Palung mariana tak cukup dalam bila dibandingkan senyummu.
Mentari jakarta juga kurasa tak pernah sehangat matamu.
Kekasih, meski ku tak pandai menyelam dan juga tak kuat menahan panas,
tapi dapat kupastikan bila bersamaku senyum manismu tak akan kubiarkan regas.
#sabdadinihari
Tidak, saya tidak mencintai kamu di universe lain.
Hanya ini, yang ini saja.
Yang ada di universe ini saja.
Sebab kamu di universe lain, tetap saja bukan kamu.
Pun saya hidup di universe lain,
Tetap kamu yang ada di universe ini yang pasti saya cari, pasti.
Bunga dipekarangan seakan membawa kembali ingatanku pada malam saat kudengar nafasmu ter engah,
Teriakan kecil yang terus membesar memaksaku terus memeriksa ponselku, adakah pesan darimu?
Belum pernah perasaan seperti ini mengunjungiku,
Adakah yang bisa membantuku melipat waktu?
Lalu dari setiap belukar yang saya injak, tiap duri yang saya telan, dan tiap beliung yang dengan sengaja saya terjang.
Masih ada saja yang berhasil membuat saya berkeringat dan terbata membaca apa yang sebenarnya ada didepan mata.
Musim semi? atau sekedar hujan di pagi hari?
Saya meninggalkan semua, mencampakan segala, lalu menggantinya dengan apa apa sekiranya pantas untukmu.
Saya tidak ingin kamu, dicintai oleh orang yang seperti saya. Itulah kenapa, saya memilih untuk berubah.
Terlepas dari apapun, saya hanya ingin kamu dicintai dengan pantas.
Ditiap pagi,
Sesaat setelah matahari meraba,
Persis seusai embun terakhir tercipta,
Saya terbangun sekali lagi, hanya untuk menyeka sunyi yang sedari pagi giat menutupi mimpi.
Lalu seperti biasa kau hadir, menyelesaikan mimpi lalu diam diam menyelinap masuk hingga memenuhi hati.
Saya tak akan memaki hujan sebab tak ditiap tiap hari ia membasahi tanah agar terus mewangi,
Saya juga tak akan memaki hujan sebab tak ditiap tiap hari ia turun dimalam hari.
Sesukanya saja, sebisanya saja, toh saya tetap cinta dengan hujan.
Pun sama denganmu,
Nona, mari sesekali kita mendahului tuhan.
Mari kita ciptakan bahagia yang berbayang, sebelum ketahuan.
Mari kita berdoa meminta didatangkan kesedihan,
Tapi sebelum didatangkan, mari berdansa, mari menenggak anggur bersama, mari bercinta.
Nona, apa ia masih tega mengabulkannya?
Gulungan ombak, lipatan awan juga desakan pasir yang seakan menggerilya mengantarkanku pada sebait doa haram yang terus ku semogakan,
“Semoga lelaki itu mampu mencintaimu, seperti saya”