Ruang Club Somanies terasa sunyi, jauh berbeda dari suasana biasanya. Semua anggota duduk terdiam. Keheningan memenuhi ruangan, hanya denting jarum jam di dinding yang terdengar jelas, menandakan waktu yang terus berjalan.
βGua pamit ya?β
Sanusi berjalan ke arah pintu, langkahnya pelan, ada rasa berat hati yang terlihat jelas dalam gerakannya, seakan ia tidak ingin meninggalkan tempat itu, atau mungkin meninggalkan orang-orang yang ada di sana.
βBang, lu beneran ga ada yang mau disampein?β Percy memastikan kembali.
βGa ada, Per.β Sanusi bersandar pada kursinya, menatap kosong ke arah langit-langit ruangan, pikirannya melayang jauh dari realitas sekitarnya. Kemudian, dia berdiri.
Sesaat, sudut bibir Sanusi terangkat, membentuk senyum tipis yang sulit disembunyikan. Mungkin momen-momen konyol seperti ini akan Sanusi rindukan nantinya. Dalam senyuman itu, terlihat sedikit nostalgia dan apresiasi terhadap kebersamaan beberapa waktu terakhir.
βGue dikasih tau Agam sama Steven sumpahβ Wajah Eyyo terlihat panik. Namun, di sisi lain, Agam dan Steven berusaha keras untuk menahan tawa mereka.
Eyyo celingak-celinguk, matanya bergerak tak tenang, ragu untuk bertanya. Dengan sedikit terbata-bata, ia akhirnya memberanikan diri, βBang.. Emang bener abis kelulusan Abang bakal jadi TKI di Kamboja?β
βSerius dikit anjing, Yoβ Ucap Morgan sembari menyikut Eyyo.
Hingga akhirnya Sanusi, membuka suara memecah keheningan. βLu pada inget gak sih pasββ
βEnggak, Bang.β potong Lance.
Hening. Lagi.
βKak Ucyβ Ucap Kiel lirih.
Tidak ada respon, βBangβ panggil Maverick kembali.
βHm?β
Herbert mulai gusar, βUdah lah bang, to the point aja.β