Happy 6th Birthday, Sats! 🫶🏻
สุขสันต์วันเกิดปีที่ 6 ของคุณวันเสาร์
ของขวัญวันเกิดปีนี้ ท่านประธานเตรียมไว้ให้ที่จอMBK ถ้าทุกคนว่างไปชมกันได้นะ
Our President has prepared a special birthday gift for you this year, and it’s being displayed on the MBK screen. If you’re free, feel free to stop by and check it out!
ตลอดระยะเวลาที่ผ่านมา พวกเราได้เติบโต หัวเราะ และผ่านเรื่องราวมากมายมาด้วยกัน ขอบคุณที่ยังคงอยู่เคียงข้างกันเสมอ ไม่ว่าจะในวันที่เต็มไปด้วยรอยยิ้ม หรือวันที่เหนื่อยล้า
ท่านประธานเชื่อเสมอว่าการที่เราได้พบกันและเดินทางมาด้วยกันจนถึงวันนี้ เป็นโชคชะตาที่สวยงาม และหวังว่าพื้นที่เล็ก ๆ แห่งนี้จะยังคงเป็นที่ที่ทุกคนสามารถกลับมาพักใจ และได้รับความสุขเล็ก ๆ จากกันและกัน
ขอให้ปีที่ 6 นี้ เต็มไปด้วยความสุข รอยยิ้ม และความทรงจำดี ๆ ที่เราจะได้สร้างร่วมกันอีกมากมาย
จากพวกเราทุกคนที่สตูดิโอ
ขอบคุณจากหัวใจที่เติบโตมาด้วยกันเสมอ
สุขสันต์วันเกิดปีที่ 6 นะ คุณวันเสาร์ 🫶🏻
Happy 6th Birthday, Sats! 🫶🏻
Over the years, we’ve grown, laughed, and shared countless memories together. Thank you for always being here, through the brightest days and even the difficult ones.
He has always believed that meeting each other and walking this journey together is a beautiful fate. We hope this little place will continue to be somewhere you can return to, find comfort, and share happiness with one another.
May this 6th year be filled with joy, smiles, and many more precious memories for us to create together.
From all of us at the studio,
thank you from the bottom of our hearts for growing alongside us.
Happy 6th Birthday, Sats. 🫶🏻
#JeffSatur
#HBDSaturdayss
#6thANVSaturdayss
Rupiah Anjlok ke Level 17.600 per Dolar AS, Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar AS
"Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?"
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.