[NEW BLOG POST]
Aku menulis catatan untuk novel Mochtar Lubis, "Tanah Gersang" (1964). Ceritanya tentang tiga anak muda perkotaan yang luntang-lantung menghadapi kehidupan. Tokoh "ayah" dijadikan personifikasi kegagalan presiden RI pada masa itu.
https://t.co/hkMcmFbwcZ
Semalem selesai baca ini. Sebenernya premisnya simpel, ya: ibu yg ngidap parkinson, berusaha menyelidiki penyebab kematian anaknya-yg dia percaya dibunuh. Tapi di bawah permukaan ini, menurutku isunya lbh luas lg. Misal, buku ini mungkin bisa dilihat jg sbg alegori tentang bagaimana peran iman, status 'ibu', dan tubuh rapuh seringnya dijadikan alat untuk menjustifikasi kekerasan moral dan sosial thd perempuan. Atau bisa jg tentang dilema moral atas hubungan ibu-anak.
Scr gaya bahasa, jelas Piñeiro adalah pembaca sastra modernis/kontemporer: kalimat panjang, repetitif, yg kadang pendek dan putus, abstrak, tersengal di tengah paragraf yg bisa bertahan berhalaman2 tanpa rehat; dialog yg nyatu dgn narasi, semua jd aspek struktural yg punya efek cukup mencekik (meski blm se-ekstrem Krasznahorkai/Bernhard/Beckett) yg mungkin memang dipakai penulis buat gambarin-scr ga langsung-apa yg dirasain Elena.
https://t.co/I2tFcveNCE
Tiga kelinci berdiri di ruang tamu remang, setelahnya kata-kata bisa jatuh satu demi satu ke lantai seperti gigi patah dan begitulah~
Komedi atau apa yg bisa bikin kamu ketawa itu bukan cuma soal "selera", tapi soal "value". Kalo kamu punya "value" yg enggak empatik sama minoritas atau kelompok rentan, misalnya, ya kamu mungkin bakal ketawa dengan komedi begitu.
Akhirnya sempat selesaikan ini. Di sini bahas dikit regulasi selain harga buku, beberapa asosiasi (+ ngapain aja asosiasi² itu) dan pelajaran sastra di sekolah.
https://t.co/OqIV9T05Az