prabowo spill ada buruh bawang:
- namanya ibu susana
- buruh harian kupas bawang
- upah dia 700.000/kilogram
- sekali lagi 700 rb per kilo
- kalo bisa 10 kilo sehari dapat 7 jt
- sebulan berarti 210 juta rupiah
Guys, hari ini IHSG jatuh 3,08% ke level 6.396 hanya dalam satu sesi perdagangan.
Dan penyebabnya bukan karena perang.
Bukan karena krisis global.
Bukan karena berita buruk dari Amerika atau China.
Penyebabnya adalah satu rumor.
Satu kabar yang belum dikonfirmasi resmi.
Satu isu yang seliweran di antara pelaku pasar.
Dan itu saja sudah cukup untuk menghancurkan triliunan nilai saham dalam hitungan jam.
Apa isu yang beredar:
Pemerintah sedang menggodok aturan ekspor komoditas satu pintu melalui satu badan khusus bentukan negara.
Batu bara,
minyak kelapa sawit,
mineral logam semua eksportir kemungkinan diwajibkan menjual produk mereka kepada entitas baru ini dulu.
Baru entitas itu yang menangani ekspor ke luar negeri.
Belum dikonfirmasi.
Belum ada aturan resmi.
Masih rumor.
Tapi market langsung bereaksi dengan sangat keras.
Dan ini hasilnya dalam satu sesi:
BUMI — saham batu bara Bakrie jeblok 9,22%. Dalam setengah hari.
AMMN — Amman Mineral jeblok 10,14%. Salah satu saham tambang terbesar Indonesia.
AADI — Adaro Andalan jeblok 9,78%.
Total nilai transaksi yang didominasi tekanan jual dalam satu sesi: Rp12,9 triliun.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Market tidak bereaksi terhadap aturannya.
Market bereaksi terhadap kemungkinan aturannya ada.
Terhadap sinyal bahwa pemerintah sedang berpikir ke arah sana.
Itu artinya kepercayaan investor terhadap kepastian kebijakan di Indonesia sudah sedemikian rapuhnya sehingga rumor saja sudah cukup untuk memicu kepanikan jual sebesar ini.
Ini bukan pasar yang sehat.
Pasar yang sehat tidak ambruk 3% karena rumor yang belum dikonfirmasi.
Dan ini sambungkan dengan semua yang sudah terjadi sebelumnya:
BYD buka pabrik insentif pajak dihilangkan mendadak.
Komisi ojek online dipaksa turun dari 20% ke 8% tanpa kajian matang.
Royalti tambang dinaikkan tiba-tiba.
Bunga Mekaar diperintahkan turun dari 24% ke di bawah 9% dengan satu instruksi tanpa roadmap yang jelas.
Setiap kali ada kebijakan baru tidak ada yang tahu apakah itu final atau akan berubah lagi besok.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada predictability.
Investor asing yang sudah gue ceritakan sebelumnya Swiss, Prancis, UEA semuanya kabur karena alasan yang sama: tidak ada kepastian hukum dan regulasi.
Dan hari ini bahkan rumor tentang kemungkinan aturan baru sudah cukup untuk menghapus Rp12,9 triliun nilai pasar dalam setengah hari perdagangan.
Dan ini yang paling ironis:
Prabowo hari ini bilang "kalau tidak beres copot sederhana."
Gubernur BI Perry bilang "rupiah stabil volatilitasnya 5,4%."
Purbaya bilang "fundamental kita kuat."
Sementara IHSG jatuh 3% karena satu rumor kebijakan yang belum pasti ada.
Kalau fundamental memang kuat mengapa satu rumor saja cukup untuk menghancurkan kepercayaan pasar sebesar ini?
Karena fundamental yang kuat tidak ambruk karena rumor.
Yang ambruk karena rumor adalah sistem yang sudah kehilangan kepercayaan investor sejak lama dan hanya menunggu satu trigger untuk jatuh.
IHSG hari ini bukan sekadar angka.
IHSG hari ini adalah cermin dari berapa besar kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah Indonesia.
Dan cermin itu menunjukkan gambar yang sangat jelas:
kepercayaan itu sudah sangat tipis.
Begitu tipisnya sehingga satu rumor yang belum dikonfirmasi tentang kemungkinan aturan ekspor satu pintu sudah cukup untuk memicu kepanikan Rp12,9 triliun dalam setengah hari.
Sementara presiden berdiri di podium bilang ekonomi kita kuat.
Sementara Menteri Keuangan bilang pertumbuhan kita membanggakan.
Sementara Gubernur BI mengganti definisi stabilitas agar kondisi yang buruk bisa disebut baik.
Market tidak mendengarkan pidato.
Market membaca sinyal.
Dan sinyal hari ini sangat jelas:
yang perlu dicemaskan bukan hanya rumornya tapi betapa mudahnya pasar Indonesia ambruk ketika ada rumor apapun yang muncul.
Guys, Ferry Irwandi baru bedah
kenapa rupiah terus melemah
dan cara dia menjelaskannya
menurut gue paling jujur d
an paling tidak takut nyalahin siapapun.
Intinya satu:
rupiah melemah bukan karena satu sebab.
Dan jangan percaya siapapun yang bilang ini
semua salah satu pihak saja.
Yang sering salah kaprah di medsos:
Ada yang bilang santai saja rupiah lemah justru menguntungkan eksportir.
Kelihatannya masuk akal,
tapi Ferry langsung potong:
ekspor kita hanya tumbuh 0,9%
sementara impor tumbuh 7,18%.
Artinya yang benar-benar diuntungkan rupiah lemah itu jumlahnya sangat kecil
dibanding total penduduk Indonesia.
Jadi itu bukan jawaban yang komprehensif
itu setengah kebenaran yang dipakai untuk menenangkan orang.
Ada juga yang bilang ini bukan urusan Kemenkeu
ini murni urusan Bank Indonesia.
Ferry juga langsung bantah.
Kurs itu dipengaruhi fiskal, moneter, kebijakan pemerintah, dan kepercayaan pasar sekaligus.
Tidak bisa dilempar-lempar tanggung jawabnya.
Dan ada yang bilang ini sudah lebih parah dari 1998. Itu juga tidak tepat.
Yang bikin 1998 jadi krisis bukan angka kursnya
tapi percepatannya.
Rupiah naik 600%
dalam waktu sangat singkat
dari Rp2.400 ke Rp15.000.
Sekarang pelemahan terjadi bertahap
belum sekategoris itu.
Tapi bukan berarti aman.
Tiga lapis penyebab yang harus dipahami:
Pertama — faktor eksternal.
Dolar sedang sangat kuat karena dunia sedang tidak baik-baik saja.
Konflik Timur Tengah belum selesai.
Suku bunga Amerika tidak turun-turun.
Kalau lo punya uang dan harus memilih antara simpan di negara berkembang yang volatile atau di Amerika yang bunganya tinggi dan dolarnya menguat jawabannya jelas.
Modal terus mengalir keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Dan rupiah jadi salah satu yang paling tertekan.
Tapi ini bukan alasan untuk santai.
Karena seharusnya kita tidak semelemah ini kalau domestik kita kuat.
Kedua — faktor domestik.
Di sinilah masalah yang tidak bisa disembunyikan.
Pendapatan negara Q1 2026 naik 10,5%.
Tapi belanjanya naik 31,4% totalnya Rp815 triliun dalam satu kuartal.
Dari jumlah itu Rp610 triliun adalah belanja pemerintah pusat saja.
Ekspor tumbuh 0,9% impor tumbuh 7,18%. K
ebutuhan dolar meningkat
tapi pemasukan dolar tidak ngejar.
Subsidi energi naik lebih dari 266% hampir Rp118 triliun atau sekitar 30% dari APBN.
Ini harus dilakukan untuk menjaga daya beli.
Tapi ketika digabung semua tekanan lain yang paling terbeban tetap nilai tukar.
Siklus mematikannya begini:
rupiah melemah
beban APBN untuk bayar kewajiban dolar makin besar tekanan ke rupiah makin dalam rupiah melemah lagi.
Ketiga — kepercayaan yang sudah mulai retak.
Dan ini yang paling berbahaya.
Ferry bilang dengan sangat kesal:
ketika pejabat publik di konferensi pers bilang bangga bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61%
kita di atas Amerika, Singapura, Korea
itu bukan prestasi komunikasi.
Itu memalukan secara intelektual.
Karena siapapun yang belajar ekonomi bahkan di level mahasiswa tahu:
jangan bandingkan pertumbuhan negara berkembang dengan negara maju.
Sizing-nya sudah beda.
Amerika tumbuh 2% itu sudah luar biasa.
Ruang tumbuhnya hampir habis. N
egara berkembang harusnya dibandingkan sesama negara berkembang.
Taiwan tumbuh 13% lebih dengan government spending hanya 3%.
Vietnam tumbuh 7% lebih dengan government spending di bawah 5%.
Sementara kita 5,61% dengan government spending naik 21,8% dalam satu kuartal.
Ketika pejabat bicara seperti itu market mendengar. Dan yang mereka dengar bukan kebanggaan.
Yang mereka dengar adalah sinyal bahwa pemerintah tidak jujur tentang kondisi yang sebenarnya.
Ketidakpercayaan itu mendorong
lebih banyak modal keluar.
Dan rupiah makin tertekan.
Solusi yang Ferry tawarkan:
Satu — benarin komunikasinya.
Bicara jujur dan objektif justru lebih dipercaya market daripada klaim yang mudah dibantah data.
Dua — struktur APBN harus dibenahi.
Belanja tidak efisien harus dipotong.
Kalau MBG dilanjutkan jalankan dengan cara paling efektif dan paling transparan.
Ruang fiskal tidak boleh terus tergerus oleh belanja yang tidak terukur.
Tiga — parkir dolar supaya tidak gampang keluar. Kebijakan DHE yang mulai dijalankan
adalah langkah benar.
Tapi insentifnya harus menarik
bukan hanya pemaksaan.
Empat — BI, OJK, dan Kemenkeu harus sinergi.
Jangan saling salah-salahan.
Jangan kebijakan satu lembaga
menabrak kebijakan lembaga lain.
Karena kalau tidak sinergi rupiah akan terus melemah bahkan ketika masing-masing sudah bekerja keras sendiri-sendiri.
Rupiah di Rp17.500 bukan karena satu orang salah atau satu lembaga gagal.
Ini kombinasi tiga lapis sekaligus dan selama ketiganya tidak ditangani bersama secara serius angka hari ini bukan yang terakhir.
Dan selama pejabat publik masih lebih sibuk membandingkan diri dengan
Amerika daripada jujur tentang kondisi domestik yang sebenarnya kepercayaan pasar tidak akan pulih.
Dan tanpa kepercayaan tidak ada intervensi BI yang cukup kuat untuk menahan rupiah sendirian.
CEK SIAPA YANG NYOLONG WIFI LO
Login ke router admin.
Cari menu "Connected Devices" atau "Client List."
Hitung.
Kalau lo tinggal sendiri tapi ada 7 device connected, ada tetangga numpang.
Ganti password. Sekarang.
Biasanya emak lo suka bagi2 password wifi ke tetangga pas lo ga di rumah.
@bangherwin Tergantung info dari siapa. Kalo grup taek yaman akan bilang itu benar. Kalo grup taek banteng akn bilang itu benar juga.
Mereka yg ketemu kok orang lain yg ribut
@edy_luki@msaid_didu@prabowo Prabowo aja buruk kok... mana dia tenangin rakyatnya.. menteri2 gaduh, pajak gak jelas, royalti lagu ngaco, dll.. emang dia peduli?
@BebySoSweet Mantap emang jokowi, udah pensiun aja pengaruhnya masih kuat. Bukti bahwa dia politicians hebat, tak tergantikan oleh siapapun. Bahkan si penulis threat ini juga mengakui pengaruh jokowi