@AREAJULID لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِف لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami serta tidak mengenal hak orang alim dari kami.”
[Kitab Shahihul Jami']
Kelakuan beracun para guru di suatu sekolah terhadap rekan kerja 😔.
Mulai dari nyinyirin gadget pribadi yg dibawa utk membantu KBM, ngepoin isi kontrakan rekan kerja dan kemudian "dibahas" di sekolah 😭, sampe guru senior yg 🤢
Girl!!!!!! GET OUT!!!! RESIGN��😡😡
Pernah ga sih kamu terjebak scroll hp berjam-jam? Padahal kamu tau ada yg harus dilakuin, tapi malah tetep scroll.
Ujung2nya kamu kewalahan, stres, dan ngerasa gak produktif.
Artinya kamu lagi di "freeze mode" – dan mungkin disebabkan oleh trauma.
A THREAD.
Sebisa mungkin tahajud. Kalau belum bisa, upayakan tetap bangun lalu baca zikir & salawat. Kalau masih gagal, niatkan aja dulu sembari pasang alarm. Intinya sudah ada usaha, sekecil apapun utk “menemui” Tuhan di sepertiga malam. Tak ada yg sia-sia bagi-Nya. Dia Maha Mengerti.
Pengacara Brigadir J ini lucu kalau kasih statement hahaha. Gua suka gayanya, nggak ada rem-nya.
Barusan denger dia ngomong "FS ini kebanyakan makan uang haram, sehingga otaknya menjadi rusak." hahaha....
Menjadi dewasa, sudah bukan waktunya: bertindak tanpa berpikir, berucap tanpa berpikir, semua harus melalui pertimbangan. Karena di tahap ini sudah tidak ada pemakluman terhadap hal yang dianggap "salah" oleh mayoritas. Tak terkecuali sesuatu yang benar, tapi "dipaksa" salah.
Menjadi dewasa tentunya, bukan lagi tentang "diri sendiri", tapi banyak subjek maupun objek yang berdampingan dengan kita. Dan itu poin penting dari tekanan yang nyatanya bukan hanya melekat di pundak, bahkan sampai ke langkah kaki.
Aspek khusus dari kata "tekanan" yang saya sebutkan sebelumnya, seperti: beban tulang punggung di rumah, beban perempuan di masyarakat, beban pejuang nafkah di dunia kerja, bagaimana kita harus bertemu dengan beragam "karakter" manusia dan cara-cara "memaklumi" karakter tersebut.
Bukan berarti, masa kini (yang sedang terjadi) begitu berat sampai tak tersisa sedikit kebahagiaan. Hanya saja "tekanan itu" berbeda, semakin lama ditahan semakin dalam, khawatir suatu saat meledak dengan cara tak terduga.