bahwa kemajuan ilmu pengetahuan merupakan hidayah yg mengintegrasikan penentuan kalender hijriah melalui kemajuan teknologi mutakhir.
Kemajuan teknologi satelit bukanlah alat untuk memenangkan satu metode di atas metode lainnya. Sebaliknya, teknologi ini adalah titik temu (kalimatun sawa) yg menyempurnakan kekurangan manusiawi pada kedua metode tradisional.
Bagi penganut Rukyat (NU), Satelit sejatinya adalah “mata” yg diletakkan di luar atmosfer. Jika selama ini rukyat terbatas oleh gumpalan awan, lengkung bumi, dan keterbatasan optik mata, maka kamera resolusi tinggi pada satelit adalah bentuk “Rukyat Kontemporer” yg ribuan kali lebih presisi.
Jadi ini bukan meninggalkan sunnah melihat hilal (rukyat), sebaliknya memuliakan sunnah tersebut dengan penglihatan yg paling jernih.
Dan bagi penganut Hisab yg selama ini dipedomani oleh kelompok Muhammadiyah, data posisi bulan yg dihasilkan oleh satelit adalah validasi empiris bagi perhitungan matematika.
Teknologi ini mengubah derajat ketelitian dari estimasi menjadi kepastian mutlak. Ini adalah ”Hisab Terverifikasi”, di mana angka-angka di atas kertas mendapatkan bukti fisiknya secara real-time.
Jadi jelas bahwa “Sains” (pengetahuan) sebagai Rahmatan lil 'Alamiin, bukanlah milik organisasi atau kelompok tertentu.
Sains yg melahirkan Teknologi adalah bahasa universal yg di anugerahkan Allah kepada manusia. Dalam konteks Islam, kemajuan teknologi adalah perwujudan dari sifat Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi semesta alam).
Jika teknologi ini berhasil menyatukan kalender Islam, maka manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat manusia, karena akan tercipta keteraturan sosial, kepastian ekonomi, dan kedamaian ibadah.
Mengklaim teknologi sebagai “Kemenangan” satu kelompok adalah “bocah banget”, sebab itu bentuk penyempitan makna rahmat Tuhan yg sangat luas.
Sains hadir untuk melayani tuntutan kemanusiaan (seperti pesawat, hp, laser, dll), bukan untuk memvalidasi ego kelompok.
Jika ada anggapan bahwa penggunaan teknologi satelit berarti satu kelompok “menyerah” kepada kelompok lain, itu merupakan klaim eksklusivitas yg sangat keliru.
Karena logikanya NU tidak kehilangan identitas rukyat-nya, karena satelit pada dasarnya melakukan observasi visual (melihat), dan Muhammadiyah tidak kehilangan identitas hisab-nya, karena sistem satelit bekerja berdasarkan algoritma perhitungan yg sangat rumit.
Satelit adalah harmoni antara akal (hisab) dan penginderaan (rukyat). Ketika keduanya menyatu dalam teknologi, perbedaan antara “melihat” dan “menghitung” menjadi tidak relevan lagi, karena keduanya memberikan hasil di satu titik persamaan kebenaran ilmiah.
Jadi clear ya, menerima Satu Kalender Tunggal berbasis teknologi adalah bentuk kedewasaan beragama. Ini adalah langkah maju di mana umat Islam berhenti berdebat tentang “cara melihat” dan “cara menghitung”, tetapi mulai fokus pada “makna dari apa yg dihitung dari teknologi penglihatan.”
Note:
Penjelasan Literasi Rakyat ini hanya mencoba merujuk pada metode dan cara berpikir “Islam Rahmatan lil ‘Alamiin”.
Wallahu’alam bishawab..🙏
Yang masih bertanya-tanya, atau ragu kapan 1 Syawal, bisa mempertimbangkan waktu gerhana 3 Maret lalu itu adalah 14 Ramadhan. Gerhana tidak pernah terjadi di tanggal 13 bulan qamariah.
Jadi, jika dihitung dari gerhana itu, hari ini adalah 30 Ramadhan, bukan besok.
https://t.co/e79zOvE90D
Pak @ainunnajib sepertinya banyak yang salah tangkap permasalahannya. Saya coba jelaskan ulang ya :)
Begini ya adik-adik mahasiswa, eh penduduk X :D. Umat islam memulai berpuasa dengan mengacu kepada hadist di bawah ini.
Nah permasalahan sekarang bukan tentang rukyat dan hisab.
Permasalahannya begini. Bagi yang mengikuti awal Ramadhan sesuai rencana Muhammadiyah (katanya rencananya begitu) maka yang terjadi adalah ketika anda mulai melakukan puasa, baik secara hisab atau secara rukyat, di di belahan dunia mana pun belum ada seorang pun yang melihat bulan ataupun menghitung bahwa bulan baru telah lahir.
Nah kira-kira bertentangan gak dengan hadist di bawah. Kata saya sih bertentangan.
Bagaimana menurut anda?
Ada beberapa miskonsepsi dari protes mengenai pengelompokan ini.
1. Itu pengeluaran, bukan pendapatan. Pengeluaran 2 juta bisa jadi pemasukannya 5 juta (walau bisa jadi pemasukan lebih rendah dari pengeluaran).
2. Itu per KAPITA, bukan per keluarga. Jadi jika sudah menikah dan beranak dua serta bergaji UMR di kota manapun, pasti tidak masuk desil 10.
3. Naming kategorinya sebenernya nggak penting, ini seharusnya dibuang saja, malah bikin ribut.
Yang paling penting, konsep desil SEHARUSNYA merepresentasikan jumlah penduduk di kategori tersebut, dengan masing-masing desil mewakili 10% penduduk*
Artinya apa? Ada sekitar 28 juta warga Indonesia yang pengeluarannya kurang dari 500 ribu per bulannya, ada sekitar 28 juta yang yang pengeluarannya 500 ribu - 650 ribu per bulan, dst dst, sampai pada akhirnya ada 28 juta orang yang pengeluarannya di atas 3 juta per bulannya.
Yes, mereka-mereka yang pengeluarannya hanya 3 juta per bulan (per orang) berada di kelompok yang sama dengan yang pengeluarannya, misalkan, 500 juta per bulan. Ini menunjukkan bahwa sesedikit itu orang di Indonesia yang sudah cukup makmur.
*Masalah apakah di Indonesia konsep ini digunakan atau tidak, saya pun nggak tau.
Saya ringkas kejadian-kejadian yang memengaruhi harga RAM melejit.
- Sam Altman udah ngunci 40% supply DRAM di Oktober
- Chip AI butuh HBM (High Bandwith Memory), dan yang bisa produksi banyak cuma Samsung, SK Hynix, Micron
- Google butuh banyak HBM dan gak dapet. Orang atas Google yang ditugaskan amanin Supply kabarnya dipecat. Ya, sepenting itu.
- Microsoft sampe harus nego ke Korea Selatan biar dapet supply, ditolak HK Hynix.
- Semua demi slop video brainrot dan konten-konten jelek
A true story from a mosque in Yemen — and everyone who heard it burst into laughter.
Sheikh Abu Imad narrates:
A man passed away in our neighborhood, and after the funeral, the bier used to carry him was left outside the mosque overnight. Around 3:30 a.m., someone came to pray but found the mosque locked. It was freezing, so when he saw the bier covered with a blanket, he climbed inside, took the mattress, and fell asleep inside the bier.
Half an hour later, the mosque caretaker arrived, saw the bier, and assumed a body had been brought for a funeral prayer. When people came for Fajr, they helped place the bier near the mihrab, and everyone lined up for prayer, half-asleep.
In the second rak‘ah, the bier suddenly began to move. Shock spread through the rows as the man inside woke up, lifted the cover, and calmly asked:
“Did you already pray?!”
Chaos exploded. People ran out barefoot, someone fell into the ablution pool, some hit the wall in panic, and the imam even fainted. The mosque emptied in seconds.
Even the man from the bier ran outside with them, shouting, “What happened? Is it the Day of Judgment?”
And when people saw him running behind them, they sprinted even faster.
He kept yelling, “Why didn’t you wake me for Fajr?!” without realizing he was the reason everyone fled.
I actually know this because I looked at buying a factory in Karawang some time ago.
1) Everyone in Indonesia is a little bit guilty. You basically can’t do business without it. So…
2) The factory made a product sold to consumers. The product price was 100 ribu per unit.
Min, di artikel kamu no. 1 ada Vietnam, jadi inget ..
Tau kan apa yg sebenarnya baru saja terjadi dng Vietnam ?
3 bulan yg lalu, Vietnam masih bahagia tenggelam dalam karnaval ”kemenangan diplomatik” dng AS, & 3 bulan berikutnya, negara itu lngsung menghadapi keruntuhan ekonomi yg belum pernah terjadi sebelumnya.
Pabrik² bnyak yg tutup, nelayan bnyak yg nganggur, cadangan devisa krisis, & modal asing ditarik bnyak yg ditarik.
Vietnam yg dulu dikenal sbg ”bintang baru manufaktur Asia Tenggara”, skrg telah berubah jadi pion yg dimanfaatkan & kemudian dilepeh/ditinggalkan dlm permainan internasional, & eemua itu bermula dari perjanjian dagang yg tampak menarik awalnya, tp sebenarnya adalah sebuah jebakan.
Tau kan perjanjian perdagangan antara AS dng Vietnam apa ?
Iya, Vietnam yg awalnya dapet konsesi dari AS, dng mengurangi tarif dari 46% jadu 20%, eh faktanya malah harga yg harus dibayarkan Vietnam jauh lebih besar dari yg diperkirakan.
Bukannya mau nakutin, tp Vietnam merasakan sendiri... Itu lah AS.
Buah karya terbesar Jokowi untuk Indonesia adalah perubahan masif dari Negara Korupsi menjadi sesuatu yang *lebih buruk*.
Di bawah Jokowi, Indonesia berubah jadi Negara Blackmail.
Untuk jadi pejabat, kamu *harus* korupsi.
Karena sudah korupsi, kamu bisa ditangkap kapanpun.
---
Kamu terjebak menjadi budak, jadi slave yang menjilat sol sepatu atasan.
Atasan kini bisa menyuruh kamu melakukan apapun.
Misal, kamu disuruh melakukan lebih banyak korupsi. Kalau kamu menolak, kamu ditangkap.
Ini sangat masif diterapkan dalam, misal, kudeta Golkar dan mobilisasi kades saat pemilu di Jawa Tengah.
---
"Sistemnya jelek banget. Hanya orang bodoh, jahat, atau gila yang mau masuk ke sistem semacam itu."
Memang.
Sistem pemerintahan Indonesia menjadi Seleksi Darwin Terbalik: semakin lama semakin jelek.
Yang bertahan adalah yang paling korup, paling preman, paling perampok dan pemalak buas tidak punya akhlak.
Dengan bangganya mereka tweet di Twitter, "saya adalah penjilat kaki rezim". Habis sepong mani dikumur.
Mereka pamerkan kebejatan, keserakahan, kebodohan, kemalasan, keparasitan, kesombongan, kebelaguan, dan kejahatan tanpa dasar mereka.
Semakin ke atas semakin parah.
Inilah kakistokrasi.
---
Kedahsyatan dampak buruk sistem ini terhadap ketatanegaraan tidak dapat dihitung.
Bisa saja berakhir konflik horizontal atau perang saudara, ketika pejabat korup serakah di daerah yang terpojok dan tak punya opsi lain berkoalisi dengan pejabat lain, lalu memberontak.