untuk kamu
aku masih iri padanya
yang sudah di fase percaya
untuk aku
kamu yang hanya cinta aku tapi berusaha percaya
bukankah di atas cinta masih ada kata percaya?
lantas kapan aku menggapai kata percayamu?
100,000 #XRP Giveaway!!!!!
RETWEET AND FOLLOW FOR YOUR CHANCE TO GIVE 100,000 XRP to @XRP_Productions!!!
🚀🚀🚀
(Winner selected at random on September 1st)
GOOD LUCK! 🍀
Terik matahari dari pagi
Menunjukan bahwa bersama
Adalah kata-kata kita berdua
Aku sayang padamu
Dan aku akan kembali
Tapi kenapa kamu bilang kalau sayang tak akan meninggalkan
Sekali lagi maaf
Dulu yang ku buat selalu ceria
Kini ku buat menangis seperti ini
Malam-malam sebuah mimpimu
Kalo memang yang kau cari royalti
Berikan untuk anakmu yang sedang sakit
Berikan pada anakmu yang sedang terpuruk terbujur kaku
Kalau yang kau cari kebebasan
Itu pilihanmu, tapi tolong berfikir
pakai hati, bukan belati
Wahai awan-awan hitam gemerlap malam
Kukulutus dina bulu kanjut sedari dulu
Untuk kalian jangan pernah ada kata pisah
Bukankah lelaki dari dulu memilih wanita sudah siap dengan komitmen
Kalo sudah cerai
Susah cari orang yang keluarganya setuju dengan statusmu
Wahai ibu dari wanitaku
Aku ingin kau tahu
Bahwa anak mu telah ku jaga
Ku perhatikan bahagianya
Ku suapi makannya
Ku temani sakitnya
Jangan kau sedih lagi
tentang Sakitnya di masa lalu
Kini aku mewujudkan impianmu
Tentang doamu terhadap Tuhan
Yang baik.
Ada masanya di saat kita tua nanti
Nanti kita bercanda dan tertawa yaa
Mendengar cerita masa mudamu
Yang pasti bakal lucu ceritanya
Ada masanya
Nanti kamu yang tertawa bercerita
Aku yang menangis melihat sakit mu
Atau kita sama2 tersenyum melihat fana dunia
Ada masanya kau memafkannya
Menjadikan dia kawan
Sama sepertiku
Duduk manis kita bersama
Minum secangkir kopi
Lalu kita bercerita yang sudah2
dengan kekesalan yang tak perlu dianggap
Terima kasih puan
Ini, yang di namain sedang bersandiwara
Aku perduli
Mereka perduli
Aku pura2 tuli
Mereka tetap perduli
Aku tertawa
Mereka tertawa
Aku pura2 bahagia
Mereka tetap tertawa
Tuhan, kita potong generasi saja
Manusia sudah salah dari awal
Dia terbelenggu lesu
Terbaring sakit, lemas
Tak bertenaga, Di campakan
Di usir dari desa, bergantung hidup
Di kota jahanam
Tempat kamu bersandar
Itu aku , bukan tuhan
Biar aku yang mewakili
Tuhan menyaksikan