“Pada suatu hari, aku pernah tertidur di pekuburan. Dalam tidurku, aku mendengar suara, ‘Ambillah rantai, masukkan ke mulutnya, dan keluarkan dari bawahnya.’
Maka, ada mayat yang merintih, ‘Wahai Tuhanku, bukankah aku dahulu salat? Bukankah aku membaca al-Qur’an? Bukankah aku berhaji ke Baitullah?’
Lalu terdengar suara menjawab, ‘Benar. Tapi ketika engkau sendirian engkau bermaksiat dan tidak merasa diawasi oleh-Ku.’”
—Syekh Ali al-Khawas salah satu guru Imam Sya’rani
Sebetulnya variabel ketaatan itu bukan karena sisi lokasi atau koordinat tertentu, tapi bergantung dengan tingkat kesulitan dan pengorbanan seseorang.
Dalam kaidah fiqh, ada asas al-ajru bi qadri al-ta'ab (pahala sebanding dengan tingkat kesulitan).
Mengapa shalat di Masjidil Haram bernilai 100.000x lipat? Karena ada pengorbanan (effort/kulfah) yang luar biasa besar berupa harta, jarak, waktu, sejarah, dan tenaga untuk bisa sampai ke sana.
Misalnya, nonton konser langsung di stadion, tentu harganya lebih mahal, padahal lagunya sama persis dengan yang diputar gratis di Spotify, Youtube, atau platform lainnya.
Belim lagi dalam sisi sosial, shalat berjamaah (27x) tentu lebih mahal nilainya daripada shalat sendiri (kesalehan yang dikerjakan secara individu) karena di dalam shalat jamaah terdapat:
meruntuhkan ego, menyamakan saf antara si kaya dan si miskin, serta ada unsur kedisiplinan kolektif.
Wajar jika apresiasi rewardnya jauh lebih tinggi.
Dan pada dasarnya, Islam tidak menggantungkan keabsahan ibadah pada tempat tertentu, asalkan memenuhi syaratnya, sedangkan tempat hanya memberi nilai keutamaan (fadhilah).