Pertanyaannya dibalik,
Jika suatu aplikasi butuh internet, Anda di-WAJIB-kan mengaksesnya, menggunakannya, memanfaatkannya, membuat laporan rutin, konten dst.
Internet susah, listrik masih byar pet, gaji ratusan ribu Anda belum dibayar 3 bulan.
Siapa yg Anda kutuk pertama?
Malam minggu begini, biasanya, anak-anak belajar banyak hal yang tidak masuk rapor.
-> Ikut orang tua ke pasar.
-> Melihat pedagang menghitung uang.
-> Membantu ibu menyiapkan makanan.
-> Menemani ayah memperbaiki sesuatu.
-> Mendengar orang dewasa bernegosiasi, menawar, bekerja, gagal, lalu mencoba lagi.
Kadang, kita sebagai orang dewasa terlalu sempit memahami “belajar”. Seolah belajar hanya terjadi saat anak duduk rapi, membuka buku, lalu membaca atau mengerjakan soal.
Padahal banyak pengetahuan penting justru lahir dari mengamati hidup secara langsung.
-> Cara bicara.
-> Cara mengambil keputusan.
-> Cara menghadapi masalah.
-> Cara membaca situasi.
-> Cara bertanggung jawab.
Anak tidak hanya butuh sekolah yang baik. Anak juga butuh cukup kesempatan untuk ikut menyaksikan kehidupan nyata.
Kesimpulannya sederhana sekali, saudara-saudara. Tiket pesawat mahal bukan karena Indonesia memang susah. Bukan karena avtur. Bukan karena geografi kepulauan. Semua itu adalah narasi yang sangat berguna bagi mereka yang diuntungkan kalau lo percaya bahwa ini adalah takdir yang tidak bisa diubah.
Yang sebetulnya terjadi adalah: Ada dua grup maskapai yang menguasai 96 persen langit Indonesia, dilindungi oleh regulasi yang mempersulit pesaing baru masuk, dibantu tarif batas bawah yang mengunci harga tinggi, dan didukung oleh struktur pajak yang justru memukul penumpang domestik lebih keras dari penumpang internasional.
Dan setiap kali ada krisis baru seperti lonjakan avtur April 2026, narasi "ya wajar lah" itu semakin mudah dijual. Padahal krisis itu hanya mengekspos lebih telanjang betapa rapuhnya industri yang dari dulu memang tidak pernah dibangun di atas kompetisi yang sehat.
Langit Indonesia milik seluruh rakyat Indonesia. Bukan milik dua grup konglomerat.
Sumber: LPEM FEB UI Working Paper 041 (2019), https://t.co/bfPsVb3LFe (Apr 2026), GoodStats (Apr 2026), CNBC Indonesia dan Media Indonesia (Jan 2026), DPR RI (Jan 2026), Databoks/Traveloka (Mei 2026).
Peringatan dini bagi keluarga ASN (@PNS_Ababil), 2026 UKT PTN Bakal Mahal
2025 kemarin sudah kita lewati dengan perjuangan. Ada satu catatan, yang masih membayangi pikiran saya. Terutama bagi ASN golongan II, ASN tunkin jelata,
ASN pemda yang bupatinya kena KPK.
ini juga berlaku, untuk keluarga yang bapak ibunya tamtama / bintara @DivHumas_Polri dan @Puspen_TNI
Kalian harus waspada,
bukan... bukan waspada terhadap teror air keras. tapi waspada, karna keluarga ASN akan menghadapi teror biaya kuliah yang mencekam di tahun 2026.
Saya meyakini,
kita sedang berada dalam badai siklon liberalisasi pendidikan,
di mana negara secara perlahan mulai lepas tangan dan membiarkan kampus-kampus beroperasi layaknya korporasi yang mengejar profit.
Dalam praktik ekonomi yang sesat ini, UKT mahal dipandang sebagai konsekuensi logis dari kualitas, padahal sejatinya itu adalah bentuk pengalihan tanggung jawab negara ke pundak rakyat.
Bayangkan,...
bapak ibu kalian yang PNS.
Harus nge-gendong pejabat skill issue, plus nge-gendong biaya kuliah kalian yang besar sekali.
Bagi anak PNS,
kalian adalah target empuk dari ketidakadilan sistem yang menggunakan indikator buta, dalam menentukan golongan UKT.
Karena pendapatan orang tua kalian, tercatat sangat transparan di database negara,
kalian otomatis terjebak dalam kasta UKT tertinggi tanpa ada ruang untuk negosiasi.
Negara menutup mata bahwa slip gaji tersebut seringkali sudah habis dipotong cicilan rumah dan kebutuhan pokok lainya, yang terus karna macan lansia itu benar2 tak bisa urus negara.
Keluarga PNS, akan dianggap mampu secara administratif, hanya karena status kepegawaian orang tua. Padahal secara faktual, banyak keluarga PNS yang sedang megap-megap menjaga napas untuk meniup tungku dapur, agar tetap ngebul.Mereka di tengah tekanan hidup yang kian brutal.
tapi tenang, ada kabar baik.
kabar baiknya yaitu, kita adalah bangsa yang besar. xixixi
Presiden tidak peduli dengan kalian, buktinya sejak era Sukarno-prabowo, anak PNS selalu dapat UKT mahal.
Kita semua pernah mengalaminya. Seorang guru berdiri di depan kelas yang berisi 30 siswa setelah menjelaskan materi yang cukup rumit, lalu menutupnya dengan kalimat maut: "Sampai sini, ada pertanyaan?"
Hening. Murid-murid mendadak sangat tertarik mempelajari pola kayu di meja mereka atau menghitung jumlah cicak di langit-langit.
Di rumah, polanya serupa. Orang tua bertanya, "Gimana sekolah hari ini?" dan mendapatkan jawaban satu kata yang legendaris: "Biasa."
Kenapa ini terjadi? Apakah anak-anak kita kehilangan rasa ingin tahu? Ataukah jangan-jangan, kuncinya bukan pada jawaban mereka, melainkan pada kualitas kunci yang kita gunakan, yaitu pertanyaan kita?
Guys ini berita yang kedengarannya membosankan tapi dampaknya ke kantong lo lebih nyata dari yang lo kira.
Menteri Keuangan kita baru bilang pemerintah sedang mempertimbangkan untuk melebarkan defisit APBN di atas 3 persen.
Gw jelasin dulu apa artinya buat lo yang gatau
Defisit APBN itu artinya pengeluaran pemerintah lebih besar dari pemasukannya.
Selisihnya ditutup dengan utang.
Selama ini batas defisit Indonesia adalah 3 persen dari PDB.
Itu aturan yang sudah lama jadi pegangan.
Semacam garis merah yang tidak boleh dilewati karena kalau dilewati lembaga pemeringkat internasional bisa kasih nilai negatif ke Indonesia.
Dan nilai negatif itu artinya investor kabur.
Rupiah melemah.
Bunga utang naik.
Yang ujungnya rakyat biasa yang bayar lewat inflasi.
Sekarang pemerintah sedang pikir pikir untuk lewatin garis itu.
Kenapa?
Karena harga minyak dunia sedang meledak akibat konflik Iran.
Senin lalu minyak Brent sempat menyentuh 119 dolar per barel tertinggi sejak 2022.
Kemarin naik lagi ke 100 dolar lebih.
Dan Indonesia adalah negara importir minyak.
Setiap kenaikan harga minyak APBN kita ikut terkena tekanan.
Subsidi energi membengkak.
Pengeluaran pemerintah naik.
Tapi pemasukannya tidak ikut naik secepat itu.
Jadi pemerintah butuh ruang fiskal lebih besar.
Dan salah satu caranya adalah dengan melebarkan defisit.
Tapi ini yang paling bikin gw geleng geleng dari pernyataan Pak Menkeu.
Tapi tunggu dulu.
Di saat yang sama program Makan Bergizi Gratis tetap jalan.
Bahkan diperluas.
Anggarannya 1.2triliun perhari.
Dan ada rencana naik lagi.
Gw tidak sedang bilang MBG itu salah.
Niat mulianya jelas anak anak Indonesia dapat gizi yang lebih baik.
Tapi ini yang perlu lo pertanyakan.
Di tengah APBN yang sudah tertekan karena harga minyak meledak.
Di tengah rupiah yang sudah 17 ribu per dolar.
Di tengah pemerintah yang sedang mempertimbangkan lewatin batas defisit
Program yang anggarannya puluhan triliun tetap jalan penuh.
Sementara yang sampai ke lapangan di beberapa daerah masih ada lele mentah.
Nugget beku.
Dapur miliaran yang ujungnya jadi tempat terima kiriman supplier.
Jadi uangnya keluar triliunan.
Defisit melebar.
Utang bertambah.
Dan yang sampai ke anak anaknya masih perlu banyak pertanyaan yang dijawab dengan jujur.
Ini yang paling bikin gw geleng geleng dari pernyataan Pak Menkeu.
Waktu ditanya soal defisit beliau bilang saya belum tahu masih dipikirin kali.
Dan waktu ditanya kalau Prabowo oke beliau bilang kalau perintah kan kita jalankan, saya kan cuma tangan presiden.
Jadi keputusan yang akan berdampak ke seluruh rakyat Indonesia masih nunggu lampu hijau dari satu orang.
Bukan keputusan kolektif yang sudah matang.
Bukan hasil kajian panjang yang sudah ada kesimpulannya.
Tapi masih dipikirin.
Di tengah situasi global yang sedang bergejolak.
Di tengah harga minyak yang naik turun tidak karuan. Di tengah rupiah yang sudah menyentuh 17 ribu per dolar.
Masih dipikirin.
Dan ini yang paling penting lo pahami sebagai rakyat biasa.
Kalau defisit melebar pemerintah butuh tambah utang.
Utang tambah bunga naik.
Rupiah tertekan lebih dalam.
Harga barang impor naik.
Inflasi naik.
Semua itu lo rasakan setiap kali belanja di pasar atau isi bensin.
Sementara program yang anggarannya triliunan tetap jalan.
Sementara yang memutuskan masih nunggu perintah.
Sumber: CNBC
🚨🚨DOSEN PEREMPUAN BEBANNYA DOBEL🚨🚨
Ada penelitian yang sangat serem banget, karena berani membongkar rahasia umum, yg tjd di dunia kampus. sebuah factos yg kerap disepelekan, padahal penting.
riset yang dilakukan oleh
Bu. @nabiylarisfa PhD, @kpertiwi29 PhD, Fitria H.O
Para penulis menjelaskan bahwa menjadi dosen perempuan di Indonesia itu tantangannya dobel. ya saya mengalami sendiri, S3 di @UINJKT kemarin sambil momong anak gadis ku. . . jujur capek banget. banyak Ya Allah... Ya Allah nya.
Perempuan, selain harus pintar secara akademik, mereka juga sering diberi beban kerja non akademik, yang melelahkan tapi tidak dianggap sebagai prestasi. Ini adalah pengingat penting bahwa sistem pendidikan kita masih punya utang besar dalam urusan keadilan bagi perempuan.
>>rangkuman riset ini, lebih lengkap nanti baca sendiri<<
🌱 Riset ini mengungkap bahwa dosen perempuan sering dikasih tugas-tugas administratif atau urusan "rumah tangga" kampus (seperti mengurus dokumen, rapat-rapat kecil, atau pelayanan) yang menyita waktu, tapi sayangnya tugas ini tidak membantu mereka naik pangkat atau jadi profesor.
🌱 Ada tekanan budaya bahwa perempuan harus jadi sosok yang "pengabdiannya" tanpa batas (seperti konsep Ibuisme). Akibatnya, saat diberi kerjaan lebih, mereka sulit menolak karena merasa itu sudah "kodrat" atau bentuk bakti, padahal itu sebenarnya beban kerja tambahan yang tidak adil.
🌱 Di zaman sekarang, kampus menuntut dosen untuk terus ngebut mengejar prestasi (mode neoliberal). Masalahnya, standar sukses ini hanya melihat hasil akhir (seperti jumlah jurnal), tanpa peduli bahwa dosen perempuan waktunya sudah habis duluan untuk mengurusi urusan birokrasi dan pengabdian yang tidak kelihatan tadi.
Jadi... minat jadi dosen ngak?
https://t.co/8jOs07GuZj
@bayuamus Ibaratnya kaki kamu sebenernya normal dua duanya bisa dipakai tapi pemerintah ambil satu kami kamu terus ngasih kaki palsu supaya disebut pahlawan. Padahal hak kamu lebih dari itu
Romantisasi kemiskinan, dan bagaimana negara secara heroik "hadir" dengan menyuapi rakyatnya makanan seharga 7.500 - 10.000 rupiah (sebelum dikorupsi), padahal negara berpotensi membangun perekonomian warganya sehingga cukup buat hidup mandiri -- bukan sekedar buat beli makan siang satu anak sehari sekali.
#NegaraSalahUrus
Pernahkan Bapak/Ibu memandu anak untuk mengerjakan soal matematika/fisika dengan metode *diketahui*, *ditanya*, *jawab*?
Jika ya, pertahankan! Karena dengan metode seperti itu, anak menggunakan dasar *berpikir komputasional* atau *computational thinking/CT*.
CT adalah cara berpikir (a way of thinking) yang biasa digunakan oleh ilmuwan komputer untuk memecahkan masalah.
Mari kita bedah coretan pada gambar terlampir berdasarkan 4 fondasi utama Computational Thinking:
1. Dekomposisi (Decomposition)
Siswa tidak mencoba memecahkan masalah besar (menghitung volume bangun gabungan yang kompleks) sekaligus. Ia memecah masalah tersebut menjadi beberapa sub-masalah yang lebih kecil dan mudah dikelola:
Sub-masalah 1: Mencari tinggi limas yang belum diketahui.
Sub-masalah 2: Menghitung volume bagian limas.
Sub-masalah 3: Menghitung volume bagian kubus.
Sub-masalah 4: Menjumlahkan semuanya.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)
Siswa mengenali pola-pola yang ada di dalam gambar tersebut:
Ia menyadari bahwa bangun tersebut memiliki bentuk simetris, yaitu limas di atas dan di bawah ukurannya sama. Oleh karena itu, ia menerapkan pengenalan pola dengan tidak menghitung limas satu per satu, melainkan langsung menggunakan pengali dua V 2 limas = 2 x (...).
Ia juga mengenali pola segitiga siku-siku di dalam potongan limas, sehingga memicunya untuk menggunakan Teorema Pythagoras untuk mencari tinggi
3. Abstraksi (Abstraction)
Siswa menyaring informasi yang tidak penting dan hanya mengambil data yang esensial. Ia menerjemahkan gambar visual 3D tersebut ke dalam bentuk variabel-variabel inti yang dibutuhkan untuk perhitungan, yaitu tinggi segitiga, alas limas, dan rusuk kubus. Ia mengabaikan detail lain dari gambar dan hanya fokus pada model geometrisnya.
4. Berpikir Algoritmik (Algorithmic Thinking)
Siswa menyusun langkah-langkah penyelesaian (algoritma) yang sangat terstruktur, jelas, dan berurutan dari atas ke bawah.
Inisialisasi variabel: Menuliskan diketahui dan ditanya.
Proses 1: Cari dulu tinggi limas (proses ini seperti memanggil fungsi pembantu/ helper function sebelum masuk ke fungsi utama).
Proses 2: Menghitung Volume limas.
Proses 3: Menghitung Volume kubus.
Output: Menjumlahkan hasil proses 2 dan 3 ke dalam Volume Gabungan.
*Konsep Debugging*
Sebagai pendidik, gambar ini juga memberikan momen untuk mengajarkan konsep CT kelima, yaitu Debugging.
Jika diperhatikan pada bagian Volume kubus, kerangka algoritmanya sudah sangat benar, tetapi ada "logical error" atau bug pada rumus yang dimasukkan. Siswa menggunakan rumus Luas Permukaan Kubus, padahal yang dibutuhkan adalah rumus Volume.
Menganalisis jawaban ini di kelas bisa melatih anak-anak untuk tidak hanya peduli pada "hasil akhir", tetapi juga melacak bug baris-demi-baris pada sebuah sistem yang secara alur sudah logis, namun outputnya keliru.
Dari awal banget gw mencak-mencak pas ada ide sekolah rakyat dan sekolah garuda. Karena apa? Keliatan sebenernya negara punya duit. Buat makan duitnya ada, buat bikin sekolah berasrama duitnya ada, buat bikin fasilitas mewah sekolah garuda duitnya ada banget. Tapi buat sekolah negeri, duitnya gak ada!
Saya setuju banget kok kalau murid dengan kemampuan kognitif tinggi itu mending dikumpulkan di lingkungan yg sama dibanding harus slow down ngikutin teman sekelasnya di sekolah reguler, kan itu ide utamanya sekolah garuda kan. Oke lah kalau mereka mendapatkan akses belajar yg bagus. TAPI BUKAN BERARTI ANAK SEKOLAH NEGERI REGULER GAK LAYAK MENDAPATKAN FASILITAS YG SAMA. Eh itu sekolah negeri banyak yg gak punya lab, perpus, bangunan jelek, bahkan sekolah berdiri seadanya. Sarana prasarana gak lengkap. Bantuan ada, tapi gak merata. Bantuan tuh ada, tapi dikit. Padahal ternyata duit negara tuh banyak.
Ini sekolah kagak punya lab komputer, kagak punya perpus, bola basket bola voli pun udah sobek, dana BOSP diprioritaskan untuk keperluan lain, kagak punya lab sains sampe gw harus puter otak pake alat bahan seadanya supaya murid gw di lereng gunung belajar sains dg proper. Ya sebenernya gw bisa aja kok ngajar seadanya sbg bentuk protes karena sarana prasana sekolah gak lengkap. Tapi gw gak tega ngelihat anak lereng gunung ini gak mendapatkan pendidikan yg layak. Mereka berangkat sekolah dg keadaan yg berat. Kondisi ekonomi keluarga yg struggling, ortu cerai, ortu tunggal. Ya masa ke sekolah cuma disuruh ngerjakan soal tanpa membangun skill yg dibutuhkan untuk survive di masa depan? At least mereka harus dapet pola pikir yg proper, dan satu-satunya cara adalah dari pendidikan. Tolong sediakan sarana prasarana yg lengkap untuk sekolah negeri!!!!! Mereka layak mendapatkan pendidikan yg sama berkualitasnya dengan murid sekolah garuda.
Negara ini kelihatan seperti jalan tanpa peta dan kompas.
Hari ini BPJS bilang PBI dimatikan Kemensos.
Besok Kemensos bilang itu hasil pemutakhiran data.
Lusa rakyat disuruh “lapor ke Dinsos” sambil nahan sakit.
Masalah utamanya bukan siapa yang pencet tombol nonaktif.
Masalahnya negara tidak punya blueprint kebijakan yang jelas.
Mana kebijakan prioritas, mana yang bisa ditunda.
Mana efisiensi administratif, mana yang menyangkut hak hidup warga.
Kalau jaminan kesehatan saja bisa diperlakukan seperti spreadsheet, itu tanda negara mengelola rakyat seperti angka, bukan manusia.
Bukan negara tanpa anggaran.
Tapi negara tanpa arah.
Ini lho anggaran MBG yang digugat ke MK.
Konstitusi mewajibkan anggaran pendidikan minimal sebesar 20% dari total APBN.
Tahun ini, anggaran pendidikan setara 20,01%, tapi... itu termasuk MBG yang jumlahnya mencapai 223,5T.
Tanpa menghitung MBG, anggaran pendidikan hanya 14,2%. Jauh di bawah amanat konstitusi.
Padahal di negara ini, masih ada siswa yang tidak mampu membeli buku tulis dan pensil 🥀
Anak kecil yg bunuh diri itu, mati dibunuh keputusan politik negaranya sendiri.
Sebab, negara yg membiarkan anak itu tak punya uang 10 ribu adl negara yg sama yg memberi uang 16,7 triliun ke organisasi yg didirikan predator anak utk mendukung pembunuh ratusan ribu anak lainnya.
Kenapa ortu gak bisa kasih jajan? Karena gak punya uang
Kenapa gak punya uang? Karena sulit dapet kerja
Kenapa sulit dapet kerja? Karena gak punya ijazah S1 dg 10th pengalaman kerja skor ielts 8.5 maksimal 25 tahun
Kenapa gak punya ijazah S1? Karena gak punya ijazah SMA/SMK
Kenapa gak punya ijazah SMA? Karena harus kerja jadi buruh kasar bantu orang tua biar bisa makan keesokan harinya
Jangan pernah gaslight orang miskin untuk menjadi pembenaran program negara 😇
@tanyakanrl "chat gmn" tuh memang template semua adek2 kah, adekku juga kalo ada apa apa nanya chatnya gimana kata katanya gimana bilangnya gimana 😭😭😭 pantaslah kakak kakak itu suka becandain kadang gemes juga lah segala chat kek mana ditanyain
saya kira, utas ini perlu disebarkan.
ferry harus tau, presiden pny pena ajaib..
jika malam ini presiden ttd perpres, besok pagi aturan itu akan berlaku.
tak peduli guru dibawah pemda / yayasan swasta.
masalah guru, tdk akan selesai jika didorong dr bawah, harus lewat atas.
Fyi aja, populasi dunia ada 8,3 miliar manusia dengan perjuangan yg beda2. Banyak yg terlalu sibuk bertahan hidup sampe ga sempet ngikutin isu2 terkini. Kalo semisal ketemu org yg ga tahu apa2, cukup beri tahu aja, ga perlu ngehujat. Edukasi itu merangkul, bukan memukul.