Sekedar mengingatkan lagi.
Tidak semua pembalap bisa dan harus seperti Max Verstappen. Dia anomali. Ketinggian kalau dijadikan standar.
Untuk jadi seperti sekarang, kita tahu masa kecilnya seperti apa dan tidak semua orang mengalami itu.
Jadi juara dunia juga enggak harus plek-ketiplek Verstappen: harus agresif, harus berani brengsek, harus berani vokal ke tim.
Hal-hal tersebut memang jadi faktor di aspek mentalitas. Tapi tidak serta merta jadi faktor mutlak bagi seorang pembalap untuk dilabeli sebagai "WDC material".
Faktornya jauh lebih banyak. Dari aspek operasional tim, politik, mobil, skill, konsistensi, pengalaman, mental, sampai keberuntungan.
Apalagi berbicara mental, pembalap datang dari background berbeda-beda. Ada yang dari kecil sudah dilatih dengan keras. Ada yang terbiasa di depan. Ada yang terbiasa mengejar. Ada yang terbiasa main aman.
Mental mana yang pantas disebut sebagai "WDC material"?
Jawaban pastinya: tergantung faktor kombinasi lainnya seperti apa. Verstappen gak melulu agresif 4 tahun belakangan & bisa main aman. Hamilton juga sama.
Agresif juga tak selamanya juara terus. Vettel contohnya yang gagal bersama Ferrari atau Alonso yang berakhir dengan keputusan karir yang salah.
Bermain aman & jadi "good guy" juga bisa juara dunia. Mika Hakkinen contohnya.
Semua bisa jadi juara dunia. Tergantung momentum yang bisa menyatukan semua faktor yang tadi kami sebut dalam satu musim. Jenson Button saja nggak ada yang menyangka bisa juara dunia di 2009. Atau Keke Rosberg yang juara cuma modal 1 kemenangan.
Jadi jika ada pembalap yang talentanya tidak seperti Verstappen, Hamilton, atau Schumacher, bukan berarti dia tidak "WDC material" atau malah disebut "skill issue".
Sebuah anggapan prematur dan mengkerdilkan faktor-faktor lain yang lebih besar daripada sisi personal pembalap itu sendiri.
The 2024 Summer Olympics officially begin today in Paris π«π·
A thread of the best uniforms of the Paris 2024 Olympics π§΅
1. Team Mongolia π²π³