Ingat dulu KKN PPM UGM di Pantai Cemoro Sewu, Bantul bawa program Solar Water Pumping System (SWPS) karena dosen pembina KKN dari Pusat Studi Energi.
Selama bersama warga, kami sosialisasi sekaligus mengumpulkan timbal balik. Kami terima di antaranya masukan untuk pembuatan pompa tenaga gravitasi, gitu istilah mereka, dengan dana KKN kami.
Dalam imajinasi, pemuda setempat menjelaskan, jadi pakai galon berisi air sebagai pancingan tekanan. Galon itu keluarkan isi air akibat gravitasi, tapi di ujung bukaan lain disediakan lubang selang ke arah sumur. Nanti air galon perlahan akan habis karena keluar, tapi secara bersamaan air sumur akan dihisap masuk ke dalam galon.
Begitu seterusnya selamanya, pompa gratis tanpa tenaga listrik.
Masalah pengairan di daerah itu mendesak untuk pertanian, makanya ini adalah masalah yg dekat buat kehidupan. Dan mereka ingin sekali menemukan solusi hingga sampai ke eksperimen dalam kepala seperti itu.
Hanya butuh semalam buat kami mahasiswa teknik kala itu berdiskusi dan sampai ke kesimpulan, “itu menyalahi hukum kekekalan energi serta prinsip entropi dalam termodinamika”.
Energi potensial air yang keluar dari galon tidak dapat secara neto mengangkat air dari sumur secara berkelanjutan, apalagi dengan adanya kerugian akibat gesekan dan ketidaksempurnaan sistem.
Masyarakat kita itu tahu apa masalahnya tapi pendekatan dan pengetahuannya terhadap solusi teknis masih terbatas. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang lebih kuat tentang hukum dasar alam melalui pengujian empiris. Ga heran kalau ide-ide kreatif seperti ini kadang muncul tanpa sempat diuji konsistensinya dengan prinsip fisika.
Meski sepakat “teori” mereka ini menyalahi Fisika, kami tidak begitu tega menyampaikan kebenaran. Karena seharusnya yg bisa mengoreksi adalah Guru dan Sekolah setempat.
Di sisi lain ini adalah cerminan tantangan kualitas pendidikan Fisika di daerah tersebut. Selain minim fasilitas mungkin juga tidak pernah ada eksperimen untuk membantah ide-ide liar di kepala.
Daripada membenahi kualitas dan kesejahteraan Guru, lebih baik ganti nama kurikulum dan bagi-bagi makanan kan? Toh ga ada yg lebih genting dari perut lapar.
"Suatu saat, di kelak kemudian hari, kekayaan yang ada di segelintir orang akan pelan-pelan menetes ke bawah"
Yang disebut Prabowo itu, dikenal sebagai trickle-down effect: salah satu ilusi ekonomi terbesar dalam sejarah kapitalisme modern.
Secara sederhana, ini adalah keyakinan bahwa kalau kelompok kaya dibiarkan makin kaya, diberi ruang akumulasi lebih besar, diberi insentif, atau dilindungi kepentingannya, maka pada akhirnya kekayaan itu akan “menetes” ke masyarakat bawah lewat investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Masalahnya, sejarah membuktikan bahwa teori ini sangat jauh dari kenyataan. kekayaan tidak otomatis menetes, yang terjadi justru kekayaan justru mengendap, berputar di lingkaran yang sama, lalu berubah menjadi kekuasaan politik.
Bahkan IMF sendiri pernah menunjukkan bahwa ketika porsi pendapatan kelompok terkaya naik, pertumbuhan malah justru cenderung melemah, sama halnya yang terjadi di Indonesia.
Pendeknya, trickle-down economics adalah dongeng paling sukses yang pernah dijual elite kepada rakyat miskin.
Dan dia adalah bagian dari elite yang menjual dongeng itu.
🟢 Tutorial membuat sticker Whatsapp bergerak 🟢
1. Unduh dan buka aplikasi https://t.co/b4X5QS2k4U di ponsel Anda (tersedia untuk Android dan iOS).
2. Masuk menggunakan akun Google atau Apple Anda.
3. Ketuk ikon "+" (Tambah) di bagian bawah layar, lalu pilih opsi "Animated" (Animasi/Video).
4. Pilih video yang ingin Anda jadikan stiker dari galeri HP Anda.
5. Potong durasi video agar tidak terlalu panjang (idealnya 1-3 detik saja).
6. Tambahkan teks, emoji, atau hiasan lain jika diperlukan, lalu ketuk "Next" (Selanjutnya).
7. Buat paket stiker baru dan beri nama pak tersebut.
8. Ketuk "Add to WhatsApp" (Tambahkan ke WhatsApp). Stiker Anda kini siap digunakan!
Di abad ke 19, ada satu wilayah di Pulau Sumatera yang bikin Belanda frustrasi bukan kepalang.
Bukan karena wilayah itu kaya raya.
Bukan karena pasukannya besar.
Tapi karena ada satu orang di sana yang tidak pernah bisa dibeli, ditipu, atau dihancurkan.
Namanya: Sisingamangaraja XII.
Dan ini adalah ceritanya.
Utas panjang. Siapkan minuman dulu. ☕
Bagaimana kalau kita hidupkan lagi kerajaan-kerajaan Nusantara.
Sebuah caption dari video di bawah untuk sekedar bahan diskusi.
Udah muak banget ga sih liat pemerintahan sekarang, bener-bener gak ada penyeimbang, pejabatnya kebanyakan memperkaya diri, semua lembaga negara gak ada yg gak korupsi.
Opsi berikut layak utk dipertimbangkan.
Sc. IG fubidon
BEM yang itu ngaku dibayar 300juta.
Ibu-ibu ngaku dibayar 100ribu dan dapat panci.
Terus kita bisa apa?
Lapor kemana?
Audit itu dana dari siapa?
harus minta tolong kemana?
Kita udah dikasih pengakuan,
tapi seperti biasa hanya bisa diam.
Mau sampe kapan?
Pas Mbak Dian Sastro nyebut channel Predictive History (Profesor Jiang) waktu podcast sama Raditya Dika, gue langsung pengen cek.
Terus gue buka cek videonya yang Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad.
Gila, otak gue kayak kena reboot setelah nonton. Dia breakdown pake logika Game Theory kenapa yang kaya makin tajir terus, sementara yang miskin susah banget naik kelas. Bukan cuma ngomong doang.
Dear Istriku... aku gak tergoda sama
pelakor. Tapi jujur, aku butuh ini darimu
1. Pelakor itu menang bukan di wajah.
Aku gak butuh yang lebih cantik dari kamu,
Bun. Pelakor menang karena bikin suami
ngerasa dihargai. Itu aja. Hargain aku lagi,
dan gak ada yang bisa ngalahin kamu.
2. Aku butuh disambut, bukan disaingin
sama HP.
Capek kerja seharian, yang aku cari pas buka
pintu itu senyum kamu bukan layar HP
yang lebih sering kamu tatap daripada aku.
3. Aku punya kebutuhan, dan aku mau itu
dari kamu.
Aku gak munafik. Sentuhan kecil dari kamu,
pelukan dari belakang, isyarat kalau kamu
masih pengen aku itu jauh lebih nendang
daripada godaan siapa pun di luar sana.
4. Aku butuh ngerasa jadi jagoan.
Di luar, aku sering diremehin orang. Di
rumah, aku cuma pengen satu orang yang
bikin aku ngerasa hebat. Cuma kamu yang
bisa kasih itu, Bun.
Pria yang sudah menikah selalu
diukur dari bagaimana sikap istrinya
di depan umum.
Jika istrinya berisik, suka berdebat,
dan tidak tahu tata krama; dunia
kehilangan respect pada suaminya.
Jika ia lembut, feminim, dan penuh
rasa syukur; dunia menaruh respect
pada suaminya.
Karakter melampaui kecantikan.
Pilihlah istrimu dengan penuh kebijakan.
Anak tetanggaku nggak ikut les apapun.
Nggak les matematika. Nggak les Inggris.
Nggak les coding. Umur 10 tahun.
Sepulang sekolah main.
Ibu-ibu komplek sudah lama geleng-geleng.
Di grup WhatsApp komplek, topiknya selalu sama. Anakku baru mulai les piano. Anakku ranking 1 lagi, Alhamdulillah. Anakku ikut olimpiade sains minggu depan. Ibunya si anak itu diam saja. Nggak pernah posting apapun.
Arisan komplek bulan lalu.
Seorang ibu nyeletuk langsung ke dia:
Nggak khawatir?
Anak sekarang kalau nggak diasah dari kecil,
nanti ketinggalan.
Ibunya senyum. Di asah kok. Tapi caranya beda. Di asah gimana? Les apa? Bukan les. Aku ajak dia ngobrol setiap malam. Beberapa ibu saling pandang.
Ngobrol doang? Iya. Tentang apapun yang dia mau ceritain hari itu. Aku nggak boleh pegang HP waktu dia ngobrol. Aturannya cuma itu. Ruangan mulai senyap.
Terus anaknya nggak ketinggalan pelajaran? Kemarin gurunya nelpon. Semua menunggu. Pasti ada masalah, pikir mereka.
Gurunya bilang, anakku satu-satunya murid yang kalau ada teman kesulitan dia yang pertama nawarin bantuan. Bukan karena disuruh. Tapi karena dia mau. Gurunya bilang itu langka sekarang. Satu meja. Senyap.
Ibu yang tadi nanya anaknya ikut 4 les sekaligus. Senin matematika. Rabu Inggris. Jumat coding. Sabtu piano. Minggu lalu anaknya nangis di mobil sepulang les. Bilang capek. Bilang nggak mau sekolah lagi. Dia nggak cerita itu di grup.
Yang paling membekas adalah ini. Aku tanya ke ibunya setelah arisan bubar: Bu, nggak takut anak ibu nggak bisa bersaing nanti?
Dia jawab pelan: Aku lebih takut anakku bisa bersaing — tapi nggak tahu caranya berteman. Bisa juara — tapi nggak tahu caranya mendengarkan orang lain. Pintar — tapi kesepian. Itu yang aku takuti. Bukan nilai rapornya.
Aku pulang arisan. Anakku lagi hafalan perkalian untuk persiapan les besok. Aku tanya: Hari ini gimana, Nak? Dia jawab nggak sambil liat aku. Fokus ke buku. Aku nggak ingat kapan terakhir kali dia cerita sesuatu ke aku dengan mata berbinar.
Ibu itu nggak anti les. Nggak anti prestasi. Dia cuma nggak mau anaknya tumbuh jadi orang yang bisa segalanya - tapi nggak punya siapapun untuk diajak berbagi. Dan malam itu aku sadar - aku sibuk membentuk anakku jadi juara. Tapi lupa nanya: juara di mata siapa?
cc:threadlilydes2026
Beberapa dampak mati lampu PLN yang belakangan dilakukan secara tiba-tiba tanpa pengumuman terlebih dahulu, yang jarang dibahas orang banyak:
Pompa air yang lagi jalan tiba-tiba diputus listriknya bisa bikin komponennya rusak. AC yang langsung nyala lagi begitu listrik balik bisa bikin kompresornya cepat aus, karena dipaksa hidup ulang sebelum mesinnya siap. Kulkas yang suhunya naik-turun berkali-kali bukan cuma bikin makanan basi, tapi juga ngefek pendekin umur mesinnya dan tagihan listrik yang naik karena harus dingin ulang dari nol.
Komputer PC yang lagi nyala juga kena. Beda sama laptop yang punya baterai cadangan, PC langsung mati seketika begitu listrik putus. File yang lagi dikerjain dan belum di-save bisa hilang, atau malah rusak dan nggak bisa dibuka lagi.
Yang paling nyebelin: orang yang WFH dengan deadline. Render video yang udah jalan 3 jam, hilang. Meeting client yang dipotong tiba-tiba, dan yang nanggung reputasinya bukan PLN, tapi orangnya sendiri. Ini nggak pernah masuk statistik kerugian mana pun.
Yang lebih berat lagi: ada sebagian kecil populasi yang pakai nebulizer, CPAP, atau alat medis rumahan lain. Mereka bukan cuma nggak nyaman, mereka benar-benar terganggu secara kesehatan.
Gw dh muak lihat fakta/gosip tentang penyebab seringnya mati lampu belakangan, udah banyak yang bahas juga. Gw cuman minta Pemerintah kalau lihat ini, tolong dikondisikan.
List yang tidak bayar pajak di Indonesia (DITANGGUNG APBN) :
✅ Presiden dan Wakil Presiden
✅ Menteri dan Wakil Menteri
✅ Anggota DPR RI
✅ Anggota DPD RI
✅ Hakim
✅ Pejabat negara lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan
✅ ASN (PNS dan PPPK)
✅ Anggota TNI
✅ Anggota Polri
✅ Pensiunan PNS/TNI/Polri yang pensiunnya dibayar APBN/APBD