Riset menarik nih tentang kenapa angka kelahiran menurun di banyak negara.
Perempuan yg punya edukasi dan penghasilan bagus cenderung melihat punya anak itu memiliki banyak resiko. Ini by system ya bukan by religion.
Banyak hal dalam urusan rumah tangga yg situasinya memberatkan posisi perempuan.
Ini bukan cuma sekedar pasangan harus baik atau gak ya. Kritiknya bahkan model pernikahan saat ini tuh uda masuk ke tahap 'Market Failure'
Insentif yg diberikan pun masih blm menyelesaikan masalah yg ada.
Pemerintah melihat perempuan merasa punya anak mahal makanya dikasih bantuan cash dll. Padahal yg lebih mendesak justru bagaimana memastikan perempuan tetap bisa mengejar aktualisasi dirinya dgn berbagi tanggung jawab ke pasangannya. Bagaimana misalnya menyediakan childcare gratis sehingga pembagian tugas mengawasi anak bisa dilakukan bergantian antara ibu dan ayah.
Bayangkan perempuan harus meninggalkan pekerjaannya dan identitasnya, sementara banyak laki-laki masih punya banyak kesempatan untuk mempertahankan keduanya.
Bahkan ketika pasangannya baik pun tapi karena suatu dan lain hal tetap harus berpisah, perempuan seringkali secara politik,sosial, ekonomi dan budaya masih harus menanggung tanggung jawab lebih besar.
@_BangFu@FantasyTactical Maaf Bang izin berpendapat tidak semua supporter Argentina pro Zionis, contoh kayak Paus Fransiskus dari Argentina yang selalu mengkritik keras zionis. Dalam sejarah pimpinan Katolik, beliau yang selalu konsisten mengkritik keras Zionis.
@_BangFu Maaf Bang izin berpendapat. Messi dan Ronaldo gak akan sehebat ini kalau tidak saling bersaing. Ada pepatah, seseorang orang dikatakan hebat bukan diukur dari kualitas temannya, tapi sehebat apa kualitas kompetitornya.๐
Kemiskinan struktural itu ngaruh bgt sih ke hubungan percintaan. Tapi bukan berarti sesuatu yg permanen. Nasib orang BISA BERUBAH.
Pingin cerita pengalaman pas SMA pernah dekat sama anak tukang becak di Surabaya.
Kebetulan kami sama sama sekolah di SMAN 9. Beliau senior - satu tahun di atas saya. Kami tuh saling suka waktu saya masih SMA kelas 1 dan beliau itu SMA kelas 2.
Kesenjangannya sungguh terasa ya. Saya kebetulan di masa masa itu bukan yg KAYA RAYA BANGET, tp pulang pergi sudah ada sodara yg antar jemput pake mobil. (Meskipun ini mobil bekas ya. Mobil kijang. Mobil pertama keluarga kami)
Dia selalu blg, 'Kayana kamu ga cocok deh sama saya. Kamu anak orang punya'
Saya blg ke dia, 'Gak ah. Saya jg bukan org kaya. Mobil saya aja mobil bekas. Bapak belinya dr tabungan biar saya dan mama ga kepanasan kalo saya ke sekolah dan mama ke kantor'
Tapi tetep itu bikin dia gak pede dan tetep bikin saya juga kesel.
Akhirnya sekalinya saya minta buat saya nganter dia ke rumah. Sampe lah kami ke daerah Nginden. Dimana di salah satu sudutnya ada rumah-rumah pinggiran sungai yg terbuat dr campuran bata juga triplek.
Rumahnya kecil. Yg paling mencolok, ada becak di depan rumahnya.
Dia blg, 'Ini rumahku. Bapakku tukang becak aja. Jadi ya aku paling cuma bs sampe SMA'
Saya blg, 'Gak ah. Bisa kok kuliah. Kan ada beasiswa. Jgn putus asa okay'
Gak lama setelah itu, hubungan kami ketauan sama mama saya. Beliau marah besar. Dia bilang NAIF KAMU. Mau makan apa kamu ca pacaran sama yg ga punya masa depan. Bahkan keluarganya aja jg masih susah. Kamu gak tahu rasanya menikah dan berjuang.
Karena mama marah bahkan sampe ke sekolah marah2 ke senior saya ini jg, kami memutuskan untuk gak berteman dekat lg.
20 tahun kemudian, senior saya ini menyapa saya di Facebook.
'Stela, aku uda jadi dosen loh di UPN Surabaya. Aku sempat ketemu Mama pas kapan hari di mall'
Saya cuma blg, 'Hebat mas. Bener kan kalo gak putus asa pasti bisa'
Dia jawab lagi, 'Iya bener. Mama kamu juga uda ramah bgt pas ketemu'
Kami berdua tertawa. Wkwkwkwkw
Intinya kemiskinan struktural itu jahat. Itu hal paling menakutkan bukan cuma buat yg punya hubungan tapi juga keluarganya.
Semoga teman2 di luar sana punya cara baik untuk terus berjuang dan memperbaiki hidup ๐๐ป
Messi tidak pernah kampanye : โMessi adalah Argentina dan Argentina adalah Messiโ.
Dia tidak terkena penyakit personalisasi. Artinya berhasil melawan feodalisme dari dalam dirinya sendiri.
Ini bisa dijadikan cermin bening bagi dunia non sepakbola.
Belajar dari โSyekh Messiโ.
Namanya giri, konsep tentang kewajiban moral dan tanggung jawab sosial kpd sesama. Saat menonton pertandingan di stadion negara lain, suporter Jepang memposisikan diri mereka sbg tamu.
Sebagai tamu yg baik, mereka membawa value untuk respek kpd tuan rumah. Salah satu wujudnya adl memastikan tempat yg mereka kunjungi kembali dlm keadaan bersih. Ini adl bentuk apresiasi atas keramahtamahan alias omotenashi tuan rumah.
Meiwaku wo kakenai, jangan merepotkan orang lain adl salah satu doktrin terkuat. Meninggalkan sampah berserakan artinya memaksa petugas kebersihan stadion bekerja keras memungut sisa makanan mereka. Kalau jadi beban orang lain atas kelalaian sendiri, bagi orang Jepang, itu hal yg sangat2 memalukan.
Bagaimana konsep dan doktrin ini bisa meresap dan berjalan secara alamiah?
Ya dgn latihan terus-menerus dan bertahun2 sejak kecil. Nggak berhenti pd ceramah atau pidato omong kosong doang..
Seperti ini lah yang saya maksud di tulisan sy beberapa waktu lalu soal film "Pesta Babi".
Ketidak adilan yang dirasakan warga Riau itu nyata, dari dulu. Di era Orba siapa yg merani bersuara seperti Bupati ini?
Makanya evaluasi lah kritik di film tsb